Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ternyata, Asma dan Penyakit Jantung Bisa Sebabkan Depresi
Oleh : Redaksi
Kamis | 08-01-2015 | 12:25 WIB
stress.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM - Depresi umumnya dianggap sebagai penyakit mental, tetapi menurut bukti yang berkembang saat ini, berbagai penyakit fisik juga bisa menjadi penyebab depresi. 

Pada umumnya, depresi memang dianggap sebagai penyakit mental, tetapi bisakah penyebabnya berasal dari dalam tubuh kita?.

Penelitian baru dari Universitas California menunjukkan bahwa ketika tubuh kita mengalami penyakit dan infeksi, satu set protein yang disebut ‘cytokines’ tiba-tiba muncul. Zat inilah yang memicu kita untuk menarik diri sehingga kita dapat memulihkan badan dan tidak menulari orang lain.

Psikolog klinis yakni Dr George Slavich, yang melakukan penelitian tersebut, mengatakan, sementara kita biasanya berpikir bahwa depresi hanyalah gangguan pikiran negatif atau emosi, penelitian terbaru  justru menunjukkan bahwa penyakit ini memiliki 'dasar imunologi'.

“Akar biologis dari depresi bisa berasal dari tubuh kita, dan sifat penyebab biologis itu sebenarnya menghubungkan depresi dengan banyak gangguan lain yang cenderung terjadi bersamaan, "kata Dr George, Direktur Laboratorium Penanganan dan Penelitian Stres di Universitas California.

Ia menjelaskan, "Penyakit fisik ini termasuk asma, radang sendi, penyakit jantung, beberapa jenis kanker, dan bahkan gangguan syaraf seperti penyakit Alzheimer."

Dr George mengutarakan, pemahaman kita untuk mengobati depresi sebagai penyakit mental belum tentu menyesatkan, tetapi itu membatasi pemahaman kita terhadap penyakit ini.

“Depresi juga melibatkan aspek psikologis. Tapi saya pikir kecenderungan kita, baik sebagai dokter dan sebagai orang-orang awam yang semuanya pernah mengalami beberapa jenis depresi ringan atau besar dalam hidup kita, adalah dengan melihat aspek emosionalnya," sebutnya.

Ia menyambung, "Kita tidak bisa mengukur aspek fisik, sehingga seringkali kita tidak mempertimbangkannya."

Dr George mengatakan, penurunan harga teknologi yang digunakan untuk penelitian medis, membantu lebih banyak laboratorium menyelidiki rahasia dari kondisi yang menimpa jutaan orang di seluruh dunia ini.

 "Dulu sangat sulit untuk memahami apa itu otak yang tertekan, atau apa itu tubuh yang tertekan, dan implikasinya," ungkap sang peneliti.

Ia lantas mengemukakan, "Kami sekarang bisa menggunakan teknik pencitraan otak, kami bisa mengambil sampel darah untuk melihat bagaimana sistem kekebalan tubuh bekerja, bagaimana berbagai proses di otak dan tubuh beroperasi dan bagaimana proses tersebut bisa berbeda selama depresi, dibanding ketika Anda sedang tidak depresi. "

Sumber: ABC Radio Australia