Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Final Turnamen Bola Voli Piala Wali Kota Batam

Di Depan Wali Kota Amsakar, Tim Voli PGRI Batam vs Tim BP Batam Nekat Ricuh, Hilang Rasa Hormat?
Oleh : Aldy
Senin | 18-05-2026 | 10:08 WIB
ricuh2.jpg Honda-Batam
Kericuhan antara tim PGRI Batam melawan BP Batam saat laga final Turnamen Bola Voli Piala Wali Kota Batam di Lapangan Olahraga Abdul Jafar, Tiban Center, Minggu (17/5/2026) malam. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Final Turnamen Bola Voli Piala Wali Kota Batam yang seharusnya menjadi panggung sportivitas justru berubah menjadi tontonan memalukan. Di hadapan Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, kericuhan pecah saat laga penentuan antara tim PGRI Batam melawan BP Batam berlangsung di Lapangan Olahraga Abdul Jafar, Tiban Center, Minggu (17/5/2026) malam.

Insiden tersebut memunculkan pertanyaan tajam dari publik: ke mana sportivitas olahraga dan rasa hormat terhadap kepala daerah yang hadir langsung menyaksikan pertandingan? Padahal, kedua tim membawakan nama instansi di bawah kepemimpinan Amsakar Achmad sebagai Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam.

Kerusuhan bermula dari aksi saling lempar botol air mineral antarsuporter di tribun penonton. Situasi yang semakin tidak terkendali memaksa aparat keamanan mengevakuasi Amsakar Achmad beserta istrinya dari arena pertandingan demi alasan keamanan.

"Pak Wali sama Bu Erlita langsung dibawa menuju mobil. Setelah itu saya lanjut melihat kericuhan," ujar Anton, salah seorang penonton yang menyaksikan langsung insiden tersebut.

Ajang yang membawa nama Wali Kota Batam itu kini justru menuai kritik keras. Banyak pihak menilai penyelenggara gagal menjaga marwah pertandingan dan tidak siap menghadapi membludaknya antusiasme suporter dua tim besar tersebut.

"Ini bukan sekadar pertandingan voli. Nama Wali Kota dipakai, kepala daerah hadir langsung, tapi pengamanan dan pengelolaan pertandingan seperti tidak siap menghadapi situasi," kata Iman, pencinta olahraga di Batam.

Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, ketegangan mulai meningkat setelah terjadi dugaan gestur provokatif dari salah satu pemain. Riama, penonton yang berada di tribun, menyebut libero tim PGRI diduga memancing emosi suporter lawan.

"Libero PGRI itu seperti mengejek dan mengacungkan jari tengah. Langsung suporter panas dan mulai lempar-lemparan," ujarnya.

Ketegangan yang sempat mereda kembali pecah ketika lemparan balasan datang dari arah tribun berbeda. Situasi semakin kacau karena botol-botol yang beterbangan tidak hanya mengenai kelompok suporter, tetapi juga penonton umum, termasuk perempuan dan anak-anak.

"Ada ibu-ibu dan anak-anak yang kena lemparan juga. Itu yang bikin suasana makin kacau," tambah Riama.

Aparat keamanan bersama panitia berupaya mengendalikan massa agar kerusuhan tidak meluas. Namun, insiden tersebut telanjur menjadi sorotan luas masyarakat, terutama karena terjadi di event resmi bertajuk Piala Wali Kota Batam.

Publik menilai kericuhan itu bukan hanya persoalan emosi suporter, melainkan cerminan buruknya pengelolaan event olahraga daerah. Di tengah upaya Pemerintah Kota Batam dan BP Batam membangun citra daerah yang aman dan ramah investasi, insiden tersebut dinilai mencoreng wajah Batam di mata publik.

Tony, pencinta voli yang hadir di lokasi, menilai panitia gagal membaca potensi ledakan massa sejak awal pertandingan. "Panitia seperti tidak mengantisipasi situasi. Sudah tahu suporter PGRI dan BP Batam sama-sama besar, tapi venue tetap dipakai dengan kondisi yang menurut saya tidak standar. Penerangan juga kurang," katanya.

Ia juga menyoroti lemahnya kesiapan teknis selama pertandingan berlangsung. Menurutnya, insiden mati lampu menunjukkan minimnya standar profesionalisme penyelenggara. "Ketika lampu mati, tidak ada genset cadangan. Bahkan beredar informasi kalau lampu tidak hidup empat jam, pertandingan diulang dari nol. Ini pertandingan besar, bukan turnamen antar kampung," ujarnya.

Tony meminta Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Batam melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraan turnamen olahraga daerah agar kejadian serupa tidak kembali terulang. "Ini Piala Wali Kota Batam, bukan pertandingan tingkat RT atau kecamatan. Harusnya penyelenggaraannya profesional dan menjaga nama baik daerah," tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara maupun manajemen kedua tim terkait kericuhan tersebut. Termasuk dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, yang juga menjabat sebagai Ketua PGRI Batam.

Editor: Gokli