Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Multikultural, Kerukunan Hidup Umat Beragama di Kepri Perlu Dijaga
Oleh : Surya
Senin | 08-06-2015 | 16:45 WIB
Hardi2.jpg Honda-Batam
Ketua Komite III DPD RI Hardi Selamat Hood, Senator asal Provinsi Kepulauan Riau

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Ketua Komite III DPD RI Hardi Selamat Hood mengatakan, kerukuranan hidup umat beragama di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) perlu dijaga.


Sebab, Kepri merupakan daerah multi etnik sehingga tidak terlepas dari adanya gesekan isu agama dan budaya.

"Oleh karena itu, kerukanan hidup umat beragama menjadi hal sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Kepri," kata Hardi dalam Laporan Kegiatan di Daerah beberapa waktu lalu.

Menurut Hardi, sebaiknya kerukunan atau kerhamonisasn ditetapkan sebagai salah satu priorotas sasaran dalam Rencana Kegiatan Pembangunan di Provinsi Kepri. 

"Ada beberapa aspirasi yang dapat kami tampung yang berhubungan dengan kegiatan agama dan budaya. Beberapa hal yang harus diperhatiokan oleh Pemerintah Provinsi Kepri dan Pemerintah Kabupaten/Kota, serta masyarakat agar benturan dapat dihindarkan," katanya.

Upaya untuk menghindarkan benturan kerukunan hidup umat beragama, antara lain menghindarkan sikap prasangka dan stereotip untuk menjaga harmonisasi antar umat beragama. 

Sikap tersebut seringakali mengenerasalisasi sebagai sebuah penilaian akhir yang tidak dilandasi dengan bukti-bukti terlebih dahulu. Pada masyarakat multikultuiral,lanjutnya, sangat mudah tumbuh sikap prasangka dan stereotip.

"Untuk itu, pemerintah khususnya Kementerian Agama selalu mengaktifkan Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) sebagai salah satu sacara untuk membangun keharmonisan, misalnya dengan aktifkan dialog kebudayaan pemuda lintas agama sehingga peran negara atau pemerintah sebagai fasilitator antar golongan, bukan sebagai badan yang menfaslitasi dalam hal fisik saja," katanya.

Senator asal Kepri ini mengatakan, upaya lain yang bisa dihindari untuk mencegah adanya benturan agama dan budaya adalah dengan membangun pendidikan multikultural sebagai wahana sentral dalam realisasi simbiosis mutualis antar budaya.

Pendidian kebudayaan diberikan sebagai pembinaan generasi muda. Cara ini guna mentransfer ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai dengan menawarkan alternatif melalui penerapan strategi dan pendidikan yang berbasis keragaman.

"Tujuannya bukan hanya untuk memahami pelajaran, tetapi untuk meningkatkan kesadaran mereka agar dapat berprilaku humanis, pluralis dan demokratis," katanya.

Hal itu juga untuk menanamkan nilai untuk mendahulukan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi dan golongan. Rasa kebersamaan dan kebangsaan akan terpelihara dan terbina dengan baik bila kepentingan bersama lebih didahulukan dibandingklan kepentingan pribadi atau golongan.

"Nilai-nilai ini sebagai bentuk sikap bangsa yang menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan," tandas Ketua Komite III DPD RI.

Editor : Surya