Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pentingnya Terus Mengingatkan Masyarakat Agar Jangan Lengah
Oleh : Opini
Sabtu | 16-10-2021 | 14:16 WIB
A-Ilustrasi-herd-imunity.jpg Honda-Batam
Ilustrasi herd immunity. (Foto: Ist)

Oleh Ade Istianah

MASYARAKAT diminta untuk selalu disiplin Prokes meskipun kasus Covid-19 terus mengalami penurunan. Kepatuhan tersebut perlu untuk terus dijaga karena pandemi virus Corona masih berlangsung sekaligus mencegah gelombang ketiga Covid-19.

Prof. Wiku Adisasmito Selaku Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 kembali mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk tidak lengah dan larut dalam euforia berlebih dalam merespons penurunan kasus Covid-19.

 

Ia meminta kepada pemerintah dan masyarakat untuk mengambil pelajaran dan penanganan kasus Covid-19 di sejumlah negara di dunia seperti India, Jepang, Vietnam dan Turki.

Meskipun tantangan yang dihadapi masing-masing negara berbeda, namun seluruh negara mengalami tantangan yang serupa yakni munculnya varian Delta yang diperparah dengan adanya laju penularan akibat aktifitas masyarakat yang kembali normal.

Di India, kenaikan kasus terjadi karena masyarakat di sana larut dalam euforia keberhasilan negara dalam menurunkan kasus pada lonjakan pertama. Sehingga masyarakat di India merasa dan cenderung beraktivitas tanpa mengindahkan protokol kesehatan, terutama pada kegiatan keagamaan dan kegiatan politik.

Karena euforia tersebut, laju vaksinasi cenderung menurun dibandingkan saat lonjakan kasus pertama. Pemerintah India pun kemudian mengambil sejumlah langkah penanganan seperti meningkatkan testing, kembali menerapkan wajib masker, menggencarkan vaksinasi dan menerapkan lockdown.

Sementara di Jepang telah mengalami lonjakan kasus ketiga pasca pelaksanaan olympic games. Meskipun ajang olahraga tersebut digelar dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Tetapi hal tersebut mengubah kebiasaan masyarakatnya yang kemudian menjadi lebih sering berkumpul untuk menonton pertandingan baik di restoran, kedai, maupun bar. Selain itu, cakupan vaksinasinya juga masih rendah.

Wiku menuturkan, Jepang berhasil menurunkan kasus setelah menerapkan emergency lockdown tingkat nasioal dan meningkatkan cakupan vaksin serta testing. Sedangkan di Vietnam, rendahnya jumlah kasus selama 2020 dan awal 2021 menyebabkan euforia masyarakat yang berasumsi bahwa Vietnam telah berhasil mengeradikasi Covid-19.

Aktivitas masyarakat yang telah kembali normal pun mempercepat penularan varian delta di negara tersebut. Akibatnya, kluster masih bermunculan seperti kluster keagamaan.

Untuk menghadapi lonjakan kasus tersebut, Vietnam melakukan upaya lockdown ketat, pelaksanaan testing massal dan pengerahan tentara nasional dalam mengawasi pelaksanaan lockdown.

Sementara itu, di Turki lonjakan kasus terjadi karena adanya perayaan tradisi keagamaan, yakni berkumpul serta mengunjungi keluarga yang kemudian meningkatkan potensi penularan varian delta.

Kenaikan kasus juga terjadi karena dibukanya akses untuk turis internasional yang tidak dibarengi dengan skrining ketat pada pelaku perjalanan, kewajiban karantina dan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Sementara di Indonesia, lonjakan kasus terjadi pasca liburan Idul Fitri yang diikuti peningkatan mobilisasi serta kegiatan berkumpul dan mengunjungi keluarga. Pemerintah pun akhirnya menerapkan kebijakan berlapis.

Yakni pembatasan pelaksanaan kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi hingga tingkat kabupaten atau kota, pembatasan perjalanan dalam dan luar negeri, penguatan fasilitas pelayanan kesehatan dan penyediaan obat-obatan serta alat kesehatan dan juga penyediaan tempat isolasi terpusat di bberapa daerah dengan kasus terkonfirmasi positif yang masih tinggi.

Prof Wiku menilai, kebijakan berlapis tersebut menjadi kunci keunggulan Indonesia dalam menangani pandemi dibandingkan dengan negara lainnya. Dari kondisi pandemi di sejumlah negara lainnya tersebut, Wiku juga meminta kepada pemerintah dan masyarakat agar dapat mengambil pelajaran.

Euforia terhadap turunnya kasus Covid-19 juga tidak boleh menjadikan pemerintah dan masyarakat lengah. Protokol kesehatan justru harus lebih disiplin diterapkan mengingat kegiatan masyarakat yang sudah berjalan normal, seperti aktifitas berbelanja hingga dimulainya aktifitas pembelajaran tatap muka di sekolah dan universitas.

Tentu saja hal tersebut membutuhkan pengawasan secara ketat pada pelaksanaan protokol kesehatan di setiap aktifitas masyarakat, khususnya pada kegiatan keagamaan, wisata, kegiatan sosial dan juga ekonomi. Wiku juga meminta agar pembukaan kegiatan pariwisata khususnya pada turis asing harus dilakukan dengan hati-hati.

Pembukaan pintu masuk negara pun juga harus disiapkan dengan matang, mulai dari proses skrining ketat pelaku perjalanan hingga memastikan protokol kesehatan diterapkan dengan ketat baik di transportasi, penginapan, hingga objek wisata.

Meski angka terkonfirmasi positif covid-19 telah mengalami penurunan di beberapa tempat, tentu saja protokol kesehatan harus tetap diindahkan, hal ini tentu saja sebagai langkah antisipasi terhadap potensi adanya pandemi covid-19 gelombang ketiga.

Selain itu vaksinasi juga harus digencarkan untuk mengejar status herd immuity.*

Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini Jakarta