PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

DBD Marak, Diskes Natuna Minta Masyarakat Jaga Kebersihan Lingkungan
Oleh : Kalit
Jum\'at | 02-08-2019 | 08:28 WIB
kadinkes-natuna.jpg honda-batam
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Rizal Rinaldy. (Kalit)

BATAMTODAY.COM, Natuna - Wabah Demam Berdarah Dangue (DBD) semakin meningkat di Kabupaten Natuna. Terhitung tahun 2019 hingga bulan Juli, sudah terjangkit 32 orang akibat virus nyamuk Aedes Aegypti di berbagai daerah Kecamatan yang ada.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Rizal Rinaldy, menyatakan, saat ini untuk wilayah kabupaten Natuna paling banyak terkena wabah DBD wilayah Kecamatan Bunguran Timur. Pihaknya telah melakukan berapa tahapan pencegahan virus DBD melalui program sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus dan melakukan fogging di lingkungan warga terkena DBD.

"Upaya sosialisasi untuk pemberantasan sarang nyamuk sudah kita lakukan untuk semua kecamatan di Kabupaten Natuna. Namun hal ini masih belum signifikan. Masih banyak rumah warga kotor dan ada genangan air sebagai wadah nyamuk bertelur," ujar Rizal, diruangan kerjannya kepada BATAMTODAY.COM, Kamis (1/8/2019) kemarin.

Rizal juga mengakui, tingginya tingkat penyebaran wabah DBD pada tahun 2019 secara keseluruhan untuk wilayah Provinsi Kepri, membuat DInas Kesehatan Provinsi Kepri menetapkan siaga satu untuk kasus ini.

Terkait tingginya penyebaran DBD tahun 2019, Rizal meminta peran serta masyarakat untuk ikut andil menjaga kebersihan dirumah dengan menerapkan 3M Plus, mulai dari menguras/membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain.

Kemudian Menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. Serta, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk tempat perkembangbiakan nyamuk yang menularkan demam berdarah dan plus dengan Menaburkan bubuk larvasida (lebih dikenal dengan bubuk abate) pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan.

"Peran serta kecamatan dan lingkungan sekitar hingga kepala keluarga wajib untuk menjaga kebersihan. Tindakan fogging hanya untuk nyamuk besar, bukan untuk jentak jentik cikal bakal nyamuk Aedes aegypti," terangnya.

Dijelaskan Rizal, untuk radius penyebaran nyamuk DBD bisa berjarak 200 meter dari lokasi yang telah terkena wabah. Akan hal ini, dihimbau warga dan lingkungan rumah untuk selalu menjaga kebersihannya.

"Kalau ada saja satu rumah yang tidak bersih dan ada air genangan tempat jentik berkembang biak, hal ini yang akan menjadikan nyamuk hadir, dan lingkungan sekitar akan berbahaya dengan adanya nyamuk Aedes aegypti," Jelas Rizal.

Lanjut Rizal, terkait status siaga satu untuk wabah DBD, pihak dinas kesehatan akan mengeluarkan program satu rumah satu juru pemantau jentik dan menghimbau untuk setiap warga yang demam untuk langsung berobat kepuskesmas dan RSUD.

"Setiap rumah akan ada satu orang pemantau jentik nyamuk, sehingga tidak ada lagi jentik nyamuk di lingkungan rumah," tuturnya.

Hal senada disampaikan Dr Ruminah, sebagai Kepala seksi pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit menular. Dalam penanganan DBD, pihak dinas kesehatan telah meminta kepada RSUD untuk segera melaporkan pasien terkena DBD kepada Puskemas terdekat dan Dinas Kesehatan Natuna.

"Kita selalu update laporan pasien dari pihak RSUD. Kita akan segera mersepon, tim dari puskemas untuk segera melakukan fogging," ujar Ruminah.

Dikatakan Ruminah, penyebaran DBD paling terbanyak untuk Kecamatan Bunguran Timur wilayah Batu Hitam. Daerah tersebut sangat rawan.

Dinas Kesehatan akan bekerja sama dengan pihak kecamatan dan organisasi lainnya untuk melakukan pembersihan dan akan dilakukan fogging untuk keseluruhan wilayah kecamatan Bunguran timur dan akan meninjau korban DBD di RSUD Natuna.

Editor: Chandra