Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemenperin Perkuat Sentra IKM Daerah, Dorong Hilirisasi dan Ekspor Produk Lokal
Oleh : Redaksi
Sabtu | 05-04-2025 | 13:44 WIB
Dirjen-IKMA.jpg Honda-Batam
Dirjen IKMA Kemenperin, IKMA), Reni Yanita. (Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan sentra industri kecil dan menengah (IKM) di berbagai daerah untuk meningkatkan daya saing sektor IKM nasional.

Upaya ini dilakukan dengan mendorong hilirisasi bahan baku lokal serta memperkuat komunitas pelaku industri di wilayah-wilayah potensial.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan pihaknya aktif bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menjaga keberlangsungan produksi di sentra-sentra IKM. "Kami memberikan berbagai bentuk fasilitasi, mulai dari infrastruktur hingga promosi, agar pelaku IKM dapat terus tumbuh dan berdaya saing," ujarnya dalam pernyataan resmi, Sabtu (5/4/2025).

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menambahkan pengembangan sentra IKM banyak terbantu melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang IKM. Dukungan ini mencakup penyediaan bahan baku, mesin produksi, rumah produksi, hingga fasilitas pemasaran dan promosi.

Salah satu contoh konkret adalah Sentra IKM Olahan Pangan di Dusun Pancor Dao, Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, NTB, yang telah mendapat dana DAK pada 2023. Sentra ini dikelola oleh Koperasi Produsen Syariah Sentra Olahan Pangan, sementara asetnya dikelola oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lombok Tengah.

Menurut Reni, sentra tersebut semula berfokus pada olahan berbasis umbi-umbian, terutama singkong, namun kini telah menjadi fasilitas produksi bersama berbagai komoditas pangan seperti roti, kue, bakso, kerupuk udang, dan kemiri. Mesin produksi modern seperti oven, mixer, vacuum frying, dan peralatan pengemasan turut menunjang peningkatan kapasitas produksi yang kini mencapai lebih dari 18 ton per tahun. Jumlah tenaga kerja juga meningkat tiga kali lipat menjadi 30 orang.

"Sentra ini mampu memperluas jangkauan pasar dan mendorong kemitraan antarpelaku IKM, termasuk penguatan rantai pasok yang berkelanjutan," jelas Reni.

Ia juga menyebut, pada awal 2025, salah satu pelaku IKM di sentra tersebut berhasil mengekspor 10 ton kemiri ke Jeddah, Arab Saudi, membuka peluang mendatangkan pembeli (buyer) langsung ke lokasi.

Secara keseluruhan, Provinsi NTB telah memiliki 20 sentra IKM yang menerima DAK sejak 2016 hingga 2024, tersebar di 10 kabupaten/kota seperti Lombok Barat, Bima, Sumbawa, hingga Mataram. Komoditas yang dikembangkan meliputi tekstil, kerajinan, logam, pangan, perhiasan, hingga garam beryodium.

Sekretaris Direktorat Jenderal IKMA, Yedi Sabaryadi, menjelaskan usulan DAK dilakukan melalui aplikasi KRISNA oleh pemerintah daerah dengan koordinasi Bappeda. Usulan yang diajukan harus memenuhi readiness criteria dan sesuai tema prioritas nasional.

"Kami harapkan daerah dapat memanfaatkan mekanisme ini untuk memperkuat pengembangan sentra IKM mereka," katanya.

Sentra IKM Olahan Pangan di Lombok Tengah juga telah menerima tambahan fasilitas seperti area penjemuran pati singkong, paving block, alat jahit karung, kemasan, bibit ubi kayu, hingga alat produksi tambahan. Fasilitas tersebut mendukung kegiatan produksi dan ekspor, sekaligus mendorong keterhubungan antar sektor industri dan pelaku usaha di daerah.

Kemenperin menilai keberhasilan sentra ini bisa menjadi model pengembangan sentra IKM serupa di daerah lain. Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, sentra IKM diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus membuka akses pasar global bagi produk-produk Indonesia.

Editor: Gokli