PKP

Penderita Gagal Ginjal di Kepri Capai 800 Orang
Oleh : Redaksi
Senin | 24-06-2019 | 16:04 WIB
ginjal-rusak.jpg honda-batam
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana. (Dok Batamtoday.com)

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Jumlah penderita gagal ginjal di Kepri cukup mengkhawatirkan. Selama sembilan tahun terakhir, penderita gagal ginjal di Kepri naik sepuluh kali lipat.

Padahal belum semua daerah di Kepri memiliki fasilitas pencucian darah atau hemodialisa (Hd). "Kalau kita lihat-lihat, kasus gagal ginjal di Kepri sangat tinggi. Pada 2011 kasus gagal ginjal di Kepri hanya 85. Sekarang sudah mencapai 800 lebih. Dalam kurun waktu sembilan tahun, naik sepuluh kali lipat," sebut Tjetjep Yudiana, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Senin (24/6/2019) seperti dikutip situs resmi Diskominfo Kepri.

Sebanyak 800 lebih penderita gagal ginjal di Kepri tersebut terpaksa menjalani pencucian darah atau hemodialisa (Hd). Yang terparah terpaksa menjalani Hd sebanyak dua hingga tiga kali dalam sepekan.

Sebagian dari mereka terpaksa harus berpergian ke Batam, Tanjungpinang atau Karimun untuk melakukan Hd. Pasalnya belum semua daerah di Kepri memiliki alat untuk Hd.

"Tanjungpinang, Batam, Karimun punya. Kalau tidak salah, Natuna juga sudah punya. Jadi kalau penderita ginjal dari daerah lain, harus ke daerah yang punya alatnya untuk Hd. Bayangkan, ini menjadi beban," tambah Tjetjep.

Ditambah lagi, kini gagal ginjal tak mengenal usia. Tak sedikit penderita ginjal yang masih berusia muda.

Penyebabnya adalah pola hidup yang kurang baik. Minuman kaleng termasuk penyebab gagal ginjal. Mulai dari kadar gula, perasa hingga pewarna pada minuman kaleng menyumbang penyebab gagal ginjal.

"Itu berdampak jangka panjang pada ginjal. Kalau minum yang wajar, air putih. Jika konsumsi gula, jangan berlebihan. Jangan konsumsi minuman keras, minuman kaleng. Air putih satu hari delapan gelas," terang Tjetjep.

Kini banyak beredar di internet, pengobatan herbal untuk gagal ginjal. Mulai dari minum air daun seledri hingga daun salam.

"Betul juga. Cuma harus dipelajari dosisnya. Karena setiap obat ada dosisnya. Kalau ada di internet, jangan diterima mentah-mentah," Tjetjep mengingatkan.

Sebaiknya sebelum mengkonsumsi pengobatan herbal, agar berkonsultasi dengan ahli herbal. "Ada di rumah sakit dan Puskesmas. Kalau berlebihan, semua yang berlebihan bisa membahayakan," tutup Tjetjep.

Editor: Gokli