Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Renungan Diri di Tengah Pandemi
Oleh : Opini
Kamis | 21-05-2020 | 11:01 WIB
zainudin-poltek.jpg honda-batam
Dr. H. Muhammad Zaenuddin, S.Si., M.Sc. (Foto: Ist)

Oleh Dr. H. Muhammad Zaenuddin, S.Si., M.Sc.

BILA tim medis sudah menjerit dalam hati, para relawan kian frustasi, serta lonjakan korban yang kian menyayat hati, masih tersisakah hati nurani? Setidaknya berikan sedikit rasa emphati.

Bayangkan jika kita bagian keluarga tim kesehatan yang telah menjadi korban, ataukah merasakan bagaimana anak-anaknya yang berbulan-bulan tak merasakan buaian kasih sayang.

Bahkan bisa jadi, untuk selamanya mereka tak kan kembali pulang. Mereka berjuang, untuk sebuah janji kemanusiaan. Mereka berkontribusi nyata untuk arti sebuah kehidupan. Janji kepada negara dan Tuhan telah mereka tunaikan.

Kita? Sebagian kita, masih sibuk berdebat dengan berbagai alibi, asumsi, dan opini. Data dan argumen medis diabaikan, bahkan bagi sebagian, dianggap rekaan. Logika dan argumentasi dibangun sendiri, berdasarkan asumsi yang dimengerti sendiri.

Fatwa ulama terkemuka nasional maupun internasional tak sepenuhnya diikuti, padahal tak beda dengan fatwa para ulama panutan yang selama ini mereka ikuti. Uji nyali pemerintah dipertaruhkan di sini.

Data medis sudah disodorkan dan fatwa keagamaan sudah diberikan, maka demi kemaslahatan, apapun keputusan harus ditegakkan. Ketetapan harus dilaksanakan dengan segala resiko. Adalah lumrah, bila ada ketidakpuasan setiap kebijakan karena tak mungkin semuanya dipuaskan.

Sudah saatnya tertib sosial dijalankan. Tiap diri hendaklah berpikir dan bertindak sesuai kapasitas dan tanggung jawab diri. Pihak medis bertugas memberikan petunjuk kesehatan, ulama dan cendekia memberikan fatwa dan pencerahan, pemerintah membuat regulasi dan kebijakan, perugas keamanan menjaga ketertiban dan pelaksanaan di lapangan, kita sebagai masyarakat menjalankan kewajiban taat pada aturan dan kebijakan. Bila itu dilaksanakan, insyaallah akan terjadi ketertiban.

Bila tertib sosial tidak dijalankan, maka tiap hari akan terjadi kegaduhan. Namun demikian siapapun harus siap dengan kritikan apalagi di era keterbukaan. Responlah kritik dengan jawaban, setidaknya dengan senyuman, tak perlu baperan. Karenanya, yang penting respon, tanggapan dan tindakan segera dilakukan.

Bila data medis ada yang meragukan, maka institusi dan lembaga kesehatan harus mampu memaparkannya secara transparan untuk menumbuhkan kepercayaan. Bila fatwa ulama ada yang mempertanyakan,maka otoritas lembaga keagamaan harus mampu menjabarkan, dengan dalil, dasar, dan narasi yang objektif dan meyakinkan.

Kuatkan keyakinan publik bahwa fatwa yang dikeluarkan benar untuk kemaslahatan, bukanlah rekomendasi partisan apalagi untuk pesanan. Sekali lagi, yakinkan. Untuk apa? Memperkuat kepercayaan umat dan keyakinan atas sebuah fatwa dan keputusan.
Apalagi ini terkait dengan keagamaan, harus ekstra kehati-hatian, ketulusan hati dan pikiran, serta baik dalam menyampaikan dan mengkomunikasikan. Agar tumbuh keyakinan dan kepercayaan.

Terhadap institusi pemerintah, dibutuhkan kematangan strategi, konsistensi, dan terbangunnya sinergisitas. Kepercayaan publik, sebut trust adalah barang mahal dalam sebuah kepemimpinan.

Persepsi publik harus diyakinkan. Bila pandemi ini secara total harus diperangi, maka 'social distancing' harus total dijalankan. Public relation pemerintah harus mampu menjelaskan terhadap kritikan publik, mengapa bandara dan pelabuhan dibuka kembali, moda transportasi mulai diaktifkan kembali, pasar dan mall masih ramai beroperasi,sementara korban masih bertambah tiap hari.

Mengapa? Karena ada persepsi dan kesan, pemerintah dianggap tegas dalam 'menertibkan' tempat ibadah, masjid, gereja dan tempat ibadah lainnya, sementara sisi lain pemerintah dianggap kurang tegas dalam penanganan pasar, supermarket, mall dan tempat umum lainnya. Kritikan ini harus dijawab, untuk apa? Untuk menumbuhkan kepercayaan publik.

