Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Gunakan LNG untuk Truk Tangki, Pertamina Bisa Hemat Rp280 Miliar
Oleh : Redaksi
Selasa | 28-10-2014 | 09:48 WIB
KAROSERI PERTAMINA 8000 LITER_3.jpg Honda-Batam
Foto: net.

BATAMTODAY.COM, Jakarta - PT Pertamina mulai mengkonversi bahan bakar pada truk tangki BBM dari solar nonsubsidi ke LNG sebagai bentuk nyata pelaksanaan program konversi BBM ke gas. Konversi ini bisa menekan biaya bahan bakar sebanyak 42.000 kiloliter (KL) per tahun yang setara dengan Rp280 miliar per tahun.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Hanung Budya, mengatakan dalam upaya mendukung implementasi bauran energi sebagaimana diputuskan dalam Perpres Nomor 05 Tahun 2006, Pertamina memandang perlunya pelaksanaan konversi BBM ke gas di segala lini, termasuk kepada truk tangki BBM Pertamina yang selama ini masih menggunakan solar nonsubsidi.

Setelah dilakukan berbagai uji coba, Pertamina berkesimpulan bahwa penggunaan LNG sangat tepat untuk truk tangki BBM. "Dari hasil uji coba dengan kombinasi 43 persen solar dan 57 persen LNG, dihasilkan efisiensi di atas 14 persen jika dibandingkan dengan penggunaan solar 100 persen. Ini sangat menggembirakan dan kami berkomitmen untuk memperluas pelaksanaan program ini ke seluruh truk tangki BBM berukuran besar milik Pertamina," kata Hanung saat peresmian pemanfaatan LNG sebagai bahan bakar truk tangki Pertamina di Terminal BBM Balikpapa, belum lama ini.
 
Dalam uji coba tersebut, Pertamina telah memasang conversion kit  pada lima truk tangki dengan menggunakan dual fuel system. Selain itu, Pertamina melakukan pengadaan ISO tank LNG serta pembangunan sarana pengisian LNG di Terminal BBM Balikpapan.
 
Hanung mengatakan terdapat sekitar 2.100 truk tangki di bawah pengelolaan anak perusahaan yang dapat dikonversi bahan bakarnya ke LNG. Jika seluruh truk tangki tersebut berhasil dikonversi, maka total penghematan biaya bahan bakar truk tangki BBM bisa mencapai Rp280 miliar per tahun.
 
"Solar yang dapat dihemat mencapai sekitar 3.500 KL per bulan. Penghematan tersebut bisa bertambah apabila komposisi LNG dalam dual fuel mix lebih besar. Kami dalam waktu dekat juga akan melakukan uji coba penggunaan LNG 100 persen," ujarnya, yang dikutip dari laman Pertamina. 
 
Sementara itu Direktur Gas Pertamina, Hari Karyuliarto, mengungkapkan, pada tahap awal pasokan LNG untuk program konversi ini bersumber dari PT Badak NGL yang berkolaborasi dengan anak perusahaan Pertamina yang bergerak di sektor gas lainnya, yaitu PT Pertagas dan PT Nusantara Regas. Menurutnya, LNG cocok digunakan untuk kendaraan alat berat, seperti truk tangki BBM, truk dan alat berat pertambangan serta truk besar untuk jarak tempuh yang jauh.
 
Indonesia, katanya, akan sangat diuntungkan apabila program yang diinisiasi Pertamina dan terbukti sangat positif ini dapat pula dilaksanakan pada kendaraan sejenis oleh perusahaan-perusahaan. Sejauh ini, katanya, Pertamina telah melaksanakan program pilot project penggunaan LNG sebagai bahan bakar alat berat dan angkutan pertambangan bekerjasama dengan Indominco Mandiri dan Berau Coal. 
 
Apabila inisiatif Pertamina ini diterapkan pada kendaraan-kendaraan berat lainnya, maka dampaknya akan sangat positif dalam mengurangi ketergantungan Indonesia akan impor solar. Pertamina memproyeksikan penggunaan LNG pada sektor transportasi dan alat berat bisa mencapai 0,4 juta ton per tahun pada 2015 dan mencapai 1,3 juta ton per tahun pada 2019 yang digunakan oleh kendaraan berat tambang, perkebunan dan bus jarak jauh.

Jumlah tersebut tentunya akan meningkat jika angkutan kereta api dan juga kapal laut juga menggunakan LNG. Dengan jumlah penggunaan LNG tersebut maka volume BBM jenis diesel yang dapat dikurangi bisa mencapai 0,9 juta kiloliter pada 2015 dan sekitar 3 juta kiloliter pada 2019.
 
Penggunaan LNG untuk bahan bakar moda transportasi memiliki beberapa keunggulan, selain lebih efisien juga ramah lingkungan karena emisi gas buangnya lebih kecil dibandingkan dengan Solar. Terlebih, tingkat keamanan penggunaan LNG juga sangat terjamin karena disimpan dalam tekanan normal. (*)

Editor: Roelan