Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Film 'The Act of Killing' Dapat Diunduh Bebas
Oleh : Redaksi
Rabu | 02-10-2013 | 10:52 WIB
the_act_of_killng.jpg Honda-Batam
The Act of Killing.

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Sutradara Joshua Oppenheimer bersama Drafthouse Films, Vice dan VHX bermitra untuk merilis film dokumenter kontroversial The Act of Killing khusus di Indonesia dalam format unduh bebas. Unduh bebas itu sudah bisa dilakukan mulai Senin (30/9/2013) lalu seiring dengan peringatan Gerakan 30 September.

Film yang berkonsentrasi terhadap kekejaman yang terjadi di Indonesia -- tepatnya pembunuhan sekitar 1 juta orang yang dituduh komunis, kaum intelektual hingga etnis Tionghoa pada medio 1965 hingga 1966 tersebut -- bisa didapat melalui situs resmi ActOfKilling.com.

Patut digarisbawahi bahwa The Act of Killing yang dapat diunduh bebas ini adalah versi director’s cut yang berdurasi 159 menit - sekitar 45 menit lebih panjang dibanding versi standar yang beredar di bioskop luar negeri dan menuai pujian dari berbagai kalangan.

Dengan produser eksekutif dua orang ternama dalam dunia film, Werner Herzog dan Errol Morris, The Act of Killing bertutur melalui sekumpulan kisah yang dibeberkan oleh Anwar Congo dan kawan-kawannya selaku mantan prajurit pembunuh yang meringankan tugas tentara dalam memburu target mereka. Kisah-kisah tersebut disajikan dengan gaya reka ulang -- lengkap dengan segala alat bantu syuting -- di mana Anwar bertindak sebagai sutradara bagi kawannya; sehingga ada kadar surealisme yang dimiliki The Act of Killing.

The Act of Killing ditayangkan perdana pada 31 Agustus tahun lalu di festival film Telluride, Colorado, AS, namun belum pernah diputar untuk umum di Indonesia. Padahal, sebagai negara yang menjadi subyek tema film dokumenter, masyarakat Indonesia membutuhkan pengetahuan tentang peristiwa pembunuhan massal tersebut.

Kasus genosida ini jarang dibicarakan dan tidak ada di buku sejarah, sehingga masih banyak orang Indonesia yang belum sadar akan peristiwa ini -- terkadang bahkan para pelaku pembunuhan justru dielu-elukan bak pahlawan.

Bila Joshua mendaftarkan The Act of Killing ke Lembaga Sensor Film sebagai tahapan untuk pemutaran umum di Indonesia, sangat besar kemungkinan kalau hasilnya berujung kepada pelarangan tayang. Alhasil dalam satu tahun belakangan, film tersebut hanya bisa diputar secara gerilya untuk kalangan tertentu, tepatnya lebih dari 500 pemutaran bawah tanah di 95 kota Indonesia.

:Sejarah genosida 1965 adalah sejarah Anda. Oleh karena itulah kami memberikan film Jagal/The Act of Killing kepada Anda pada 30 September, sebuah peringatan tentang dimulainya sebuah peristiwa keji terhadap jutaan orang Indonesia," ujar Joshua pada sebuah pernyataan resmi yang dialamatkan kepada publik Indonesia.

Ia melanjutkan, "Kami ingin Anda memutarnya, mendiskusikannya, menyebarluaskannya kepada teman-teman di seluruh penjuru Nusantara. Saya membuat film ini bersama lebih dari 60 kru anonim, kru berkebangsaan Indonesia yang, seperti Anda semua, ingin mengetahui kebenaran dalam sejarah, dan untuk memahami bagaimana impunitas atas kekejaman di masa lampau menyangga rezim korupsi, premanisme dan teror hari ini."

Sumber: Rolling Stone