Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Mempelajari Sistim Komunikasi ISIS
Oleh : Opini
Kamis | 17-12-2015 | 10:57 WIB

Oleh: Amril Jambak*

BEBERAPA tahun yang lalu, sebuah perusahaan keamanan Kuwait, Cyberkov, menulis sebuah panduan untuk para wartawan dan aktivis politik di gaza, berisi tentang bagaimana melindungi identitas, identitas sumber, dan integritas informasi yang dipertukarkan. Menurut Aaron Brantly (Tim Peneliti Combating Terrorism Centre di Akademi Militer West Point) panduan tersebut yang kemudian dijadikan dasar ISIS untuk berkomunikasi setelah dimodifikasi sesuai kepentingan mereka.

Demi menjaga kerahasiaan isi komunikasi, data, dan lokasi pribadi, panduan tersebut mensyaratkan anggota ISIS untuk berhati-hati dalam mengakses internet. Hanya beberapa aplikasi yang dapat mereka gunakan, diantaranya, browser Tor, sistem operasi Tails, alat chatting terkenkripsi, seperti Cryotocat, Wickr, dan Telegram, Hushmail dan Proton mail untuk e-mail, serta Redphone dan Signal untuk komunikasi telepon terenkripsi. Dalam panduan tersebut, Gmail, platform Android, dan iOS hanya dianggap aman jika akun dibuat dengan identitas palsu dan dibuka dengan Tor, atau jaringan virtual yang bersifat privat. Mereka juga dilarang mengakses Instagram karena merupakan anak perusahaan Facebook yang keamanan privasinya buruk.

Panduan juga menyarankan agar menonaktifkan GPS di ponsel untuk menghindari kebocoroan data lokasi ketika mengambil foto, jikapun GPS tetap dinyalakan, tetap harus menggunakan aplikasi Mappr yang berfungsi untuk memalsukan data lokasi. Selain itu, disebutkan juga bahwa meskipun jaringan GSM dienkripsi, komunikasi seluler tetap dapat diretas, oleh karena itu, mereka hanya disarankan menggunakan ponsel terenkripsi seperti Cryptophone atau Blackphone. Mereka juga dihimbau untuk tidak menggunakan Dropbox, karena salah satu dewan eksekutifnya adalah  Condoleezza Rice (mantan Menteri Luar Negeri Amerika).

Penggunaan password yang paling rumit dan tidak mengklik link mencurigakan juga tertulis dalam panduan ini untuk mencegah peretasan. Untuk berbagi foto dan pesan teks jarak pendek tanpa perlu akses internet, mereka menggunakan aplikasi buatan sendiri yakni FireChat.

Panduan juga menyarankan agar selalu menggunakan VPN online,  untuk mengenkripsi data guna mencegah penyedia layanan internet (ISP) dan agen mata-mata membaca komunikasi mereka. Khusus bagi anggota yang berada di AS, dilarang menggunakan VPN dan aplikasi chatting buatan dalam negeri, sebagai ganti, mereka dapat menggunakan Telegram dan Sicher, aplikasi pesan instan yang dibuat oleh Jerman, atau Freedom, VPN asal Finlandia, F-Secure, dan iMessage dari Apple sebagai layanan enkripsi end-to-end paling baik untuk sarana komunikasi. Sementara itu, meskpin WhatsApp menawarkan enkripsi end-to-end, ISIS melarang anggotanya menggunakan aplikasi tersebut, karena perusahaan kemanan Jerman menemukan ada bagian yang bolong yag memungkinkan penyadapan dilakukan.

Hingga saat ini, ISIS memang masih belum menggunakan program enkripsi buatan mereka sendiri, dan masih menggunakan Telegram untuk komunikasi terenkripsi, namun, mereka memanfaatkan Sony Playstation 4 untuk melindungi komunikasi mereka. Mereka juga membuka help desk 24 jam melalui papan chatting tersembunyi untuk membantu anggotanya memahami panduan.

Pengetahuan teknologi anggota ISIS dan jaringannya tidak bisa dianggap remeh, sebab, kelompok peretas yang mendukung ISIS, Cyber Caliphate,  mengaku bertanggung jawab untuk peretasan akun Twitter dan YouTube milik militer AS awal tahun ini. Peretas ISIS juga pernah mengacaukan beberapa situs departemen pemerintah di Iran dan mencuri komunikasi internal, bahkan beberapa diantaranya diposting secara online. Celah yang dapat digunakan untuk melacak keberadaan anggota ISIS adalah ketika anggotanya tidak menaati Standar Operating Procedure (SOP) dalam berkomunikasi, karena saat seperti itu akan sangat mudah melacak dan tidak menutup kemungkinan mencegah aksi yang akan dilakukan, seperti perencanaan serangan di distrik La Defense Paris dan rencana serangan di Belgia.

Anonymous
Anonymous bukanlah kelompok formal, mereka terdiri dari beberapa hacker (peretas) yang terhubung secara online, terbentuk sekitar 10 tahun yang lalu, dan bertujuan melakukan serangan maya kepala pelaku ketidakadilan. Anonymous tidak menyerang secara sembarangan, mereka memiliki nilai-nilai yang menjadi acuan, sehingga penyerangan dilakukan kepada apapun yang bertentangan dengan nilai tersebut.

