Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Rumah Sakit di Australia Sering Tolak Pasien Percobaan Bunuh Diri
Oleh : Redaksi
Jum'at | 12-12-2014 | 11:28 WIB
overdosis_obat_tidur.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM - Pakar kesehatan mental mengatakan penanganan pasien kasus percobaan bunuh diri di Australia tidak konsisten, dan pasien yang mencari bantuan pengobatan kerap diabaikan dan disalahpahami. Pakar juga prihatin dengan seringnya pasien percobaan bunuh diri dipulangkan lebih awal atau ditolak sama sekali.

Hasil kajian terbaru dari Lembaga Amal Kesehatan Mental SANE Australia dan peneliti dari Unievrsitas New England, memantau kondisi warga Australia yang berusaha bunuh diri.
 
Manager pencegahan bunuh diri SANE, Sarah Coker mengatakan setiap orang yang berusaha bunuh diri, diperkirakan akan memicu 20 orang lainnya untuk melakukan bunuh diri juga.
 
Menurut Coker pelaku percobaan bunuh diri tidak selalu mendapatkan perawatan yang sempurna yang dibutuhkannya dan bahkan kembali melakukan bunuh diri setelah menemui pakar kesehatan profesional.
 
"Dan sayangnya laporan semacam ini jarang terdengar, kebanyakan orang menganggap tindakan mereka tidak bisa diterima,' katanya.
 
Kajian ini juga menemukan 80% pasien yang berusaha melakukan bunuh diri mendapatkan pengalaman negatif ketika dirawat di rumah sakit.
 
Beberapa bahkan mengaku ditolak dibagian Unit Gawat Darurat (UGD) sementara yang lainnya dipulangkan sebelum sepenuhnya pulih.
 
"Kami mendapati ada beberapa pasien yang menceritakan pengalaman sangat tidak menyenangkan ketika mereka dirawat di RS dan banyak dari mereka merasa mereka tidak ditangani secara serius, dan kurang diakui sebagai pasien atau mereka diterima sebagai pasien rawat inap tapu dikeluarkan sebelum waktunya," katanya.
 
Coker mengatakan perlakuan ini membuat banyak dari pasien kasus percobaan bunuh diri enggan menemui dokter profesional.
 
"Ketika  pasien takut dihakimi atau dipandang negatif, mereka akan malas membahas masalah kejiwaan mereka apalagi  berobat dan itu sebabnya mengapa penting untuk memutus situasi terkait mitos dan stereotipe dari orang yang berusaha bunuh diri,' kata Coker.
 
Seorang pasien kasus bunuh diri yang terlibat dalam riset ini, Kristin mengaku dia berjuang keras mengalahkan dorongan untuk bunuh diri selama hidupnya dan telah beberapa kali berusaha untuk mengakhiri hidupnya sejak remaja.
 
Kristin juga mengaku sulit mendapatkan pengobatan.
 
"Depresi terkadang membuat kita sangat merasa tidak sehat, dan karenanya kita mengupayakan bantuan segala hal untuk mendapatkan tindakan yang tepat, tapi kita jika ditolak atau tidak didengarkan atau yang lebi parah adalah tidak mendapat perawatan yang membantu kondisi mental menjadi lebih baik."

"Menemukan bantuan yang layak adalah cara penyembuhan terbaik dan yang paling mungjkin dilakukan untuk membantu kita mengatasi keinginan bunuh diri karenanya ketika kita dirawat di rumah sakit seedaknya dan dikeluarkan cepat mungkin makan itu sangat sulit,"
 
Studi inij merekomendasikan perbaikan mekanisme penerimaan pasien dan prosedur pemulangan warha yang memiliki kecenerungan bunuh diri.
 
Direktur Kesehatan Mental di RS Austin Health Melbourne, Professor Richard Newton, mengatakan lama masa tinggal terlalu lama di rumah sakit tidak selalu baik bagi pasien bunuh diri. 
 
"Mereka bisa semakin stress dan trauma dan tentu saja bisa semakin meningkatkan rasa keterasingan mereka,"
 
Namun ia berpendapat bahwa jika seorang pasien bunuh diri meninggalkan rumah sakit, penting ada dokter dan perawat yang memberi informasi tentang perawatan lanjutan yang akan membantu mereka menghadapi semua masalah yang telah memicu mereka bunuh diri pertama kali".

Sumber: ABC Radio Australia