PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Satgas Waspada Investasi Ungkap Daftar Investasi Bodong, Begini Modusnya
Oleh : Redaksi
Rabu | 04-12-2019 | 10:28 WIB
investasi-bodong1.jpg honda-batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi kembali menghentikan entitas yang terindikasi melakukan kegiatan usaha tanpa izin alias bodong. Investasi bodong berpotensi menimbulkan kerugian masyarakat.

Data satgas menyebutkan ada 164 perdagangan forex tanpa izin, 8 investasi menggunakan skema money game, 2 equity crowdfunding, multilevel marketing yang tidak memiliki izin, perdagangan kebun kurma, investasi properti, investasi tabungan, cryptocurrency, koperasi hingga penawaran umrah.

Ketua satgas waspada investasi, Tongam L Tobing menjelaskan entitas tersebut berpotensi merugikan masyarakat. "Mereka memanfaatkan masyarakat yang tidak paham untuk menipu," kata Tongam dalam siaran pers, Rabu (3/12/2019).

Dalam daftar yang diterbitkan satgas, ada kegiatan penipuan investasi uang dengan nama entitas Perkumpulan Peduli Ummat Indonesia (PPUI) Agus Santoso, kemudian investasi sistem pembayaran bernama 212Pay, perjalanan umrah Hijrah Community.

Lalu juga ada entitas yang beberapa waktu lalu menjadi pembicaraan yakni Binomo yang menjalankan kegiatan forex ilegal dengan nama Binomo 100% Bonus Code and Forex Trading Guide.

Binomo memang ngeyel, sudah diblokir dia membuat aplikasi lagi bernama Guide Binomo & 100% Bonus Code. Lalu ada juga Binomo: Ide-ide untuk penghasilan tambahan anda. Kemudian BinomoRobot - Robot Perdgangan dan terakhir Binomo.

Salah satunya adalah kegiatan umrah bersama "HIJRAH COMMUNITY" yang menawarkan paket umrah dengan harga yang murah.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan modus yang digunakan oleh program umroh bersama ini adalah memberikan harga yang murah.

Misalnya membayar umrah mulai dari Rp 3 juta namun menunggu 35 bulan untuk berangkat pada bulan ke 36. "Jadi setelah itu mereka dijanjikan berangkat tanpa menambah biaya apapun," kata Tongam saat dihubungi detikcom, Selasa (3/12/2019).

Dia mengungkapkan modus berikutnya adalah membayar Rp 6 juta dengan menunggu 24 bulan kemudian dan berangkat pada bulan ke 25. Lalu membayar Rp 12 juta dengan menunggu 14 bulan dan berangkat di bulan ke 15.

Selanjutnya membayar Rp 15 juta dengan menunggu 11 bulan dan berangkat di bulan ke 12 tanpa biaya tambahan. Terakhir ada pilihan membayar Rp 18 juta dengan menunggu 8 bulan dan berangkat bulan ke 9 tanpa penambahan biaya lagi.

Namun Tongam menyebut belum mendapatkan data berapa jumlah calon jemaah umrah yang mengikuti program ini. "Kami belum tahu dan masih mengumpulkan datanya," ujar dia.

Apa yang bisa kita lakukan supaya tidak terjebak investasi bodong?

Perencana Keuangan dari Tata Dana Consulting, Tejasari menjelaskan investasi bodong biasanya memang mengiming-imingi keuntungan yang sangat besar dan risiko rendah.

"Investasi bodong itu tanda-tandanya awal janji bunga tinggi banget. Misalnya 10% per bulan kan jadi 120% per tahun itu tinggi sekali, tidak rasional," kata Teja saat dihubungi detikcom, Selasa (3/12/2019).

Dia mengungkapkan, masyarakat seharusnya memahami jika tidak ada keuntungan yang besar dengan risiko yang rendah. "Jadi kalau ada orang yang menawarkan investasi dengan imbal hasil tinggi nah ini tanda-tanda investasi bodong," jelas dia.

Menurut Teja, sebelum memutuskan berinvestasi masyarakat juga harus mencari tahu perusahaan dan produk investasinya. Misalnya izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan regulator lain, kantor perusahaan yang jelas hingga rekam jejak perusahaan.

Setelah rekam jejak perusahaan sudah terkumpul dengan baik maka harus dicari tahu produk yang akan digunakan untuk berinvestasi. "Harus mengerti dulu apa produknya, bagaimana cara kerjanya supaya paham ke depan akan seperti apa risikonya, berapa keuntungan yang akan didapatkan," jelas dia.

Dia menjelaskan, saat ini memang korban investasi bodong terdiri dari berbagai macam kalangan. Termasuk kalangan berpendidikan hal ini karena orang-orang tersebut serakah karena menginginkan usaha yang minim namun hasil yang maksimum.

"Kalau untuk yang level berpendidikan mereka punya uang, tapi mereka juga ingin dapat return setinggi tingginya tapi aman. Ya tidak ada yang seperti itu, kalau mau aman ya di tabungan walaupun bunganya kecil," jelas dia.

Sumber: detik.com
Editor: Yudha