PKP

Tanamkan Cinta Budaya Lokal Lewat Karya Tari Bertajuk Tudong
Oleh : Redaksi
Sabtu | 20-07-2019 | 10:51 WIB
tudong-pentas.jpg honda-batam
Tampilan gaya tari yang diperagakan Winda yang menandakan kecintaannya terhadap Tudong Manto. (Ist)

Oleh: Suci Intan Maulia, M.Sn.

Menumbuhkan rasa kecintaan kepada budaya lokal adalah salah satu kepedulian terhadap hasil karya atau suatu produk budaya yang dihasilkan oleh suatu sekelompok masyarakat.

Budaya didefenisikan sebagai suatu hal yang sangat erat dalam terwujudnya suatu peradaban. Budaya sebagai suatu adat dan kebiasaan suatu kelompok masyarakat yang sekaligus menjadi ruh dari keberlangsungan peradaban suatu bangsa.

Pentingnya suatu budaya di dalam masyarakat mungkin sering kali dilupakan. Hal ini karena semakin berat rasa kecintaan akan budaya dan perkembangan zaman yang mengakibatkan banyak perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pola kehidupan masyarakat, yang juga berpengaruh pada budaya masyarakat itu sendiri.

Budaya daerah yang merupakan peninggalan leluhur sudah mulai terpengaruh dengan budaya-budaya yang berasal dari luar dan lambat laun budaya yang dimiliki suatu daerah tersebut mulai ditinggalkan, yang akhirnya menimbulkan lunturnya rasa cinta dan bangga terhadap budaya lokal.

Pemikiran mengenai penanaman cinta budaya lokal merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa kesadaran, untuk lebih peka dan memandang budaya sebagai suatu kekuatan dan kekayaan yang harus dipertahankan. Budaya bukan hanya sebatas sebuah kesenian saja, tetapi lebih dari kearifan lokal, karakter yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat.

Tudung Manto memiliki keistimewaan bagi masyarakat Daik Lingga, dan telah menjadi identitas masyarakat Daik Lingga. Tudung Manto merupakan kelengkapan pakaian adat perempuan Melayu Daik, berupa kain tipis penutup kepala yang terbuat dari berbagai jenis kain kase, kain sifon, kain sari, dan kain sutera dengan warna tertentu seperti: Kuning, Hijau, Merah, Hitam, dan Putih.

Ciri khas utama Tudung Manto adalah hiasan tekat ataupun emas yang disebut genggeng atau kelingkan (sejenis benang emas). Kelingkan adalah hiasan wajib dalam pembuatan Tudung Manto, dan tidak boleh diganti dengan bahan hiasan lainnya.

Tudung manto memiliki 12 motif di antaranya: Motif Tampuk Manggis, Motif Awan Larat, Motif Pecah Piring, Motif Bunga Kangkung, Motif Bunga Kundur, Motif Pecah Piring, Motif Bunga Teratai, Motif Bunga Melur, Motif Kelok Paku, Motif Kuntum Sekaki, Motif Itik Pulang Petang, Motif Semut Beriring, dan setiap motif Tudung Manto memiliki makna.

Seiring perkembangan zaman, biaya produksi yang semakin tinggi menjadikan Tudung Manto sulit dijangkau pembeli, sehingga dampak berimbas pada pesanan. Kesulitan order ini menyebabkan semakin berkurangnya jumlah pengrajin Tudung Manto, hal itu terbukti pada setiap tahunnya.

Saat ini, hanya empat orang pengrajin di Daik Lingga yang masih aktif memproduksi Tudung Manto. Permasalahan ini merangsang Winda Karina, kecintaannya terhadap budaya lokal yang terdapat di daerah kelahirannya yaitu Daik Lingga memfokuskan pada upaya melestarikan Tudung Manto.

Winda Karina sebagai pengkarya, mencoba menawarkan sebuah pemikiran atau gagasan yang akan mengungkapkan persoalan tersebut. Fenomena kelangkaan pengrajin Tudung Manto dijadikan sumber penciptaan, kecemasaan yang dirasakan Winda terhadap fase menipisnya pengrajin dan produksi Tudung Manto.

