Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Stop Euforia Meski Memasuki PSBB Transisi
Oleh : Opini
Selasa | 30-06-2020 | 13:52 WIB
psbb-transisi.jpg Honda-Batam
Ilustrasi PSBB Transisi. (Foto: Suara.com)

Oleh Raavi Ramadhan

MASA PSBB Transisi membuat banyak orang bergembira karena boleh beraktivitas kembali di luar rumah.

Namun masih ada yang salah kaprah dan lalai, mengira semua kembali normal, padahal masih transisi. Semua orang masih wajib pakai masker saat keluar rumah, walau hanya pergi ke warung tetangga dan harus menjaga kebersihan serta imunitas tubuh.

 

PSBB transisi yang dimulai sejak setelah lebaran membuat banyak orang merasa lega karena tidak harus berdiam diri di rumah. Beberapa tempat umum seperti Bank, pasar, dan pusat perbelanjaan juga kembali dibuka, agar roda ekonomi berjalan kembali. Masyarakat tentu merasa senang karena bisa belanja dan jalan-jalan lagi.

Namun kelonggaran di masa PSBB transisi malah membuat banyak korban bertumbangan. Tak kurang dari 1.000 orang terjangkit virus covid-19 setiap harinya. Ruang isolasi pasien corona di sebuah RS di Surabaya nyaris penuh. Ketika ada pasien yang sembuh, beberapa jam kemudian diisi lagi.

Sementara di sebuah RS di Kalimantan, ruang perawatan pasien covid-19 juga penuh. Karena tidak ingin menolak pasien, maka OTG (orang tanpa gejala) yang masih menunggu hasil tes swab di Rumah Sakit, terpaksa dipulangkan. Mereka harus melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Apakah ini berarti PSBB transisi adalah sebuah kesalahan? Jangan salahkan PSBB transisinya, namun lihat dulu bagaimana perilaku masyarakat. Karena kenyataannya, masih banyak yang lalai dan tidak memakai masker atau faceshield ketika berada di luar rumah.

Jika ada yang pakai masker, malah sering dilepas dengan alasan pengap, atau hanya dipakai ketika berkendara saja. Ketika sampai di kantor malah dilepas. Padahal masih harus dipakai karena bisa jadi di kantor ada yang membawa bibit virus covid-19.

Masyarakat yang salah kaprah ini menganggap masa transisi ini sudah aman, padahal kenyataannya penyakit corona belum pergi dari Indonesia. Vaksinnya juga belum ditemukan.

Jadi seharusnya kita masih tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti rajin mencuci tangan atau membawa hand sanitizer ketika bepergian. Tetaplah memakai masker dan jaga jarak ketika berada di keramaian.

Wakil Presiden KH Maruf Amin juga menyayangkan euforia masyarakat ketika menghadapi PSBB transisi. Menurutnya, orang-orang seharusnya malah lebih ketat melaksanakan protokol kesehatan.

Namun yang terjadi malah sebaliknya. Bahkan ketika ada petugas yang datang untuk melakukan rapid test, malah diusir. Belum lagi ada kasus ketika jenazah orang yang kena penyakit corona malah diambil paksa oleh keluarganya dari Rumah Sakit. Mereka tidak percaya bahwa almarhum meninggal karena kena serangan virus covid-19.

Tingkah masyarakat yang seenaknya sendiri ini malah berbahaya karena dikhawatirkan akan ada serangan covid-19 gelombang kedua. Bahkan sekarang orang yang kena corona tidak menunjukkan gejala apa-apa seperti demam atau sesak napas, tapi ketika melakukan tes swab, hasilnya positif. Mereka disebut OTG alias orang tanpa gejala. Rupanya virus covid-19 sudah bervolusi jadi lebih ganas.

Jangan sampai keadaan di Indonesia jadi seperti di Wuhan yang kena serangan corona gelombang kedua. Ketika jumlah pasien makin banyak dan masyarakat tidak bisa mematuhi protokol kesehatan, apa mau diwajibkan untuk stay at home lagi? Atau yang lebih parah, Indonesia malah bisa di-lockdown karena pasien corona membludak. Anda tentu menjawab tidak.

Masa PSBB transisi jangan dijadikan alasan untuk bergembira dan melepas masker begitu saja. Euforia masyarakat yang kebablasan malah memakan lebih banyak korban, karena jumlah pasien melonjak drastis akibat mereka kurang disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. Tetaplah pakai masker dan mematuhi aturan seperti saat awal pandemi Covid-19.*

Penulis aktivis Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini Jakarta