Pemerintah Sebaiknya Bangun Dam Baru di Batam untuk Penuhi Kebutuhan Air Bersih
Oleh : Roni Ginting
Jum'at | 11-03-2016 | 10:44 WIB
IMG_2288.JPG
Dam Duriangkang yang menjadi sumber air baku andalan Pulau Batam (Foto : Rini Ginting)

BATAMTODAY.COM, Batam - Meski Batam hanya sebuah kota di Indonesia, beberapa pelanggan kerap berharap agar kualitas pelayanan air bersih di Batam tidak jauh berbeda dengan Singapura.

Apalagi Batam merupakan daerah pesisir yang kaya akan air laut dan hanya mengandalkan air hujan sebagai satu-satunya air baku yang akan diolah sebagai air bersih.

Masyarakat berpendapat, bila ATB mulai menyuling air laut untuk dijadikan air bersih, Batam tidak lagi terlalu tergantung dengan air hujan.

Namun ada beberapa konsekuensi bila kita menyuling air laut untuk dijadikan sebagai air minum. Pertama adalah konsekuensi biaya yang tidak murah untuk membangun instalasi pengolahan air. Investasi IPA yang memerlukan biaya tidak sedikit nantinya akan berimbas pada harga jual air yang lebih mahal berlipat-lipat dari saat ini.

"Belum lagi kandungan SWRO yang tidak memiliki mineral yang diperlukan oleh tubuh,” jelas Corporate Communication Manager ATB Enriqo Moreno, Jumat (11/3/2016).

Ia melanjutkan, Singapura saja yang memiliki dana tidak terbatas untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi, tetap memilih mengambil air baku dari Johor, Malaysia. Air sulingan dari laut tetap mereka gunakan, namun sifatnya hanya cadangan, bukan sebagai konsumsi utama.

"Karena air olahan SWRO kurang eknomis, pemerintah sebaiknya mulai memikirkan untuk membangun Dam baru atau mengambil cadangan air baku dari daerah lain," ungkapnya.

Sebenarnya, lanjut Enriqo, dengan tambahan Dam Tembesi yang berkapasitas 600 liter/detik, Batam akan memiliki sumber air baku sebanyak 4.450 liter/detik.

Kebocoran air ATB saat ini sekitar 15 persen hingga 16 persen. Itu berarti ATB hanya menggunakan air 3.100 hingga 3.200 liter/detik.

Bila penggunaan air di Kota Batam sama seperti pola konsumsi saat ini. air baku di Kota Batam cukup hingga tujuh tahun ke depan.

"Dengan kata lain, bila jumlah penduduk bertambah tanpa menambah jumlah air baku, kenyamanan penggunaan air akan mulai terganggu pada tahun 2023," tegasnya.

Editor : Udin