Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Jajal Sensasi Wisata Kuliner Ambon, Touring 100 Kilometer pun Tak Terasa!
Oleh : Saibansah
Selasa | 08-03-2022 | 08:04 WIB
A-AKBAR-WISKUL-AMBON.png Honda-Batam
Akbar (kiri) bersama Amir dan advokat M Tuhri Leisubun di depan Gong Perdamaian, sebagai salah satu ikon Ambon. Dan ikan segar yang akan jadi sajian wisata kuliner khas Ambon. (Foto: Ist)

JANGAN coba-coba menjajal wisata kuliner di Ambon Provinsi Maluku, kalau tak mau terpikat. Selain terhampar aneka destinasi wisata dan ikon kota, di Ambon juga tersedia beragam wisata kuliner. Apa sajakah itu? Berikut catatan wiskul seorang pengusaha kuliner sekaligus pecinta touring, Akbar.

Destinasi pertama yang dipilih Akbar adalah Jembatan Merah Putih. Karena ini adalah ikon baru Provinsi Maluku, yang diresmikan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi), Senin, 4 April 2016 lalu.

Jembatan Merah Putih berdiri megah melintasi Kota Ambon dan menjadi jembatan kabel terpanjang di Indonesia.

"Kami kembali ke pusat kota untuk mengambil gambar di Gong Perdamaian Dunia yang ke-39," ujar Akbar, Selasa (8/3/2022).

Gong Perdamaian Dunia yang terletak di ACC (Ambon City Centre) ini dibuat sebagai peringatan sejarah kelam kerusuhan sosial bermotif SARA di Ambon, tahun 1996-2002 lalu.

"Ini adalah ikon kedua yang kami kunjungi."

BACA JUGA: Jalan Darat Jelajahi Setengah Negeri Turki Sejauh 2.500 Kilometer

Kemudian, pilihan touring selanjutnya adalah pantai. Ada satu pantai yang tak boleh dilewatkan bila sudah sampai di Ambon. Apakah itu? Pantai Natsepa.

Di sini kita bisa menikmati kelapa muda dan rujak buah bumbu kacang. Uniknya, setelah buah rujak habis, si mama penjual rujak baru memberikan sendok.

"Untuk makan habis bumbu kacangnya," kata si mama penjual rujak.

Di Pantai Natsepa ini terdapat Natsepa Resort. Ya, resort inilah yang kami pilih untuk check-in. Meletakkan koper dan istirahat sebentar, bersiap untuk melanjutkan mengunjungi target destinasi lainnya.

Kami pun meluncur ke arah destinasi wisata air panas belerang di Kecamatan Tulehu.

Ternyata, akses jalan menuju ke sana melewati para mama penjual duren Ambon. Buah berduri yang tersusun rapi itu seolah memanggil kami untuk berhenti dulu.

"Tentu, kami berhenti untuk mencicipi duren Ambon yang bertekstur sedang, tapi manis. Harganya pun murah pula, antara RP 35.000 - Rp 75.000 per buah," tutur Akbar didampingi istri tercinta.

Meski tidak luas, Kecamatan Tulehu ini ditakdirkan Tuhan sebagai tempat lahirnya para talenta pemain sepak bola terkenal Indonesia. Sebut saja Hendra Bayauw, Hasyim Kipuw, Dani Lestaluhu, Alfin Tuasalamony dan Imran Nahumarury.

Sebelum sampai ke air panas, berjejer para penjual cakalang fufu yang tersusun rapi dan menggiurkan. Lagi-lagi, kami tak bisa menahan diri untuk tidak berhenti sejenak.

Apalagi, kalau bukan untuk mencicipi hidangan cakalang asap berbumbu yang sebenarnya khas Minahasa itu. Puas mencicipi cakalang asap, kami bergerak kembali ke pemandian air panas.

Sayangnya, ketika perjalanan kami sampai di lokasi air panas belerang Tulehu, sudah banyak sekali para pengunjung yang berendam di sana. Maka, demi menjaga prokes dan demi kesehatan, rencana berendam air panas itu pun kami urungkan.

Tapi, perjalanan wisata kuliner kami kini berlanjut kembali ke pusat kota. Targetnya adalah mencicipi makanan khas Ambon. Ikan kuah kuning yang terkenal maknyus itu. Dan ternyata, memang benar-benar maknyus.

"Wiskul ini membuktikan bahwa Kepulauan Maluku memang kaya dengan hasil ikan laut dan rempah-rempah," kata Akbar, mantap.

BACA JUGA: Menembus Jejak Sejarah Kalteng-Kaltim 194 KM dengan Mitsubishi Triton

Dan di Ambon ini memang terkenal dengan masakan khas yang berasal dari ikan, salah satunya yaitu ikan kuah kuning tadi.

Sesuai namanya, sajian olahan ikan segar ini berwarna kuning, cenderung oranye yang berasal dari rempah kunyit.

Sajian ikan yang dimasak dengan daun kemangi, bumbu, rempah serta perasan jeruk nipis ini rasanya sedap dan menyegarkan. Ini memang sensasi wisata kuliner yang luar biasa maknyus!

Karena sensasi kuliner di Ambon yang semuanya mengesankan itu, tak terasa perjalan yang kami tempuh dengan beberapa kali berhenti untuk berkuliner-ria, sudah lewat 12 jam dan 100 kilometer. Tapi, tidak terasa!

Editor: Dardani