PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ini Alasan Marmansyah Bangun Panti dan Siap Rawat Bayi Temuan di Sagulung
Oleh : Hendra Mahyudi
Jumat | 04-10-2019 | 19:04 WIB
penemuan-bayi2.jpg honda-batam
Bayi yang ditemukan di bekas beko. (Foto: Hendra)

BATAMTODAY.COM, Batam - Tumbuh dan besar menjalani masa remajanya sebatang kara, karena kedua orangtuanya telah lama meninggal dunia. Begitu Marmansyah, pemilik Panti Asuhan Uswatun Hasanah di Kecamatan Sagulung, menceritakan alasannya membangun panti asuhan dan siap merawat anak-anak terlantar.

Semua itu didasari oleh keinginan untuk membahagiakan kedua almarhum orangtuanya. Orangtuanya adalah motivasi kuat bagi Marmansyah membangun panti asuhan di Kampung Wali Melayu, Sei Aleng, Kelurahan Sei Binti, Kecamatan Sagulung.

Menerawang jauh langkah hidupnya, Marmansyah merupakan persona social justice warrior (SJW) yang tentunya beda dengan roman SJW belakangan ini yang mengalami peyorisasi makna lebih ke hal politis.

Pada Jumat, 4 Oktober 2019 siang, di pelataran yayasan panti yang ia dirikan, ia mulai mengenang jauh dan bertutur kisah hidupnya yang saat ini memilih terjun lebih dalam pada lingkup sosial kemanusiaan.

Pria yang biasa dipanggil oleh anak-anak pantinya dengan sebutan ayah ini lahir di Pulau Buluh pada 23 Maret 1997 silam. Awal kelahirnya, hanya disambut oleh senyuman seorang ibunda, karena ayahandanya telah terlebih dahulu meninggal dunia sebelum ia dilahirkan.

"Tidak pernah saya mengenal wajah bapak, karena sebelum lahir beliau telah terlebih dulu meninggalkan kami untuk selama," kenang pria sederhana yang kini berumur 22 tahun itu.

Sedari lahir, ia hanya mengenal ibundsnys. Ia bertumbuh besar dan diasuh dengan kasih sayang seorang perempuan tegar. Namun sayang, tatkala ia berusia 11 tahun, ibunda tercintanya pun turut menyusul sang ayah.

"Ibunda pun meninggalkan saya untuk selamanya. Saat itulah saya pindah ke panti asuhan, karena sudah tidak ada yang bisa merawat. Saya adalah anak satu-satunya," ungkap Marman bercerita.

Di usianya yang masih berumur belasan tahun dan notabenenya masih membutuhkan kasih sayang orangtua, Marmansyah harus tegar bergabung di panti asuhan. Seiring berjalannya waktu, di pantilah Marman tumbuh menjadi dewasa dan rajin beribadah, serta mentalnya untuk menjadi kuat ditempa.

Hingga kala berumur 17 tahun, Marman pun telah didapuk untuk memimpin panti asuhan Uswatun Hasanah di kawasan Barelang. "Sekarang Panti asuhan di barelang sudah jalan dan berkembang," terangnya.

Kemudian tatkala ia berusia 21 tahun, Marman pun memilih untuk membuka cabang panti asuhan yang ia pimpin, yakni membukanya di kampung Wali Melayu, Sei Aleng, Sungai Binti.

"Semua ini saya lakukan hanya untuk menyenangkan orangtua saya. Meski mereka sudah tiada. Saya percaya mereka bersama Allah dan pahala yang didapat semoga melimpah juga ke mereka," harapnya.

Sementara itu, Marman mengatakan telah merasakan rasanya hidup sebatang kara tanpa orangtua, karena itulah ia ingin terus mengabdi dan membantu anak-anak yang terlantar yang tak memiliki orangtua. Karena ia tidak ingin anak yatim dan piatu semakin larut dalam kesedihan mereka sendiri.

Hingga hari ini, di usianya yang telah 22 tahun dan juga dua tahun telah membuka cabang Panti Asuhan Uswatun Hasanah Sei Binti, ia telah memiliki banyak anak meski belum memiliki pasangan. 21 orang anak-anak ia jaga agar kelak dewasa bisa menjalani hidup seperti manusia lain pada umumnya.

"Saya sangat senang, meski semua serba kekurangan," kisahnya sembari tersenyum.

Sejauh ini katanya, mereka di panti masih belum pernah mendapat perhatian dari pemerintah. Meski begitu ia yakinkan dan percayakan semuanya kepada Allah, sang maha pemilik segalanya.

"Semua kita jalani dan berharap kepada Allah. Allah yang mencukupkan semuanya," imbuh Marmansyah.

Hal inilah ketika ia melalui seorang anak panti bernama Randy menemukan seorang bayi malang berjenis kelamin perempuan, ditaruh di dalam kardus persis di bawah escavator tak jauh dari pantinya, membuat ia tergerak ingin merawat sang bayi bersama petugas panti lainnya, karena baginya bayi itu ditempatkan di sana pasti juga atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

"Itu pun jika dari Dinsos nanti mengizinkan kami yang merawatnya," pungkas Marmansyah.

Editor: Yudha