Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menanti Vaksin Demam Berdarah
Oleh : dd/tc
Jum'at | 02-11-2012 | 11:26 WIB

JAKARTA, batamtoday - Demam berdarah masih menjadi penyakit paling mematikan di Indonesia dengan rata-rata kematian 1.125 jiwa pada 2009-2011. Namun, harapan baru kini muncul dari vaksin yang mampu menangkal virus demam berdarah. 


Vaksin buatan Sanofi, perusahaan obat asal Prancis, menawarkan kekebalan terhadap virus dengue. Sayangnya, vaksin yang masih dalam taraf uji coba ini belum efektif untuk semua serotipe virus. 

"Vaksin hanya terbukti ampuh untuk tiga serotipe virus dengue, kecuali DENV-2," kata Alain Bouckenooghe, Kepala Penelitian dan Pengembangan Vaksin Sanofi Pasteur di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, seperti dikutip dari Tempo.Co, JUmat (2/11/2012).

Kerja sama antara Sanofi Pasteur, divisi vaksin Sanofi, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman diharapkan mampu mengembangkan vaksin bersifat tetravalen, yaitu vaksin yang sanggup menangkal empat serotipe virus dengue, yakni DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4.

Sanofi Pasteur menyediakan peralatan laboratorium kepada Eijkman untuk meneliti virus demam berdarah. Peralatan berteknologi canggih ini dapat melakukan proses deteksi dan serotyping virus dengue secara cepat dan akurat. 

"Ini alat kedua yang digunakan setelah di Brasil," kata Tedjo Sasmono, Kepala Laboratorium Dengue Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Sistem alat tersebut terprogram dengan sangat baik sehingga dapat menghilangkan tingkat kesalahan manusia. Alat ini mampu menganalisis 32 sampel darah sekaligus untuk mengenali virus dengue di dalamnya.

"Hanya dalam satu jam, virus dengue dapat dikenali sampai serotipenya," ujar Tedjo.

Penelitian dengan Eijkman merupakan tindak lanjut uji klinis vaksin buatan Sanofi yang telah dilakukan bersama dengan Kementerian Kesehatan setahun terakhir.

Dalam penelitian klinis vaksin berkode CYD14 tersebut, yang berlangsung 3 Juni 2011-10 September 2012, vaksin diberikan kepada 1.850 anak-anak sehat berusia 2-14 tahun di Indonesia. Sekitar dua per tiga dari jumlah anak itu disuntik vaksin, sisanya disuntik plasebo.

Anak-anak itu diberikan tiga kali suntikan vaksin, masing-masing sebanyak 0,5 cc dengan interval enam bulan. "Lalu diperiksa virologinya," ujar Sri Rezeki S. Hadinegara, peneliti senior demam berdarah Universitas Indonesia, yang terlibat aktif dalam penelitian tersebut.

Uji klinis vaksin CYD14 sudah memasuki tahap III, satu tahap lagi sebelum bisa dipasarkan ke masyarakat luas. Pada tahap ini, tim ilmuwan meneliti efikasi vaksin, yakni membandingkan kejadian infeksi demam berdarah di kelompok sampel vaksin dan plasebo. Mereka meneliti respons sistem imun anak-anak yang telah divaksinasi.

Penelitian berskala besar ini dilakukan di lima negara, yakni Thailand, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Total sampel dari Asia mencapai 10 ribu anak. Hasil uji coba di Asia ini akan melengkapi uji coba serupa di kawasan Amerika Latin dengan sampel sebanyak 20 ribu. 

Di tiap negara, uji coba dilakukan secara acak di beberapa lokasi. Di Indonesia, uji coba dipusatkan di DKI Jakarta, Bandung, dan Denpasar, tiga kota dengan kasus demam berdarah tertinggi. 

