PKP

Akhir Nestapa Nenek Sri Sumiati di Belakangpadang
Oleh : Romi Candra
Sabtu | 02-02-2019 | 17:52 WIB
nenek-sri-2.jpg honda-batam
Rumah baru nenek Sri Sumiati yang layak huni. (Foto: Romi Chandra)

MERANA di usia senja, siapa yang menginginkannya. Pun Sri Sumiati, nenek lumpuh berusia 75 tahun. Tinggal di rumah reot beratap seng tanpa atap, terbayang sudah betapa panasnya. Syukurlah, nestapa nenek Sri berakhir sudah, setelah Polsek Belakangpadang bersama masyarakat, botongroyong membangunkannya rumah layak huni. Bagaimana akhir nestapa nenek Sri? Berikut catatan wartawan BATAMTODAY.COM, Romi Chandra.

Di usia senja, tentunya semua ingin menikmati suasana santai, menikmati hidup, tak perlu harus berjuang lagi. Namun terkadang apa yang diinginkan, tidak sesuai dengan kenyataan. hal itulah dirasakan Sri Sumiati, seorang nenek berusia 75 tahun yang tinggal di Belakangpadang.

Selain hidup di bawah garis kemiskinan, ia juga harus menerima nasib berjuang melawan penyakit yang diderita. Yah, Nenek Sri hanya bisa bisa berbaring lemah di tempat tidur sejak 8 tahun lalu, akibat serangan penyakit stroke. Namun akhirnya Nenek Sri bisa sedikit lega, karena bisa menempati rumah layak huni berkat uluran tangan Polsek Balakangpadang berasama masyarakatnya.

Tidak terbayangkan, bagaimana rasanya tinggal di dalam rumah dengan atap seng tanpa ada lotengnya. Hawa panas tentunya langsung terasa seakan bisa membuat tubuh ini melepuh.

Selama delapan tahun Nenek Sri hanya bisa terbaring di tempat tidur tanpa ada kipas angin agar bisa sedikit memberikan hawa sejuk.

Baca: Lumpuh 8 Tahun, Nenek Sri Akhirnya Bisa Tempati Rumah Layak Huni

Ingin berteriak menolak keadaan itu, mulut kaku. Ingin keluar menikmati sejuknya hembusan angin, tubuh tidak bisa digerakkan. Bahkan untuk sekedar duduk saja, Nenek Sri tidak berdaya.

Penderitaan tidak hanya sampai di sana saja. Kala malam mulai turun, terjangan angin laut juga harus menemati untuk sekedar memejamkan mata. Ketika hujan membasahi bumipun, Nenek Sri harus merasakannya akibat atap yang sudah rapuh dan bocor di sana sini.

Namun, rasa syukur tetap tidak luput dari dirinya bersama cucunya, Roni Arffaneza (36), yang dengan sabar merawatnya. Ya, meski kondisi rumah panggung yang ditempati demikian, itu merupakan kemurahhatian masyarakat sekitar. Mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar sewa setiap bulannya.

"Sudah bisa tinggal dan berteduh, kami sudah sangat beryukur karena masih ada yang mau peduli," ujar Roni kepada beberapa awak media, Jumat (1/2/2019).

Bukan tidak mau berusaha, Roni juga terus berusaha mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hanya saja, ia tidak bisa membawa sang nenek untuk mendapatkan pengobatan yang layak.

Nenek Sri, merupakan nenek tirinya. Namun, ia sudah dirawat sejak berusia 3 bulan. "Kakek saya memiliki tiga istri. Salah satunya mamak (Nenek Sri). Saya sudah bersamanya sejah usia 3 bulan," ujar Roni, yang terbiasa memanggil neneknya dengan sebutan mamak.

Roni melanjutkan, sulitnya mendapatkan pekerjaan, membuat ia terkendala untuk memenuhi kebuthhan. ia juga tidak pilih-pilih, apa saja yang bisa menjadi uang, ia lakukan.

"Yang penting halal saya lakukan. Pekerjaan saya tidak tentu. Mau melaut, kami juga tidak punya kapal. Mau ikut sama orang, kondisi di laut juga tidak tentu," tambahnya.

Diceritakan Roni, kondisi neneknya saat ini, yang bisa digerakkan hanya tangan sebelah kiri. Sementara bagian tubuh lainnya sudah tidak berfungsi.

"Dulu masih bisa duduk karena saya bantu. Tapi sekarang rubuhnya sudah kaku. Smeua itu karena tidak dilakukan terapi. Kami tidak punya BPJS, jadi tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis," akunya.

Meski hidup dalam kemiskinan. Ia mendapatkan pelajaran dari Nenek Sri, unntuk tidak meminta-minta pada orang lain. Hal itu lah yang membuat Roni berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan di rumah.

"Tapi usaha yang saya lakukan masih belum membuahkan hasil. Untuk makan saja terkadang kami tidak punya uang. Untungnya selama ini pihak Vihara yang ada di Belakangpadang memberi kami makanan setiap hari," terangnya.

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu Kapolsek Belakangpadang bersama babinkamtibmasnya menjambangi setiap rumah masyarakat kurang mampu untuk memberikan bantuan. Sehingga, ia dan nenek Sri bisa memiliki tempat tinggal baru yang lebih layak.

"Kalau dibilang layak, memang sanat layak di rumah baru ini. Disini ada kamar mandi, kalau di tempat lama tidak ada. Disini kami tidak perlu kepanansan karena sejuk. Atapnya juga tidak bocor," tambahnya lagi.

Rasa tidak percaya, masih terbesit di benaknya, akan mendapat perhatian dari masyarakat Belakangpadang. "Rasa syukur dan terimakasih sedalam-dalamnya saya sampaikan kepada masyarakat dan Kapolsek yang telah mengulurkan tangan bermurah hati membantu kami," sebutnya.

Dengan bantuan yang diberikan ini, juga membuka mata Roni, bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Ia, juga optimis untuk bisa berusaha lebih maksimal untuk merubah hidupnya.

Dengan kata lain, kepedulian terhadap sesama sangat penting dimiliki. Membantu juga bisa dilakukan dengan berbagai cara. "Terimakasih, para dermawan yang masih mau meringankan kami beban hidup kami," pungkasnya.

Editor: Dardani