Harus disadari, memang tidak mudah bagi pemerintah untuk mengambil sebuah kebijakan, namun jauh lebih sulit untuk menjabarkan ke dalam pikiran dan persepsi publik, apalagi bagi yang tidak puas akan terus menggali potensi kelemahan dan kekurangannya, apalagi (apalagi) bila sudah dikaitkan dengan politik.

Maka lawan politik,akan mencari 1001 alasan untuk menolak dan mengkritisinya. Karenanya, persepsi dan kepercayaan publik harus dibangun, dengan tegasnya kebijakan, konsistensi dalam pelaksanaan, dan berikan contoh nyata dan keteladanan.

Tidak mungkin bisa memuaskan semuanya, namun apapun keputusan yang diambil harus dapat diartikulasikan ke publik secara baik agar terjaga kepercayaan. Pastilah ada 1001 argumentasi dan 1001 rekomendasi ahli dalam mengambil kebijakan dan keputusan, namun jauh lebih penting bisa dipahamkan secara baik kepada publik.

Sebagai masyarakat, sebenarnya tak lah sulit peran dan tannggung jawabnya, cukup simple tugas yang ditunaiknaanya, yakni marilah masing2 kita berpikir dan bertindak sebagai umat dan warga masyarakat yang baik. Apa itu? kewajiban taat dan patuh.

Sebagai rakyat, tak usah lah bersusah payah seolah menjadi ahli medis dengan membangun logika sendiri, dengan menentukan sendiri mana zona hijau dan zona merah ala dia sendiri.

Tak perlu pula berfatwa ala ustadz dengan mematahkan argumentasi dan fatwa ulama, bahkan menyalahkannya karena tak suai pemikirannya. Tak perlu pula sibuk memperbandingkan pemerintahnya sendiri dengan keberhasilan pemerintah benua lainnya di sana.

Cukuplah fokus, berpikir dan bertindak ala umat, rakyat dan masyarakat, yakni bagaimana patuh dan taat. Jauh lebih penting, bagaimana kita berperan dan berkontribusi untuk pencegahan pandemi ini.

Tiap saat harus ditanyakan ke diri masing-masing, apa yang sudah kita berikan dan kontribusikan untuk menyelamatkan 'zaman' di tengah pandemi ini. Bila petugas medis dan relawan sudah berkorban pikiran, tenaga bahkan nyawa, lah kita apa yang sudah kita lakukan.

Bila kita bersungguh-sungguh, peran kita sebenarnya relatif sederhana, apa itu? dukunglah upaya 'social distancing' yang sudah diterapkan di semua negara, ubahlah peran kita menjadi subyek atau pelaku, artinya berperan aktif sebagai pelaku dalam memutus mata rantai. Bukan selalu memposisikan diri sebagai obyek, yang mana seolah merasa selalu terkorbankan, karena selalu memposisikan diri sebagai objek kebijakan.

Marilah saatnya berbuat dan berkontribusi. Kurangi bicara dan opini, saatnya beraksi. Karena harus disadari, bahwa pandemi ini tak bisa terdeteksi, dia bisa berpindah dan menyebar ke mana saja. Dia tidak peduli orang tua atau anak bayi, tidak peduli pejabat atau rakyat, tak peduli masjid atau pasar dan pusar keramaian.

Maka bila pandemi ini ingin berakhir, di tiap titik mana saja, kita harus berperan untuk memutus mata rantai. Himbauan sudah jelas, hindari pusat keramaian, jaga jarak, dan hindari berinteraksi dan kontak langsung dengan yang lainnya. Bila kita turut memutus 1 mata rantai dari 1 titik sejatinya kita telah berkontribusi untuk ikut pencegahan dalam penyebaran pandemi ini ke yang lainnya.

Bisa jadi, karena upaya kita ini, ada tetangga yang terselamatkan dari penularan, ada kawan yang terselamatkan dari potensi kematian. Sekali lagi, cukuplah sederhana, kalau kita mau berkontribusi turut berperan dalam memutus mata rantai pandemi ini.
Namun peran itu menjadi sulit, manakala kita masih mengedepankan logika dan pemikiran kita sendiri, cenderung 'egois' tanpa melihat dampak luas dari pandemi ini, dan turut merasakan betapa beranltnya petjuangan para ahli dan tim medis kita, fisik, psikis bahkan nyawa pun dipertaruhkan.

Maka, gelorakan ajakan 'stay at home', yakni bekerjalah di rumah, belajarlah di rumah, dan beribadahlah di rumah. Buktikan peran dengan perbuatan, bukan sekedar kata semata.

Mudah-mudahan partisipasi kita walau sederhana ini, bisa menjadi bagian bakti untuk kehidupan dan kemanusiaan. Semoga bermanfaat.*

Penulis adalah Ketua PW ISNU Kepri & Dosen Politeknik Negeri Batam