Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ekonomi Kepri Tumbuh 5,16 Persen di Triwulan I-2025, Inflasi Terkendali dan Industri Meningkat
Oleh : Aldy Daeng
Selasa | 06-05-2025 | 15:24 WIB
AR-BTD-4349-BI-Kepri.jpg Honda-Batam
Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto. (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Batam - Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat pertumbuhan ekonomi positif sebesar 5,16 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I-2025, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Angka ini menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Pulau Sumatera, naik tipis dari capaian triwulan sebelumnya sebesar 5,14 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto, menyampaikan penguatan ekonomi Kepri didorong oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh signifikan sebesar 7,30 persen. Pertumbuhan ini dikaitkan dengan meningkatnya permintaan terhadap produk elektronik dan aktivitas galangan kapal yang terus menggeliat.

"Selain industri, sektor perdagangan juga mencatatkan kinerja impresif dengan pertumbuhan 10,29 persen, seiring meningkatnya konsumsi masyarakat selama Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Idulfitri," ujar Rony di Batam, Selasa (6/5/2025).

Sektor konstruksi pun tumbuh sebesar 3,84 persen dan turut menopang struktur ekonomi Kepri. Dari sisi pengeluaran, net ekspor mencatat lonjakan sebesar 14,47 persen, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 3,27 persen. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh stabil pada angka 3,15 persen.

Rony menambahkan, prospek ekonomi Kepri ke depan tetap cerah. Momentum libur panjang Idulfitri di triwulan II-2025 diyakini akan mendorong konsumsi domestik lebih lanjut. Di samping itu, pengembangan energi hijau, keberlanjutan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah Kepri diperkirakan akan memperkuat sektor industri, konstruksi, serta penyerapan tenaga kerja.

Inflasi April Terkendali, TPID dan BI Terus Jaga Stabilitas Harga

Di sisi lain, inflasi Kepri pada April 2025 tercatat sebesar 0,59 persen (month-to-month/mtm), sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (0,38 persen). Secara tahunan, inflasi mencapai 2,56 persen (yoy), masih dalam kisaran target nasional.

"Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan, dengan kontribusi 0,23 persen, terutama karena kenaikan harga emas. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga menyumbang 0,20 persen karena naiknya harga bahan pangan selama Idulfitri," jelas Rony.

Namun, lanjutnya, harga beberapa komoditas seperti cabai rawit, bawang merah, dan tomat mengalami penurunan, sehingga menahan inflasi agar tidak lebih tinggi.

Menurut Rony, keberhasilan menjaga inflasi tidak terlepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang bersinergi erat dengan Bank Indonesia. Sejumlah langkah konkret telah dilakukan, termasuk penanaman perdana cabai, penyelenggaraan bazar pangan murah, dan kampanye edukatif di media sosial.

"Upaya ini merupakan bagian dari strategi 4K melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif," paparnya.

Ke depan, lanjut Rony, sinergi antara TPID dan Bank Indonesia akan terus diperkuat untuk menjaga kestabilan harga, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan memastikan kesejahteraan masyarakat Kepri tetap terjaga.

Editor: Gokli