Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Merokok Persulit Orang Lepas dari Ketergantungan Alkohol
Oleh : Redaksi
Selasa | 02-12-2014 | 16:44 WIB
rokok_dan_alkohol.jpg Honda-Batam
Ilustrasi. (Foto: ABC)

BATAMTODAY.COM - Seseorang yang berniat lepas dari ketergantungannya pada minuman keras sebaiknya juga menghentikan kebiasaan merokoknya. Karena studi terbaru menunjukan kebiasaan merokok tidak memudahkan orang  sembuh dari kebiasaannya mengkonsumsi minuman keras. Sebaliknya merokok justru dapat memperburuk ketergantungan mereka.

Studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, menunjukan kebiasaan merokok selagi mengkonsumsi minuman alkohol mengganggu pemulihan sekelompok reseptor di otak yang disebut reseptor GABA A.
 
Para peneliti menggunakan teknik gambar aktifitas otak untuk mengukur kegiatan interval reseptor GABA A selama sebulan pada  sekelompok pasien pecandu alkohol.
 
"Kami mendapati kalau pada para pecandu alkohol yang juga perokok selama mereka tidak mengkonsumsi alkohol, otak mereka tidak memiliki tingkat kesembuhan yang sama dengan pecandu alkohol yang bukan perokok. Temuan ini menekankan kalau kebiasaan merokok juga dapat mempengaruhi kesembuhan otak," kata ketua tim peneliti, Professor Kelly Cosgrove, yang juga Associate Professor dari Departemen Psikologi Universitas Yale.
 
Reseptor GABA A memainkan peran utama dalam kasus ketergantungan merokok dan alkohol, namun dalam kasus ketergantungan alkohol jumlah ketersediaan reseptor ini mengalami perubahan.
 
Menurut Cosgrove, ketika orang berhenti minum minuman keras, butuh waktu sebulan bagi reseptor GABA A untuk bisa tersedia kembali di otak.
 
Tim peneliti menemukan kaitan yang sangat jelas antara jumlah ketersediaan reseptor GABA A dan tingkat keparahan dorongan untuk kembali mengkonsumsi alkohol.
 
"Kami mendapati kalangan perokok jika dibandingkan dengan yang bukan perokok tingkat keinginan mereka untuk kembali mengkonsumsi alkohol itu meningkat dua kali lipat dan kondisi itu berkaitan dengan ketersediaan jumlah reseptor selama pekan pertama pecandu berhenti mengkonsumsi alkohol," kata Cosgrove.
 
"Prediktor yang dikenal memicu kekambuhan ini ternyata memiliki kadar keinginan yang cukup tinggi ketika Anda berhenti menggunakan suatu zat tertentu, sehingga keberadaanya sangat penting, dan kemungkinan kebiasaan merokok ketika mencoba berhenti minum minuman keras justru semakin memicu keinginan kuat tersebut."
 
Temuan ini menunjukan mitos populer yang menyatakan merokok selama masa penyembuhan ketergantungan alkohol akan mempermudah proses tersebut adalah keliru, sebaliknya para peneliti menilai pasien lebih baik menghentikan dua kebiasaan merokok dan meminum minuman keras secara bersamaan.
 
Penyebab kambuh bukan nikotin
Kajian ini juga mencakup sejumlah riset terhadap monyet yang digunakan para peneliti untuk melihat dampak ketergantungan dengan kadar nikotin selama masa puasa dari mengkonsumsi alkohol.
 
Para peneliti menemukan situasi yang agak mengherankan bahwa nikotin itu sendiri tampaknya bukan menjadi faktor penyebab yang mempengaruhi kemampuan para kera lepas dari ketergantungan mereka terhadap alkohol.
 
"Awalnya Kami berpikir kalau nikotinlah yang menentukan hal itu, karena itulah bagian yang paling adiktif dari asap tembakau dan itulah yang dapat  menghambat perubahan di otak," kata Cosgrove.
 
"Tapi pada penelitian terhadap hewan-hewan yang disuntikan dengan alkohol dan alkohol dan nikotin, mereka mengalami perubahan yang sama pada otak mereka dan mereka terlihat cenderung seperti pecandu alkohol yang bukan perokok."
 
Kondisi ini menunjukan ada sesuatu di rokok selain nikotin yang memiliki dampak negatif pada upaya pemulihan ketergantungan alkohol.
 
"Menurut saya studi ini sangat penting karena menunjukan kalau Anda kemungkinan aman untuk menggunakan terapi pengganti nikotin ketimbang merokok selama masa penyembuhan ketergantungan pada alkohol." tegas Cosgrove.

Sumber: ABC Radio Australia