Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Paslon Perseorangan dan Krisis Legitimasi Parpol

31-03-2020 | 13:52 WIB

Oleh Dr. Ade Reza Hariyadi

PILKADA serentak tahun 2018 yang digelar di 171 daerah, tercatat diikuti oleh 512 kandidat, 78 kandidat diantaranya maju melalui jalur perseorangan atau independen. Naiknya animo masyarakat ikut Pilkada lewat jalur perseorangan juga terjadi di Pilkada tahun 2020.

Secara serentak 270 daerah (9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota) akan menggelar Pilkada. Data sementara yang dirilis KPU, ada 149 bakal paslon dari jalur perseorangan dengan rincian 147 bakal paslon perseorangan untuk pilkada kabupaten/kota dan 2 bakal paslon perseorangan untuk pilkada propinsi.

Masyarakat Tak Boleh Lengah Mewaspadai Radikalisme

30-03-2020 | 14:00 WIB

Oleh Hananto

RADIKALISME masih menjadi ancaman besar bagi bangsa Indonesia. Masyarakat dan Pemerintah tidak boleh lengah dalam menyikapi penyebaran radikalisme di Indonesia.

Gembar-gembor online radikalisme memang mulai terasa. Mengapa secara online? Coba lihat perkembangan dunia digital saat ini.

Penyemprotan Disinfektan ke Manusia, Amankah?

30-03-2020 | 13:32 WIB

Oleh Jelita Chantiqa

KEBERADAAN bilik atau chamber disinfektan belakangan ini makin mudah ditemukan, baik di kantor-kantor pemerintah, kantor swasta maupun fasilitas publik, termasuk mudah ditemukan di pintu-pintu masuk perumahan.

Penggunaan disinfektan yang diyakini dapat meminimalisir ancaman persebaran Covid-19 ini menimbulkan kegelisahan, kegundahan bahkan pertanyaan soal aman tidaknya atau membahayakan tidaknya penggunaan disinfektan bila disemprotkan langsung ke tubuh manusia?

Menganalisis Dampak Strategis Penyebaran Covid-19

30-03-2020 | 13:32 WIB

Oleh Almira Fadhillah

HASIL dari laporan penelitian Imperial Collage of London, Inggris. Jumlah kasus terkait virus corona baru atau COVID-19 di dunia diprediksi bisa mencapai angka 7 miliar infeksi dan 40 juta kematian pada tahun ini, jika masyarakat tetap tidak melakukan tindakan preventif pencegahan penyebaran virus seperti karantina dan pembatasan sosial.

Hasil penelitian ini cukup mengkhawatirkan karena dunia sedang menghadapi darurat kesehatan yang parah dan akut karena pandemi global covid-19 yang berimbas langsung pada sektor ekonomi secara meluas.

Manusia dan Ummat

30-03-2020 | 08:20 WIB

INFO terbaru berasal dari bisik-bisik, bukan gosip apalagi ghibah. Namanya bisik-bisik, tentu saja sangat sumir tingkat akurasinya. Bisik-bisik, ikhwal asal sumber corona: infonya dampak kegagalan tipu daya manusia.

"Orang kafir bertipu daya (makar, atau saya lebih afdhol menyebutnya dengan istilah konspirasi). Allah SWT membalas tipu daya mereka. Allah SWT sebaik-baiknya pembalas tipu daya."

Urgensi Pembentukan Badan Nasional Urusan Otsus untuk Pengawasan Dana Otsus

28-03-2020 | 14:16 WIB

Oleh Damayanti

BADAN Pemeriksa Keuangan (BPK) baru saja merekomendasikan Pemerintah Pusat untuk tetap meneruskan stimulasi dana Otonomi Khusus (Otsus) kepada Papua dan Papua Barat. Rekomendasi ini menindaklanjuti amanat UU no. 21 tahun 2001 yang menyatakan berakhirnya dana Otsus untuk Papua dan Papua Barat pada tahun 2021.

Lockdown di Mana-mana, Indikasi Ketidakpastian Global?

28-03-2020 | 13:20 WIB

Oleh Jelita Chantiqa

SEBANYAK 3.3 juta pengangguran akan menerpa Amerika Serikat gara-gara Covid-19, terutama pasca penerapan lockdown mengantisipasi virus mematikan tersebut.

Mengantisipasi Perlambatan Ekonomi Indonesia

28-03-2020 | 08:20 WIB

Oleh Dr. Ade Reza Hariyadi

PROSPEK ekonomi global tampaknya masih akan mengalami masa sulit. Jika sebelumnya pertumbuhan ekonomi dunia dihantui isu trade war antara Amerika Serikat dan RRC, oil conflict di Timur Tengah yang juga melibatkan Rusia, hingga masalah instabilitas di Hongkong, kini masalah pandemi Covid-19 berpotensi menurunkan angka pertumbuhan ekonomi dunia.

IMF sendiri telah memangkas 0,1% dari 3,4% menjadi 3,3% pertumbuhan ekonomi global menurut World Economic Outlook Oktober 2019.

Sementara itu, Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global di 2020 menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,8%, sedangkan OECD memangkas pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9% menjadi 2,4%. Bahkan, pertemuan negara-negara yang dimotori oleh G-20 memprediksikan pertumbuhan ekonomi global berpotensi menjdi minus.