Maka tergaraplah sebuah karya bertajuk 'Tudong', yang memiliki arti penutup kepala. Karya Tudong diciptakan untuk memenuhi persyaratan mencapai gelar Sarjana Seni S1 Program Studi Seni Tari.

Dalam proses penggarapan Karya Tudong telah dilakukan sejak akhir bulan Mei 2019, yang telah melewati proses bimbingan dengan Dosen Pembimbing yaitu Asnimar M.Sn dan Oktavianus M.Sn, dengan jumlah durasi 24 menit yang akan diuji oleh Dewan Penguji yaitu: Ali Sukri, M.Sn; Dr Rasmida M.Sn dan Syaril Alex M.Sn.

Karya Tudong akan digelar di Gedung Pertunjukkan Hoeridjah Adam Institut Seni Indonesia Padangpanjang, pada tanggal 21 Juli 2019 pukul 20.00 WIB.

Tipe dramatik digunakan dalam karya Tudong, akan mendeskripsikan sebuah sajian yang pada bagian 1 adegan 1 menggambarkan seorang tokoh yang memperkenalkan proses pembuatan Tudung Manto. Hal ini telah diamati secara langsung oleh pengkarya, bagaimana proses pembuatan Tudung Manto.

Ada beberapa aktivitas yang sangat menarik, begitupun proses pembuatan Tudung Manto memiliki beberapa tahapan. Selanjutnya bagian 1 adegan 2 menggambarkan proses pembuatan Tudung Manto yang dilakukan secara bersamaan antar beberapa orang pengrajin.

Selanjutnya, pada bagian 2 adegan 1 menggambarkan proses awal menipisnya pengrajin dalam membuat Tudung Manto, dan adegan 2 menggambarkan persoalan kelangkaan dari Tudung Manto. Pada bagian akhir karya (bagian 3) menggambarkan usaha seseorang dalam mempertahankan kearifan lokal budaya yaitu Tudung Manto, dan adanya penggambaran usaha seseorang dalam mengajak dan membawa masyarakat atau pengrajin agar sadar untuk mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal budaya yaitu Tudung manto.

Karya Tudong menggunakan empat buah properti yang berbentuk segi empat, segi tiga, jajar genjang, dan segi panjang, terbuat dari kayu yang akan dimasuki oleh penari di dalamnya. Keseluruhan properti diberikan tali, agar dapat membangun suasana bagian pada karya.

Harapan yang ingin disampaikan pengkarya (Winda) dari karya Tudong adalah, pengkarya ingin menyampaikan pesan bahwa pentingnya mempertahankan budaya lokal yaitu Tudung Manto sebagai ciri khas (identitas budaya).

Karya Tudong didukung 6 orang penari yaitu Poppy Izzati, Peggy Yuliyas Putri, Sindy Martina Nova, Silvia Anggraini, Luly Arthaz dan Winda Karina. Selanjutnya Alfiansyah Saputra sebagai Komposer (penata musik) yang didukung oleh Jumaidil Firdaus sebagai Konsultan musik, dan selanjutnya pemusik yaitu Salman Alfarisi, Josua Effendi, M.Farhan, Deny, Mirnawati, Fajar, Capaik, Bakar, dan Alfiansyah.

Adapun tim produksi yang terlibat dalam Karya Tudong adalah Suci Intan Maulia, M.Sn (Pimpinan Produksi), I Dewa Ayu Sri Utari, M.Sn (Stage Manager) Hamdani Johanes, S.Sn (Penata Lampu) Berry Prima, S.Sn (Sound Sistem), Ayu Permata Sari dan Ervina (Rias & Kostum), David Andaresta, M.Nasir dan Andesa Putra (Perlengkapan) Millenia Larasati dan Julita Putri Ardiani (Tim Konsumsi).

Penulis adalah Pimpinan Produksi Karya Tudong yang akan digelar di Gedung Pertunjukkan Hoeridjah Adam Institut Seni Indonesia Padangpanjang, pada tanggal 21 Juli 2019.