Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Hasil Ekspedisi ke Laut Natuna

LIPI: Kualitas Hasil Laut Natuna Turun Drastis Akibat Illegal Fishing
Oleh : Surya
Senin | 27-12-2010 | 15:23 WIB

Jakarta, Batamtoday - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menegaskan, kualitas hasil laut di sekitar Laut Natuna menurun drastis akibat maraknya kegiatan pencurian ikan (illegal fishing) oleh nelayan asing seperti dari Malaysia, Thailand, Vietnam dan lain-lain. 

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Suharsono menjelaskan perairan Natuna masih mampu memberikan 1,8 ton ikan tahun 1974. "Tapi 2010, angka ini turun jadi hanya 0,27 ton," kata Suharsono dalam pemaparan ekspedisi tim LIPI ke Natuna dan Laut Kalimantan Selatan di Jakarta, Senin 27 Desember 2010.

Pencurian ikan oleh kapal-kapal asing menjadi salah satu penyebab, terutama kapal dari negara perbatasan seperti Malaysia dan Thailand. Menurutnya, di daerah Songka, Thailand, ada kapal dengan nama Indonesia tapi tak satu pun anak buah kapal (ABK) yang bisa berbahasa Indonesia. "Misalnya nama kapal itu Samudera Raya. Bahkan berbendera Indonesia," kata dia.

Selain masalah pencurian ikan ini, LIPI juga mencatat sejumlah masalah yang timbul di salah satu wilayah perbatasan tersebut, yakni minimnya fasilitas terutama transportasi dari satu pulau ke pulau lain. "Untuk pindah dari pulau ke pulau bisa memakan waktu berjam-jam untuk menunggu kapal."

Masyarakat di sana, kata dia, menuntut agar Pemerintah membangun konservasi berupa Taman Laut Natuna. "Setelah melakukan eksepedisi ke sana, kami tetapkan konservasi yang cocok itu di kepulauan Tambelan," katanya.

Hal ini akan di rekomendasikan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Kehutanan. " Kita akan rekomendasi hasil ekspedisi ini kepada Kementerian Kelautan dan Perikana, serta Kementerian Kehutanan untuk memperbaiki dan menjaga kelestarian Laut Natuna," katanya.

Sebelumnya, LIPI  dan sejumlah perguruan tinggi antara lain Universitas Riau melakukan ekspedisi ke laut Natuna, Kepulauan Riau. Tim ekspedisi tersebut akan meneliti keanekaragaman hayati (biodeversity) laut Natuna seperti berbagai jenis ikan, kerang (moluska), padang lamun, mangrove dan lain-lain.

Menurut Deputi Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) LIPI Hery Harjono, Rabu (3/11), mengatakan ekspedisi gabungan itu diharapkan dapat menghasilkan kajian-kajian untuk kepentingan pemerintah pusat dan daerah.

"Kegiatan ini diharapkan dapat mengeluarkan 25 tulisan ilmiah yang akan diterbitkan pada jurnal ilmiah baik yang berskala nasional maupun internasional," kata Hery di Jakarta.

Hery mengungkapkan, ada 15 aspek atau bidang yang akan diteliti dalam ekspedisi tersebut. Mulai dari biodiversity laut seperti karang, ikan, mangrove, lamun, moluska, crustacea dan echinodermata. Lalu, dinamika laut seperti pola arus, kimia dan bathymetry laut hingga aspek sosial ekonomi di wilayah perbatasan kedua negara

Tim ekspedisi tersebut merupakan gabungan dari peneliti LIPI dan dosen-dosen perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Tim yang dipimpin oleh Direktur DP2M Kemendiknas Suryo Hapsoro Tri Utomo itu beranggotakan 60 peneliti, terdiri dari 24 dosen perguruan tinggi negeri dan swasta, 24 peneliti LIPI dan 12 teknisi senior Pusat Oseanografi LIPI.

"Ini ekspedisi gabungan yang kedua antara LIPI dengan dosen-dosen perguruan tinggi yang difasilitasi Kementerian Pendidikan Nasional. Pada ekspedisi kedua ini, selain kita Natuna, juga ke perairan laut Kalimantan Selatan," kata Suryo.
 
Menurut Suryo, perguruan tinggi negeri yang berpartisipasi antara lain IPB, Universitas Hasanuddin, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Diponegoro, Universitas Syah Kuala, Universitas Menado, Universitas Lampung, Universitas Riau, Universitas Gajah Mada, Universitas Tanjung Pura, Universitas Mulawarman dan Universitas Mataram.

"Jadi akan ada dua ekspedisi yaitu ekspedisi perairan perbatasan Indonesia dan Malaysia atau Laut Natuna pada 4-16 November dan ekspedisi perairan Kalimantan Selatan pada 19 November hingga 1 Desember," ujar Suryo