Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Perubahan Iklim Picu Krisis Air di Kepulauan Pasifik
Oleh : Dodo
Rabu | 25-04-2012 | 11:08 WIB

BATAM, batamtoday - Perubahan iklim memerparah kondisi kekurangan air di wilayah Kepulauan Pasifik yang selama ini mengandalkan pasokan dari air hujan. 

Hal ini terungkap dari laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) yang diterbitkan kemarin (23/4). Laporan yang berjudul “Freshwater under Threat – Pacific Islands” ini menyatakan, ketergantungan sektor pertanian terhadap air hujan di wilayah Kepulauan Pasifik telah meningkatkan risiko kesehatan bagi penduduknya. 

Hampir 10% kematian anak-anak di wilayah ini disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan air. Dan sebanyak 90% penyebab kematian itu bersumber dari buruknya sistem sanitasi di wilayah tersebut. 

Ketersediaan fasilitas sanitasi dan pasokan air – yang menjadi salah satu dari Target Pembangunan Millenium – di negara-negara Pasifik kondisinya saat ini masih jauh tertinggal. 

Menurut laporan ini tingkat akses atas air minum yang sehat di Fiji dan Papua Nugini (yaitu 40% dan 47%) hanya separuh dari pencapaian rata-rata dunia dan diperkirakan kedua negara akan gagal memenuhi Target Pembangunan Milenium di bidang ini. 

Secara ekologis, pula-pulau kecil memiliki risiko yang lebih besar karena hampir 85% hingga 90% tanaman di wilayah Majuro Atoll, Nauru, Fongafale dan Upolu, telah musnah. Kemampuan pulau-pulau ini untuk menyerap air limbah di wilayah perkotaan juga sangat rendah sehingga air tanah menjadi semakin tercemar. 

Saat ini, terdapat 9 juta penduduk yang hidup di 14 negara di Kepulauan Pasifik (Pacific Island Countries). Mayoritas dari mereka tinggal di wilatah pedesaan. Negara-negara ini memiliki sekitar 1.000 pulau-pulau kecil dengan total wilayah daratan seluas 500.000 km2, yang tersebar di samudra seluas 180 juta km2 atau lebih dari sepertiga permukaan bumi. 

Enam negara kepulauan yaitu Nauru, Niue, Kiribati, Tonga, Tuvalu dan Marshall Islands hampir tidak memiliki sumber air di permukaan (tanah), dan hanya Tonga dan Niue yang memiliki sumber air tanah yang cukup. Tingkat curah hujan tahunan di hampir semua pulau sangat rendah sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan air tawar penduduknya.

 

Perubahan iklim yang mengganggu curah hujan dan pola cuaca menyebabkan penduduk di negara Kepulauan Pasifik tak lagi bisa mengandalkan pasokan air mereka dari air hujan, baik untuk pertanian maupun kebutuhan sehari-hari. Mereka kini terus berupaya memanfaatkan sumber daya alam mereka yang semakin terbatas untuk mengolah air laut menjadi air tawar dan menyimpan air hujan lebih banyak pada masa-masa sulit. 

Pengalaman tersebut seharusnya membuat kita, penduduk Indonesia, belajar menjadi lebih bijaksana dalam mengelola dan menggunakan sumber daya air. Mari bersama hambat pemanasan global dan perubahan iklim. Setiap individu bisa melakukan perubahan. Gaya hidup kita akan berdampak pada nasib jutaan penduduk dunia di wilayah lain. Kita hanya memiliki satu bumi. Tugas kita bersama untuk menjaganya agar lestari.