Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Gerak Cepat Pemerintah Antisipasi Virus Corona
Oleh : Opini
Kamis | 27-02-2020 | 12:52 WIB
antisipasi-virus4.jpg Honda-Batam
Pengawasan orang di Pelabuhan Fery Internasional Batam Center. (Foto: Batamtoday.com)

Oleh Edi Jatmiko

PENYEBARAN Virus Corona menjadi kekhawatiran global. Kendati demikian, Pemerintah telah bergerak cepat guna mengantisipasi penyebaran Virus Corona tersebut.

Kegemparan global akibat virus Corona yang diduga mematikan ini membuat kota Wuhan seolah berada dalam lingkaran kematian. Bagaimana tidak, banyak korban terpapar virus ini yang harus berakhir menjemput ajal.

Indonesia sendiri termasuk negara yang ikut geger terkait virus mematikan ini. Namun, kenyataannya, banyak yang menilai bahwa Indonesia memang kebal terhadap virus Covid-19.

Hal ini terbukti dari sejumlah laporan yang menyatakan bahwa banyak warga Indonesia yang pulang dari Wuhan dinyatakan 100 persen sehat, padahal kota tersebut awal mula virus tersebut berkembang. Hal ini juga tak luput dari peran pemerintah yang optimal dalam mengantisipasi penyebaran virus ini.

Penyebaran virus Corona alias Covid-19 yang menggegerkan hingga 19 negara ini dilaporkan telah menemui titik terang. Pihak Tiongkok getol melakukan beragam penelitian untuk dapat menemukan antivirus bagi endemi ini.

Dan akhirnya para ilmuwan Tiongkok mengklaim telah memperoleh obat penangkal virus corona. Bahkan, ternyata obat tersebut biasa dipakai di Indonesia sebagai vaksin malaria.

Malaria ditengarai merupakan sebuah penyakit endemis di Indonesia, yang mana telah menjangkiti sejumlah wilayah di kawasan timur. Setidaknya hampir satu bulan setelah merebaknya Virus Corona, para ilmuwan di Tiongkok mengklaim telah menemukan obat bagi wabah tersebut. Dan ternyata, obat tersebut sudah lazim dipakai di negara kita, Indonesia.

Obat yang dimaksud ialah chloroquine phosphate. Di Indonesia sendiri obat ini biasa dipakai khusus untuk vaksin malaria. Biasanya obat ini dikonsumsi 1 hingga 2 minggu sebelum bepergian ke "kawasan malaria", konsumsi obat ini sampai 4 minggu setelah pulang dari kawasan tersebut.

Beberapa wilayah yang pernah terjangkit wabah ini meliputi, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Sulawesi, Papua Barat,Papua dan sebagian wilayah Sumatera hingga Kalimantan.

Sebelumnya, dilansir dari sebuah surat kabar, Sun Yanrong selaku Wakil Kepala Pusat Nasional Pengembangan Bioteknologi di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Cina, dalam sebuah konferensi mengatakan para ilmuwan "dengan suara bulat" telah menyarankan obat tersebut bisa dimasukkan ke dalam versi berikutnya dari pedoman pengobatan, serta dapat diterapkan dalam uji coba klinis yang lebih menyeluruh sesegera mungkin.

Sun ditengarai pula menambahkan bahwa chloroquine phosphate telah diuji coba secara klinis di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing, tepatnya di Provinsi Guangdong Tiongkok Selatan, dan Provinsi Hunan di Tiongkok Tengah.

Dari hasil uji klinis tersebut, menunjukkan chloroquine phosphate memiliki tingkat kemujaraban yang cukup baik. Beberapa tanda kondisi pasien yang dinilai membaik di antaranya menurunnya demam, adanya peningkatan gambar pada CT paru-paru, juga persentasi pasien yang menjadi negatif dalam tes asam nukleat virus. Selain itu, pasien yang menggunakan obat juga memerlukan waktu relatif singkat untuk kembali pulih.

Sejauh ini dilaporkan tidak ada efek samping yang merugikan dari penggunaan obat tersebut, yang kabarnya telah diberikan ke lebih dari 100 pasien terdaftar dalam uji klinis.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo menampik pernyataan Duta Besar Cina, Xiao Qian, bahwa pemerintah Indonesia telah bersikap overreaktif saat menghadapi virus Corona. Salah satunya, ialah dalam hal menetapkan travel ban khusus untuk rute penerbangan Indonesia-Cina.

Menurut Jokowi, tindakan tersebut merupakan pencegahan yang harus dilakukan, tak peduli apapun pendapat negara lain. Jokowi menambahkan bahwa kepentingan nasional memang harus dinomorsatukan.

Sejalan dengan arahan Jokowi, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga mengatakan bahwa segala kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia sudah melalui pertimbangan yang sangat matang. Itulah kenapa, Indonesia dinilai malah relatif telat dalam menetapkan kebijakan travel ban ini.

Selain menahan rute penerbangan, Indonesia juga menyebut tengah membatasi impor barang-barang dari negeri tirai bambu tersebut. Salah satunya, larangan impor hewan hidup yang terjadi di sejumlah negara.

Presiden Jokowi malah meminta sektor perdagangan untuk segera merespon pelarangan impor produk Cina yang terjadi di beberapa negara dengan cara menggiatkan ekspor produk Indonesia.

Pendapat lain dikemukakan oleh Duta Besar Cina, Xiao Qian, yang menilai langkah-langkah Indonesia akan menimbulkan gangguan terhadap kerjasama dengan Cina ke depannya. Bahkan, ia menyebut Indonesia berpotensi merugi dari segi ekonomi maupun pariwisata apabila meneruskan hal ini.

Budi Karya menampik perkataan Xiao Qian, bahwa dia berharap hal ini tidak akan terjadi. Ia kembali menegaskan, bahwa kebijakan terkait virus Corona sudah dirapatkan lintas lembaga. Sehingga harapannya bisnis kedua negara tetap berjalan sesuai ketentuan.

Menilik dari sikap agresif pemerintah dalam upaya penanganan virus corona memang perlu diacungi jempol. Kendati menuai kritikan, Jokowi tetap tegas memberlakukan sejumlah aturan untuk melindungi negaranya, Indonesia.

Bahkan, Jokowi sendiri menegaskan, kepentingan nasional adalah prioritas negara. Nyatanya, hal ini membuahkan hasil, toh masyarakat Indonesia terbebas dari paparan virus Corona.*

Penulis adalah pengamat sosial politik