PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Para Ibu Pekerja, Inilah Strategi Mengatur Pemberian ASI Eksklusif Bagi si Buah Hati
Oleh : Nando Sirait
Rabu | 14-08-2019 | 08:16 WIB
ilustrasi-ibu-menyusui1.jpg honda-batam
Ilustrasi. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Pentingnya pemberian ASI eklusif bagi si buah hati, di era sekarang tampaknya mulai tidak terlalu diindahkan oleh para ibu, yang kemungkinan menghabiskan rutinitas bekerja paska cuti melahirkan dari profesi masing-masing. Kendala ini juga dipengaruhi hadirnya beragam susu formula, yang dapat dikonsumsi si buah hati.

Melihat fenomena ini, Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, kembali mengkampanyekan pemberian ASI eksklusif. Kampanye ini sendiri sebelumnya dimulai dari sosialisasi, yang pernah dilakukan oleh RSAB, Sabtu (09/08/2019) kemarin, dalam rangka Peringatan Hari ASI Sedunia.

Namun Direktur RSAB Batam, dr Widya Putri menyatakan, kampanye mengenai pentingnya ASI tidak berhenti hanya di pelaksanaan sosialisasi yang lalu. Widya menerangkan, ASI selain memberikan nutrisi lengkap bagi anak, juga sebagai pencegahan kanker payudara bagi ibu, mengurangi resiko kanker mulut rahim, hingga mengurangi potensi diabetes.

"Pemberian ASI eksklusif saat ini, tidak hanya disarankan namun diwajibkan. Oleh karena itu, melalui platform media kita juga terus berupaya mengkampanyekan hal ini kepada masyarakat," jelasnya, Rabu (14/08/2019).

Widya juga mengingatkan, bagi memenuhi nutrisi si buah hati, para orang tua harus tetap memberikan ASI minimal hingga usia bayi mencapai 6 bulan. Namun hal ini menurutnya hanyalah patokan usia minimal, sehingga pemberian ASI ekslusif dapat diberikan pada si kecil hingga usia satu tahun.

Tidak hanya memberikan keuntungan pemenuhan nutrisi pada bayi, bagi ibu pentingnya pemberian ASI juga membawa keuntungan tersendiri. Namun menurutnya, dalam beberapa kasus pihaknya kerap menemui kendala tidak adanya ASI pada ibu, terutama mereka yang berprofesi bekerja full time di kantor.

"Untuk hal ini biasanya karena kelenjar pada payudara perlu rangsangan menghisap, ketika tidak sering dilakukan stimulasi hisap maka produksi akan berkurang begitu pula sebaliknya. Atau mungkin bisa dibantu dengan pengobatan," lanjutnya.

Bagi ibu pekerja, menurut Widya juga wajib memiliki kantong Asi, karena setelah melakukan pumping bisa menyimpan ASI di kantong tersebut. Untuk kemudian diantar kerumah. Lalu ASI wajib disimpan di kulkas khusus, hal ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu upaya apabila si ibu sedang mendapatkan penugasan luar kota, atau mungkin tengah lembur dalam melakukan pekerjaannya.

"Jadi saat ini tidak ada lagi alasan ibu pekerja untuk tidak memberikan Asi, karena mau dinas dua Minggu pun masih ada cadangan ASI," ujarnya.

Dalam memproduksi ASI ini, peran ayah juga tidak kalah penting. Ayah yang sigap dalam mendukung ibu merealisasikan program ASI, akan membantu ibu mencegah baby blues. Selain memiliki tugas untuk menyemangati, dan menenangkan ibu, Ayah juga wajib untuk membantu ibu menyiapkan peralatan anak. Sehingga ibu merasa terbantu dan boynding ayah anak kuat.

"Peran ayah engga kalah penting karena bounding dengan ayah juga sangat penting," tutupnya.

Editor: Chandra