Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia Hadapi Dampak Sementara Akibat Keluarnya Inggris Keluar dari Uni Eropa
Oleh : Redaksi
Sabtu | 25-06-2016 | 11:53 WIB
rupiahmelemah.jpg Honda-Batam

Rupiah melemah pasca Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa. (Foto: BBC)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Dampak hengkangnya Inggris dari Uni Eropa terhadap perekonomian Indonesia hanya bersifat sementara, tetapi Indonesia mesti waspada terhadap kemungkinan "efek putaran kedua", demikian gubernur Bank Indonesia dan pengamat.

 

"Kita melihat ini sesuatu yang wajar karena memang ada suatu flight to quality, tetapi secara umum kondisi ekonomi Indonesia baik, kita meyakini bahwa ini sifatnya temporer," kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Wardoyo di Jakarta, Jumat (25/6/2016).
Menurutnya, dampak itu terlihat pada pasar keuangan, tetapi tidak pada hubungan langsung kedua negara karena nilai perdagangannya "tidak terlalu besar".

Agus menganggap keputusan Inggris dari Uni Eropa masih berproses dan bakal memakan waktu sehingga pihaknya terus melihat perkembangannya.

Pada penutupan perdagangan Jumat (24/06) sore, IHSG sempat melemah 39,74 poin atau 0,82% ke level 4.834,5. Adapun kurs rupiah melemah 1,08% ke posisi Rp13.391 per dolar AS.

Komisaris Independen Bank Mandiri, Goei Siauw Hong, mengatakan dampak perdagangan ke Indonesia tidak akan besar dan akan lebih terasa pada perdagangan antara Inggris dan Eropa.

“Secara currency (kurs) dampak jangka pendek itu akan ada di aset safe haven (aset yang nilainya cenderung tetap walau terjadi gejolak pasar, seperti emas dan dolar Amerika). Makanya dolar jadi menguat kan sekarang terhadap most of currency (kebanyakan kurs). Justru rupiah sedikit melemah,” katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Mehulika Sitepu, Jumat (24/6/2016).

Sementara, analis senior BCA, David Sumual, mengatakan melemahnya rupiah dan IHSG (indeks harga saham gabungan) hanya reaksi sementara pasar.

Dia mengatakan yang perlu dikuatirkan adalah efek putaran kedua seperti yang terjadi di tahun 2008 lalu. “Kita khawatir beberapa bank global ini kondisi keuangannya masih bermasalah. Bisa memicu domino effect (efek domino) ke pasar finansial global yang memicu global financial crisis (krisis keuangan global)," kata David.

Expand