Anonymous menjadi terkenal pada 2008, saat mereka melakukan serangan siber pada Gereja Scientology, setelah itu mereka melanjutkan dengan menyerang situs pornografi ilegal, Vatikan, CIA, dan sistem transportasi San Fransisco, Bay Area Rapid Transit (BART). Pada 2012, Anonymous masuk dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh 2012 versi majalah Time.

Beberapa tahun terakhir muncul beberapa organisasi Hactivist, bahkan beberapa diantara mereka telah mampu mencapai tingkat ketenaran Anonymous, kemunculan organisasi-organisasi tersebut menimbulkan opini bahwa kekuatan kelompok peretas mulai terbelah, mereka juga dianggap telah bermain untuk kepentingan, dan dianggap sebagai organisasi ilegal, sehingga beberapa negara mulai menganggap Anonymous sebagai organisasi kejahatan dan menangkap puluhan anggotanya.

Opini yang berkembang di dunia sepertinya tidak mempengaruhi kekuatan Anonymous, salah satu buktinya adalah pelumpuhan server e-mail dan sistem telepon di Ferguson pada 2014 paska penembakan Michael Brown, mereka juga menyatakan perang terhadap Ku Klux Khan, dan pada januari 2015, setelah serangan terhadap Charlie Hebdo, mereka menyatakan perang terhadap teroris.

Anonymous ISIS
Serangan di Paris pada 13 November 2015, yang menewaskan setidaknya 140 orang, telah memicu reaksi dari berbagai pihak untuk memerangi ISIS sebagai pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, baik itu di dunia nyata maupun dunia maya. Khusus di dunia maya, sekelompok peretas aktivis (Hacktivist) yang menamakan diri Anonymous menyatakan perang melawan ISIS dan semua kelompok afiliasinya, serta bertekad memberantas semua jaringan online kelompok tersebut. Mereka berkeyakinan bahwa media sosial telah terbukti merupakan senjata canggih ISIS, dalam merekrut anggota, berkomunikasi, dan menyebarluaskan ideologinya.

Seorang yang mengaku sebagai anggota Anonymous mengatakan dalam klip YouTubenya bahwa mereka akan meluncurkan operasi terbesar yang dilakukan terhadap ISIS, selain itu, di Twitter, dengan tanda pagar #OpISIS dan #OpParis, kelompok fokus mengejar akun ISIS di media sosial tersebut. Mereka menyebutkan bahwa akun twitter Pro-ISIS meningkat jumlahnya sejak serangan Paris, dalam beberapa hari mereka mengklaim telah berhasil menutup 5.500 akun dari 20 ribu akun pro ISIS.

Usaha pemberantasan yang dilakukan oleh Anonymous memancing tanggapan dari beberapa pihak, meskipun menutup akun Twitter adalah langkah yang sangat logis, namun, para ahli mengatakan, Twitter bukan satu-satunya pintu bagi ISIS untuk menjaring anggota baru, mereka juga menggunakan e-mail, web chatting, dan aplikasi mobile baru yang disebut Telegram.

Paula Long (CEO DataGravity) mengatakan bahwa, kegiatan ISIS di dunia maya tidak hanya tentang jaringan perekrutan, tapi juga pemanfaatan teknologi informasi untuk bidang keuangan, komunikasi, dan logistik, serta untuk mengakses semua informasi inteijen yang dikumpulkan oleh berbagai organisasi pemerintah. Meski begitu, Long yakin bahwa kelompok Anonymous ini dapat mengakes jaringan ISIS di dunia maya, sebab mereka telah berhasil meretas jaringan millik Australia, Tunisia, dan Turki yang selama ini dianggap paling aman. Tantangan terbesar bagi kelompok Anonymous ini adalah upaya untuk melacak aliran uang, karena secara umum diyakini bahwa sebagian besar pendanaan ISIS berasal dari penjualan minyak mentah hasil ladang minyak di Irak dan Suriah yang sekarang telah mereka kuasai.

Ken Westin (Spesialis Kemanan Maya dari software Splunk) menyampaikan kekhawatirannya atas sesumbar Anonymous untuk memerangi ISIS di dunia maya, karena menurutnya hal tersebut justru akan mendorong ISIS untuk meningkatkan kemampuan mereka, dalam mengenkripsi komunikasi dan mengamankan jaringan mereka di dunia maya.

Sementara itu, pihak Twitter mengungkapkan kesangsiannya atas pernyataan Anonymous bahwa terdapat 20 ribu akun berafiliasi dengan ISIS di Twitter, karena selama ini Twitter telah memberlakukan sensor mandiri untuk akun berbau radikal, sehingga data Anonymous dianggap sangat tidak akurat.

Menanggapi sanggahan Twitter tersebut, salah satu Hacktivist yang berafiliasi dengan Anoymous mengatakan bahwa banyak pihak yang hanyak ikut-ikutan dalam kampanye Anonymous, karena pada dasarnya kegiatan ini bukan hanya seputar pengikut atapun pengulangan Tweet, tapi tentang kebenaran.

ISIS menganggap video Anonymous tersebut suatu kesalahan, karena dengan begitu mereka dapat mengantisipasi, dengan mengirim pesan Telegram kepada afiliasinya untuk mengamankan komunikasi internet mereka, dan memberi petunjuk cara menghindari potensi peretasan. Seperti yang dijelaskan dalam link berikut ini, http://tekno.liputan6.com/read/2370943/hacker-anonymous-lumpuhkan-forum-utama-isis

*) Penulis adalah pemerhati politik internasional