Jaga Hutan, Jaga Sumber Air Kita
Oleh : Redaksi
Kamis | 13-06-2019 | 17:28 WIB
Atb-penghijauan1.jpg
Kontribusi ATB Festival Hijau mengembalikan fungsi hutan sebagai daerah resapan air dengan penanaman bibit pohon secara reguler. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Fungsi hutan sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Selain menjaga persediaan air dalam tanah, hutan juga merupakan salah satu pendukung keseimbangan alam untuk mencegah berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor dan pencemaran udara.

Hutan memiliki keanekaragaman hayati yang apabila dikelola dengan benar mampu memberikan nilai ekonomi sebagai mata pencaharian.

Indonesia masuk dalam sepuluh besar negara dengan wilayah hutan terluas di dunia. Namun hutan di Indonesia jumlahnya semakin berkurang dari tahun ke tahun. Data Greenpeace menyebutkan, dalam periode tahun 2000-2009 saja, luas hutan Indonesia yang mengalami deforestasi mencapai 15,16 juta hektare.

Lingkungan kita berada pada satu bumi dan tidak ada duplikatnya. Untuk itu, kita harus menjaga sebaik mungkin isi bumi kita. Salah satu komponen dari lingkungan kita yang mampu memberikan kelangsungan hidup adalah menjaga kelangsungan air bersih.

Menjaga hutan sebagai "paru-paru bumi" memerlukan penanganan khusus, berkesinambungan, terintegrasi dan sinergi dari berbagai pihak. PT Adhya Tirta Batam (ATB) telah melakukan aksi nyata untuk mengembalikan kondisi hutan menjadi hijau kembali melalui kegiatan ATB Festival Hijau.

Sejak tahun 2011 hingga 2018, ATB Festival Hijau berkontribusi menanam 10.700 bibit pohon di kawasan hutan dan daerah resapan air sekitar waduk-waduk yang ada di Batam. Tahun ini, ATB Festival Hijau akan menggandeng 20 komunitas pencinta alam untuk penanaman dan perawatan pasca tanam (nursery) bibit pohon. Hal ini untuk memastikan bahwa reboisasi hutan berlangsung efektif dan tepat sasaran.

ATB sangat menyadari pentingnya melakukan rehabilitasi hutan dalam rangka memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan sehingga optimal dalam mendukung ekosistem kehidupan serta kelestarian air bersih. Kebakaran hutan yang terjadi dalam rentang beberapa bulan terakhir, berdampak pada berkurangnya daerah resapan air. Hal ini secara tidak langsung akan berimbas pada ketahanan air baku di Pulau Batam.

Masyarakat yang tinggal di Pulau Batam harus menyadari bahwa tindakan yang berpotensi merusak lingkungan bisa mengakibatkan kondisi air waduk menjadi tidak ideal. Sebagai contoh, kondisi Waduk Sei Harapan yang sempat mengering akibat sedimentasi lumpur, sampah dari aktivitas manusia dan daerah resapan air yang berkurang karena terdesak pemukiman serta kebakaran hutan, harus mengalami penggiliran air bersih (Water Rationing) untuk menjaga ketahanan air baku.

Kita memahami, bahwa kebutuhan air bersih sebagai air layak konsumsi akan semakin tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Sementara Batam masih mengalami keterbatasan sumber daya air. Solusi terbaik adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghemat penggunaan air.

Alam semesta mengajarkan bahwa ekosistem adalah keseimbangan yang menghubungkan jagad raya dan menggerakkan kehidupan. Ketika sumber air tercemar, hutan akan hancur, ekosistem akan lumpuh, satwa akan mati dan spesies manusia bisa terancam punah. Saatnya melestarikan ekosistem hutan dan menjaga sumber daya air untuk menyelamatkan kehidupan.

Editor: Yudha