Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Lawan Hoax, Google Gandeng 22 Media Massa dan Kelompok Masyarakat Luncurkan Cekfakta.com
Oleh : Redaksi
Minggu | 06-05-2018 | 09:04 WIB
cekfakta.jpg Honda-Batam
Sebanyak 22 media massa di Indonesia, kelompok masyarakat, dan Google berkolaborasi untuk melawan hoax

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Hoax di internet menjadi musuh bersama. Sebanyak 22 media massa di Indonesia, kelompok masyarakat, dan Google berkolaborasi untuk melawan hoax. Sebuah pertemuan bertajuk 'Trusted Media Summit 2018' digelar di Hotel Gran Melia, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5/2018).

Acara ini digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Internews, dan Google News Initiative.

Menurut Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Niken Widastuti, 53 persen masyarakat Indonesia terhubung dengan internet. Empat dari 10 orang Indonesia aktif di media sosial. Namun di sisi lain, minat baca Indonesia sangat rendah. Menurut UNESCO, Indonesia ada di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca.

"Masyarakat Indonesia dalam menambah ilmu pengetahuan dan informasi dari buku sangat rendah. Tetapi masyarakat Indonesia sangat aktif di media sosial," kata Niken.

Pola komunikasi di media sosial diibaratkannya punya proporsi 10 persen produsen informasi dan 90 persen adalah penyebar informasi. Akan berbahaya bila hoax mendominasi produk informasi.

Ketua Umum AJI Abdul Manan menjelaskan saat ini masyarakat sedang mengarah ke perilaku tidak percaya terhadap platform (media sosial), misalnya ada gerakan 'delete Facebook'. Di sisi lain, kepercayaan publik terhadap media massa mulai bangkit.

"Menurut saya, ini atmosfer yang cukup bagus bagi wartawan dan media untuk mengambil kembali peran 'konservatif' yang kita miliki," kata Manan.

Maka, pada acara hari ini dan Minggu (6/5) besok, akan ada pelatihan bagi jurnalis demi meningkatkan kemampuan mengecek fakta. Cara menangkal hoax dan melakukan verifikasi di sini adalah menggunakan peralatan-peralatan yang tersedia di internet. Pelatihan ini merupakan rangkaian Google News Initiative Training Network, yang dilakukan AJI bersama Internews dan Google. Pelatihan dua hari untuk jurnalis dan sukarelawan Mafindo ini ini tidak dikenai biaya dan dilangsungkan dalam bahasa Indonesia oleh pelatih-pelatih tersertifikasi Google.

Cara menangkal hoax adalah menjalankan prinsip verifikasi. Menurut dia, verifikasi terhadap informasi yang beredar adalah hal penting dalam jurnalisme. "Salah satu instrumen dalam mencari kebenaran adalah verifikasi," kata Manan.

Brian D Hanley, Direktur Regional Internews, menjelaskan kolaborasi ini memang bertujuan mengembalikan kepercayaan terhadap jurnalisme. Secara umum, informasi perlu dikelola dengan baik dan dijauhkan dari hoax.

"Information is power," kata Brian.

Mereka meluncurkan situs Cek Fakta (cekfakta.com). Situs ini akan diisi secara gotong royong oleh 22 media massa, yang bentuknya produk-produk klarifikasi hoax dan fakta terkait informasi.
"Semua operasionalnya ditanggung oleh media masing-masing. Kontennya tetap dikerjakan redaksi media-media," kata Sekjen AMS Wahyu Dhyatmika.

"Kita tidak mengharapkan pendanaan dari pemerintahan," imbuh Ketua Mafindo Septiaji Eko Nugroho.

Masyarakat umum (non-wartawan) juga bisa berpartisipasi lewat pengiriman informasi ke jejaring Mafindo (Turn Back Hoax). Ada pula aplikasi berbasis Android bernama Hoax Buster Tools yang mereka kembangkan dan masyarakat bisa mengirimkan informasi via aplikasi itu.

Editor: Surya