PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Potensi Ekonomi Digital Pulau Penyengat
Oleh : Opini
Jum\'at | 06-09-2019 | 10:40 WIB
mas-nursanto.jpg honda-batam
Mas Nursanto.

Oleh: Mas Nursanto

Pariwisata merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Kekayaan alam dan budaya merupakan komponen dan modal utama pariwisata di Indonesia. Alam yang memiliki kombinasi iklim tropis, terdiri dari 7.508 pulau dan 6.000 di antaranya tidak dihuni serta garis pantai terpanjang ketiga di dunia setelah Kanada dan Uni Eropa.

Beberapa tempat wisata didukung kekayaan beraneka ragam warisan budaya yang mencerminkan sejarah serta keberagaman etnis Indonesia yang dinamis dengan 719 bahasa daerah yang dituturkan.

Industri pariwisata menjadi sangat penting bagi Indonesia karena dapat meningkatkan kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB). Industri ini dapat memacu lebih banyak pendapatan devisa (estimasi setiap turis asing menghabiskan rata-rata antara 1.100 dollar AS sampai 1.200 dollar AS per kunjungan) dan juga menyediakan kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Saat ini, sektor pariwisata Indonesia berkontribusi untuk kira-kira 4% dari total perekonomian. Pertumbuhan ekonomi yang relatif meningkat, memberi harapan dan juga peluang bagi negara-negara di dunia untuk ikut mengembangkan pariwisata dan menjadikannya sebagai sumber pendapatan negara.

Indonesia dengan sumber daya dan modal yang besar tersebut berusaha menggalakkan pengembangan dan peningkatan kepariwisataan. Beberapa wilayah seperti Provinsi Kepulauan Riau memiliki potensi sumberdaya alam yang tinggi yang mampu mendatangkan sumber daya devisa baru bagi pemerintah dan masyarakat sekitar.

Pariwisata Pulau Penyengat

Pulau Penyengat sebagai salah satu tujuan objek wisata yang berada di Kota Tanjungpinang. Sangat menarik untuk dikunjungi, bahkan beberapa wisatawan domestik dan mancanegara seperti Singapura, Malaysia dan Tiongkok.

Berdasarkan data yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau (No.80/12/21/Th.XIII. 3 Desember 2018), bahwa kunjungan wisatawan ke Pulau Penyengat pada tahun 2016 mencapai 342.729 orang yang mana 27%-nya merupakan wisatawan mancanegara yang rata-rata berasal dari Malaysia dan Singapura.

Di pulau ini, terdapat cagar budaya alam, berupa peninggalan sejarah Kerajaan Riau yang hingga saat ini masih terpelihara dengan baik dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat Melayu sekitar dengan dukungan penuh Pemerintah Kota Tanjungpinang. Dengan ongkos menyeberang sebesar Rp7.000 dapat menyebrangi laut dengan menggunakan pompong/perahu motor dengan menempuh jarak sekitar lebih kurang lima belas menit dari pelabuhan kecil Pelantar II menuju Pulau Penyengat.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan perjalanan dari pusat Kota Tanjungpnang menuju Pantai Trikora atau Lagoi atau juga Treasury Bay yang dapat memakan waktu selama lebih kurang dari satu jam melalui perjalanan darat.

Uniknya di dermaga Pulau Penyengat akan banyak terlihat berbagai kegiatan ekonomi yang sangat khas dengan tradisi Melayu, seperti para pedagang aneka ragam makanan khas Melayu seperti ikan bakar, sotong, otak-otak, serta olahan laut lainnya. Dan yang lebih uniknya lagi, untuk mengelilingi Pulau Penyengat yang luasnya kira-kira dua ribu meter persegi ini kita tidak perlu cape berlelah berjalan kaki.

Beberapa pengemudi bentor/kendaraan (becak bermotor) siap menawarkan jasanya untuk berkeliling dengan ongkos sebesar Rp 30.000. Satu Bentor bisa diisi oleh dua penumpang dewasa. Melalui perjalanan singkat, pengemudi Bentor sepertinya tak sungkan-sungkan untuk bercerita tentang riwayat serta sejarah tentang Pulau Penyengat.

Ada rasa kagum dengan pengetahuan yang dimilikinya itu. Padahal dengan kemampuannya itu pengemudi bentor dapat saja meningkatkan pendapatannya ekstra lainnya.

Potensi Ekonomi Digital

Di era yang serba digital ini dibutuhkan kemampuan dalam memberdayakan potensi dan karakter lokal yang mampu bersaing baik secara nasional maupun internasional. Sesuai perkembangan yang ada maka pemenuhan akan kebutuhan pelayanan pun akan meningkat sehingga mengakibatkan banyak pergeseran sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Untuk menghadapi daya saing global ini, perlu adanya peran aktif pemerintah daerah/dinas terkait untuk melakukan langkah-langkah stategis yang antara lain memetakan kebutuhan, melakukan pembinaan serta membekali pengetahuan serta edukasi secara intens kepada para pelaku usaha setempat.

Selain dilakukan pembinaan tentang pengetahuan pariwisata, para pelaku usaha ini juga dibekali dengan pengetahuan lain untuk mendukung kegiatan seperti pengetahuan tentang alat-alat digital, seperti, penggunaan dan pemanfaatan kamera digital video (handycam), tata cara mengcopy kedalam piringan keras (CD) dan lain sebagainya.

Para pengemudi Bentor yang semula hanya mengantar wisatawan berkeliling ketempat tertentu, dapat sekaligus menjadi guide/pemandu wisata serta menjadi kameraman bagi wisatawan yang menjadi penumpang bentornya setelah sebelumnya bersedia ditawarkan dengan jasa liputan.

Hasil rekaman video selama satu jam perjalanan, selanjutnya bisa diburning ke dalam cakram keras (CD). Dengan biaya jasa liputan sebesar Rp 100.000 selama perjalanan wisata di Pulau Penyengat, sepertinya wisatawan yang datang ke Pulau Penyengat, tidak berkeberatan untuk membayarnya, karena para wisatawan tentunya berharap mempunyai hadiah/oleh-oleh yang mempunyai nilai dan arti tersendiri.

Pada akhirnya pariwisata sebagai core economy, akan menjadikan bangsa Indonesia dapat terus bertransformasi khususnya dalam era globalisasi sehingga nantinya bangsa Indonesia akan menjadi sebuah negara maju yang didukung sektor-sektor unggulan, sumber daya alam yang melimpah salah satunya sektor pariwisata yang menawarkan keindahan dan keragaman alam, budaya dan sosial.

Pengembangan industri pariwisata nantinya diharapkan akan terus dikembangkan dengan dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dengan tetap mengedepankan keterlibatan masyarakat secara langsung sebagai pelaku ekonomi yang nantinya akan berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara umum dan khususnya masyarakat di Pulau Penyengat. Era digital yang diyakini memainkan peran penting dalam mendongkrak performa industri pariwisata Indonesia sejalan dengan masifnya perkembangan industri digital, saat ini telah mengubah pola wisatawan dalam merencanakan perjalanan mulai dari mencari dan melihat informasi (look), memesan paket wisata (book) hingga membayar secara online (pay).

Penulis adalah ASN Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepri.

*) Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.