Sri mengatakan uji coba klinis vaksin CYD14 harus dipantau minimal selama tiga tahun. Setahun pertama, setiap anak yang menderita demam harus dicatat dan dideteksi secara intensif untuk memastikan disebabkan oleh demam berdarah atau penyakit lain. Pemantauan selanjutnya, selama dua tahun, bersifat hospitalize surveillance. "Hanya dilakukan terhadap anak-anak yang dirawat di rumah sakit akibat dengue," kata dia.

Sri mengatakan uji klinis di lapangan baru saja kelar. Belum ada petunjuk apa pun yang bisa diungkap lantaran penelitian belum sepenuhnya rampung. 

"Ada beberapa anak yang positif dengue, tapi kami belum tahu apakah mereka termasuk kelompok yang diberi vaksin atau plasebo," dia mengungkapkan temuan sementara uji klinis CYD14.

Uji klinis vaksin CYD14 ini merupakan kelanjutan dari penelitian sejenis yang dilakukan Sanofi Pasteur di Thailand, 9 Februari 2009-9 Februari 2010. Di Negeri Gajah Putih, vaksinasi CYD diberikan secara acak kepada 4.002 anak-anak usia 4-11 tahun, dengan perbandingan vaksin dan plasebo 2:1. Semuanya divaksinasi tiga kali, dengan interval enam bulan, lantas dipantau hingga 25 bulan setelahnya.

Penelitian di Thailand, yang dipublikasikan secara online dalam jurnal Lancet edisi September 2012, menunjukkan vaksin CYD belum bisa diaplikasikan lebih jauh. Penelitian lanjutan di Indonesia akan menentukan keampuhan vaksin dalam menangkal empat serotipe virus dengue.

Tim Eijkman bertanggung jawab menganalisis sampel darah anak-anak, termasuk memberikan dukungan penuh untuk memantau efikasi dan keselamatan uji coba klinis vaksin CYD14. Tedjo mengatakan sebagian besar sampel akan diperiksa di Indonesia, hanya 10 persen sampel yang dikirim ke luar negeri untuk kontrol kualitas.

Pengembangan vaksin tetravalen ini diharapkan dapat membantu pemberantasan demam berdarah di Indonesia. Data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan, selama 2009-2011, terjadi 126.908 kasus demam berdarah di Indonesia. Ondri Dwi Sampurno, Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, menyatakan rata-rata kematian mencapai 1.125 jiwa. 

"Indonesia adalah negara kedua tertinggi yang terkena dengue (demam berdarah) setelah Brasil," kata Jean-Louis Grunwald, Wakil Presiden Sanofi Pasteur Asia Pasifik dan Jepang.

Sri Rezeki mengatakan penyakit yang disebabkan virus Flavivirus ini gampang menyebar lantaran dibawa nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Dua spesies nyamuk ini berperan sebagai vektor pembawa virus dengue dan menularkan demam berdarah ke lebih dari 112 negara di kawasan tropis dan sub-tropis.

"Setiap tahun ada 220 juta penduduk yang terinfeksi virus demam berdarah. Dua juta di antaranya adalah anak-anak," ujar Sri. 

Pada 2006, 57 persen kasus demam berdarah di seluruh dunia berasal dari Indonesia. Bersama Thailand dan Vietnam, Indonesia termasuk tiga negara dengan kasus demam berdarah tertinggi di Asia Tenggara.

Penanggulangan demam berdarah bukan perkara gampang. Mirip dengan HIV, demam berdarah adalah penyakit yang hingga kini belum ada obatnya. Khusus di Indonesia, penanggulangan demam berdarah menjadi lebih sulit lantaran ada empat serotipe virus yang bersirkulasi tiap tahun. "Ini menyulitkan bikin vaksin," kata Profesor Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI ini.

Bagi Kementerian Kesehatan, belum ditemukannya vaksin menjadi hambatan dalam penanggulangan penyakit yang kerap menyerang anak-anak dan mengakibatkan kematian karena perdarahan ini. "Sampai saat ini belum ada vaksin teregistrasi. Hanya ada beberapa vaksin yang diuji coba, tahap pre-klinis dan klinis," ujar Ondri.