Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemarau Panjang, Waspadai Gangguan Kesehatan Hepatitis Hingga Stunting
Oleh : Redaksi
Kamis | 22-08-2019 | 18:17 WIB
kekeringan-ilustrasi13.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kemarau panjang dapat memicu sejumlah penyakit seperti hepatitis A, tifus, inspeksi saluran pencernaan akut (ISPA), hingga stunting pada anak adalah penyakit yang kerap muncul.

Dalam pemantauan hari tanpa hujan (HTH) per 10 Agustus 2019, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga telah memetakan sebagian besar wilayah di Indonesia itu tidak diguyur hujan dan paling tandus di daerah Pulau Jawa.

Ia menjelaskan di daerah Pulau Jawa hujan sudah tidak turun setidaknya selama 60 hari terakhir. Selain Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur juga ditandai sebagai zona merah, yakni wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem.

Dokter Rizal Alimin menyebutkan, bukan hanya musim hujan yang dapat membawa berbagai penyakit, kemarau yang terjadi tahun 2019 ini juga sangat memungkinkan menghadirkan penyakit bagi masyarakat.

"Apalagi jika kemarau terjadi secara ekstrem dalam waktu yang cukup panjang, berbagai penyakit memungkinkan menjangkiti warga," katanya.

Selain keterbatasan air bersih, berbagai dampak juga timbul akibat kemarau. Di bidang ekonomi, warga harus merogoh kocek lebih untuk membeli air. Kebutuhan air setiap individu sangat penting. Sekitar tiga persen tubuh manusia terdiri dari air. Air pun dibutuhkan tubuh untuk tetap menjaga kesehatan organ, terutama ginjal.

Pengaruh kemarau terhadap kesehatan memang tidak dapat langsung dirasakan. Menurut Rizal, hal itu disebabkan berkurangnya konsumsi dan penggunaan air dalam secara perlahan. Hepatitis A dan tifus misalnya, penyakit ini dapat timbul akibat berkurangnya volume air. Ketika kemarau datang, sungai-sungai serta sumur mengalami penurunan volume yang membuat pelarutan kotoran yang masuk ke air menjadi lebih sulit.

Kemarau juga dapat menimbulkan gangguan pernapasan. Saat musim kemarau, debu lebih banyak dan udara lebih berpolusi.

"Ketika kemarau, orang lebih mudah terpapar ISPA karena debu lebih banyak beterbangan," katanya.

Sumber: Tempo.co
Editor: Yudha