Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Akbar Tanjung: Hentikan Bahas Isu Soal Capres
Oleh : Tunggul/Taufik
Rabu | 05-01-2011 | 10:14 WIB

Jakarta, batamtoday - Para politikus dan elit partai diminta menahan diri untuk tidak menghembuskan dan membahasa wacana calon presiden (capres) saat ini karena masih banyak masalah yang harus ditangani bersama. Isu Capres tersebut dapat menggangu kinerja pemerintah maupun parlemen.

Himbauan itu disampaikan mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung kepada wartawan di Jakarta, Selasa (4/1) saat dirinya ditanya mengenai isu capres yang mulai menghangat yang dilontarkan para elit partai termasuk elit partai Demokrat yang menyebut bahwa Any Yudhoyono, yang juga Ibu Negara saat ini, pantas maju sebagai Capres pada 2014 menggantikan suaminya, Susilo Bambang Yudhoyono.

"Masih terlalu dini untuk membicarakan soal capres. Hendaknya wacana ini segera dihentikan," ucap Akbar Tanjung.

Ia berpendapat, membicarakan soal capres untuk Pemilu 2014 pada tahun 2011 ini amat prematur. Walaupun ia tak memungkiri semua parpol tengah melakukan penjajakan.

"Tapi, sebaiknya kita konsentrasi untuk menghadapi masalah-masalah yang tengah dihadapi rakyat, terutama dengan melonjaknya berbagai harga kebutuhan pangan," tutur Akbar.

Akbar yang juga mantan Ketum Partai Golkar tersebut memahami kalau partai politik mempersiapkan diri untuk soal pencalonan presiden tersebut. Namun hal itu jangan sampai menyita perhatian para elit sementara masalah-masalah besar dalam masyarakat jadi dikesampingkan.

"Jangan sampai masyarakat menilai kalau para elit partai hanya sibuk mencari kekuasaan," tegasnya, sedangkan masalah kemiskinan, pengangguran dan mahalnya harga pokok kebutuhan sehari-hari ada di depan mata dan menuntut perhatian dari kalangan elit.

"Kalau sekarang belum tepat waktunya (bicarakan masalah capres, red). Tetapi kalau pada awal tahun 2013, bolehlah," tutur Akbar.

Sementara itu Wakil ketua MPR Hajrianto Y Thohari secara terpisah di jakarta, Selasa (4/1) mengatakan, wacana calon presiden yang mulai berembus belakangan ini bisa membuat rakyat muak terhadap politikus dan partai politik.

"Masyarakat muak dengan sesuatu yang jauh dari kebutuhan mereka. Dan, saat ini rakyat belum butuh diskusi tentang calon presiden itu. Pasti rakyat enek dan muak, pikiran rakyat dan partai politik jadi tidak nyambung," katanya.

Hajriyanto menilai, antusiasme politik semacam ini salah arah, dan tidak betul. Karena sekarang ini baru masuk pada tahun kedua pelaksanaan hasil Pemilu 2009, tetapi elit sudah mewacanakan calon presiden. 

"Jika demikian maka para elit melihat politik semata-mata kekuasaan. Dan ini tragis, karena parpol tak tahu apa yang harus dikerjakan (untuk rakyat) dan (bisanya) hanya memunculkan calon itu,"  pungkas Hajrianto .