Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ini 3 Terapi untuk Pecandu Gadget
Oleh : Redaksi
Sabtu | 07-07-2018 | 19:28 WIB
gadget-ok.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Akibat penetrasi gadget yang terus meningkat, kasus adiksi atau kecanduan semakin banyak ditemukan. Untuk itu, ada baiknya Anda mengetahui apa saja terapi untuk menghadapi adiksi terhadap gadget.

Seseorang yang mengalami kecenderungan kecanduan memerlukan psikoterapi bahkan farmakoterapi untuk mengurangi tingkat adiksi dan dampak yang dialami.

Ada tiga jenis terapi yang digunakan para praktisi psikiatri untuk menangani kasus adiksi, yakni:

1. Cognitive Behavior Therapy (CBT)

Spesialis kedokteran jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Kristiana Siste mengatakan orang yang memiliki ketergantungan terhadap sesuatu, dia sudah mempunyai pola pikir tertentu. Untuk itu, CBT digunakan untuk memodifikasi pikiran-pikiran negatif agar dapat disubstitusi dengan pola pikir yang lebih positif.

"Dia kan sudah punya pikiran bahwa dengan main game saya senang, kalau saya mau senang saya harus game. Nah, untuk memodifikasi pikirannya, kita ganti menggunakan metode ini," ujarnya.

2. Motivational Interview (MI)

Metode ini lebih cocok bagi pasien pra remaja dan dewasa muda. Mengingat pengambilan keputusan atau otonomi dalam terapi sepenuhnya ada di tangan pasien.

3. Terapi Perilaku

Metode ini dilakukan dengan cara memodifikasi lingkungan untuk menurunkan motivasi pasien untuk menghambat ketergantungannya. Salah satu contohnya, untuk pasien yang kecanduan gadget dan internet.

Pasien perlu membuat aturan, misalnya menggunakan gadget hanya di area keluarga atau tidak ada menyediakan fasilitas Wifi di kamar.

"Bermain game itu untuk senang. Nah, pasien perlu dialihkan ke berbagai bentuk aktivitas atau kegiatan yang menyenangkan. Perlu digali aktivitas nyata yang bisa membuat senang misalnya kemping atau memasak," lanjut Siste.

Adapun pendekatan pengobatan hanya diberikan kepada pasien dengan co-morbid, misalnya dengan gangguan kecemasan atau depresi.

Sumber: Bisnis.com
Editor: Gokli