Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Bijak dalam Menyikapi Informasi Tentang Pilpres, Menuju Pemilu Damai
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 15-03-2019 | 16:16 WIB
susanti-stisipol1.jpg Honda-Batam
Susanti Mysha mahasiswa STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang.

Oleh : Susanti Mysha

Dengan semakin dekatnya pemilihan Presiden 2019 kita sebagai masyarakat atau mahasiswa yang akan ikut serta dalam pemilihan calon Presiden hendaknya menjadi pemilih yang bijak, yang sama-sama kita ketahui suasana pemilihan Presiden ini sudah terlanjur hangat sejak tahun 2017 lalu, salah satunya adalah adanya Hastag atau tanda pagar seperti #2019GantiPresiden dan #2019TetapJokowi.

Kemudian tentang tagar #2019GantiPresiden pertama kali digagas oleh politikus PKS Mardani Serta, pada awalnya tagar tersebut tidak dipermasalahkan, namun belakangan tagar ini mulai dipermasalahkan karena
eksistensi dalam bentuk deklarasi di berbagai wilayah. Menyikapi tagar tersebut muncul tagar-tagar seperti #Jokowi2Periode dan #2019TetapJokowi yang belum tahu pasti siapa yang memulai pertama kali.

Selain tagar banyak juga media-media khususnya para pendukung Calon Presiden masing-masing yang saling menjelek-jelekkan saling beradu satu sama lain, meyampaikan informasi-informasi yang belum jelas kebenarannya (hoax) guna membela pilihannya masing-masing.

Kondisi seperti ini sangat memprihatinkan banyaknya rakyat Indonesia yang tidak bijak dalam
menyampaikan informasi yang justru hal seperti ini dapat menimbulkan konflik bagi Indonesia sendiri, Pandangan ini jelas kurang nyaman dilihat, sebab esensi dari pemilihan presiden adalah menghadirkan sosok Calon presiden untuk dipilih publik di bilik suara. Pemilihan Presiden merupakan suatu ajang bagi masyarakat Indonesia untuk menentukan pemimpin secara demokrastis untuk menghasilkan pemimpin
yang baik kedepannya bukan malah menghadirkan konflik.

Bukankah sudah jelas menurut pasal 7 Undang-undang Dasar Negara Repubilk Indonesia Tahun 1945, tentang Calon presiden "Presiden dan wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya satu kali masa jabatan", kemudian pilpres disini harus menjadi ajang adu ide, gagasan dan pikiran untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, mandiri dan berdaulat, jadi Pilpres bukanlah suatu perang yang membuat keadaan menjadi tegang dan saling
menyerang. Pilpres adalah momentum untuk menguatkan nilai persaudaraan sesama bangsa.

Namun banyaknya media atau informasi tentang Pilpres yang bersifat tidak jelas kebenarannya seperti Isu Mahar yang berawal dari cuitan Wakil Sekertaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief tentang pemberian imbalan untuk pemilihan calon wakil presiden kepada PKS dan PAN sebesar 1 triliun rupiah, kasus ini telah ditelusuri bawaslu dan dinyatakan bahwa isu ini tidak benar.

Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa stasiun televisi yang bisa kita saksikan bersama di seluruh Nusantara, ada saja stasiun televisi yang dengan sengaja membuat porsi pemberitaannya atas pesanan seseorang atau sengaja diciptakan untuk memancing argumen beragam dari masyarakat. Pemberitaan
yang terkadang tidak berimbang itu dipertontonkan hanya untuk menciptakan opini positif terhadap salah satu pasangan calon.

Menyikapi masih adanya pihak-pihak tertentu atau kelompok tertentu yang menginginkan terjadinya keributan jelang Pemilu dan Pilpres 2019 mendatang perlu mendapat perhatian dari seluruh masyarakat. Netralitas media dalam pemberitaan yang ada jadi tidak berimbang dan terkesan mendukung salah satu pasangan calon. Netralitas media massa dan media elektronik dalam melakukan fungsinya sebagai penyampai informasi yang aktual harus dilakukan dari sekarang. Banyak sedikitnya penayangan yang berhubungan dengan transformasi
ataupun sosialisasi visi dan misi dari sebuah Partai maupun calon yang dijagokannya akan sangat mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap calon yang diusung.

Seperti yang kita ketahui ini adalah tantangan bagi Indonesia dengan keberadaan media sosial yang luar biasa ini. Apalagi dengan berbagai isu yang terus-menerus tersebar setiap detiknya baik melalui media massa cetak, radio, media online dan media elektronik. Kondisi ini diperkirakan hampir sama seperti Pemilihan Presiden pada tahun 2014 lalu, juga pemilihan kepala Daerah DKI Jakarta pada tahun 2017 lalu. Karena itu kedewasaan masyarakat sebagai pemilik suara menjadi sangat penting.

Jadi untuk seluruh pendukung calon-calon hendaknya dapat mempromosikan kebaikan dan kelebihan calon yang didukung saja sehingga masyarakat dapat mendengarkan dan lebih penting lagi berita tersebut tidak
menimbulkan kebencian dan perpecahan untuk negara kita. Keberadaan media di harapkan dapat mensukseskan Pilpres dengan memberitakan hal-hal yang mendidik serta menyebarkan informasi yang benar tanpa hoax atau informasi rekayasa yang diciptakan demi untuk menghancurkan calon lain. Banyaknya
media online yang bermunculan saat jelang Pemilihan Presiden telah ikut berpartisipasi dalam meramaikan pemberitaan dukung mendukung calon masing- masing.

Dan banyak lagi yang belum dapat saya sampai kan satu persatu dari berita. Kemudian dalam hal ini tentu peran mahasiswa sangat lah penting untuk menjelaskan atau memberi titik terang kepada masyarakat awam yang ikut-ikutan dalam aksi ini. Untuk mengembalikan keadaan rakyat Indonesia yang tengah
panas.

Menurut pakar komunikasi politik dari universitas Hendri Satrio (https://www.merdeka.com) mengajak seluruh masyarakat agar lebih bijaksana, menurutnya masyarakat harus bertanggungjawab dalam mengelola media sosial sehingga harus disampaikan informasi yang benar dan menyejukkan maka Sampaikan hal positif hindari menyebarkan berita Hoax dan ujaran kebencian apalagi fitnah jangan sampai kita tergabung dengan kelompok yang menginginkan Indonesia tidak damai dengan cara menyampaikan berita yang mengarah pada
kekerasan dan perpecahan bangsa.

Media massa memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi akurat tentang calon-calon yang muncul. Siapa pun nantinya yang terpilih menjadi pemimpin negeri ini lima tahun ke depan tidak terlepas dari kedewasaan masyarakat untuk menentukan pilihan yang tepat. Sikap kita yang paling penting adalah bijaksana dalam mencermati setiap pemberitaan yang disajikan media massa cetak, radio, media online dan media elektronik.

Jika porsi pemberitaannya tidak berimbang segera tinggalkan dan beralih ke informasi yang akurat dan
benar. Sikap menahan diri dan tidak mudah terpancing dengan segala bentuk pemberitaan akan membawa kita ke alam demokrasi yang lebih baik. Agar negara kita tercinta ini tidak terjadi konflik antar suku bangsa, agama dan lainnya. Siapapun yang terpilih menjadi Presiden Indonesia lima tahun kedepan semoga dapat membawa negara Indonesia menjadi terdepan dalam segi positif dan mampu mensejahterakan rakyat lebih baik lagi guna kenyaman bersama. (*)

Penulis adalah Mahasiswi Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, Program studi Ilmu Administrasi Publik