Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Saat Rasa Aman Tak Lagi Aman
Oleh : Opini
Senin | 16-09-2013 | 10:05 WIB

Oleh Alif Kamal

SUDAH MENJADI hukum kehidupan, bahwa semua manusia yang hidup di dunia membutuhkan rasa aman. Rasa aman ini terkait dengan leluasanya hidup dan kehidupan manusia bisa berjalan dengan normal tanpa ada rasa was-was dan ketakutan yang bisa mengganggu. Rasa aman bila dilekatkan dalam hukum sosial masyarakat, akan tercipta manakala lingkungan sosial bisa secara bersama-sama dan bersinergi satu sama lain dengan individu manusianya.

Akhir-akhir ini, rasa aman kita sebagai warga sedikit terusik dengan maraknya penembakan kepada aparat Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Penembakan ini tentunya bukanlah sebuah hal biasa, mengingat institusi inilah yang bertanggungjawab untuk menciptakan rasa aman kepada masyarakat. Entah apa yang sedang terjadi dengan lingkungan sosial kita dan Polri. Apakah ada soal dengan lingkungan sosial kita terhadap Polri ataukah ada soal lain dalam tubuh Polri terhadap lingkungan sosialnya?

Secara sederhana kehidupan sosial masyarakat saat ini walaupun dalam keadaan normal hidup berdampingan satu sama lain, akan tetapi kalau ditelisik lebih jauh maka akan didapatkan sebuah kesenjangan, baik itu antara si kaya dengan si kaya, si kaya dengan si miskin maupun si miskin dengan si miskin. Kesenjangan yang ada tidak lagi terjadi hanya pada si kaya dengan si miskin.

Sesama si kaya saling sikut untuk memperebutkan kekayaan dan harta negara ini, saling berkompetisi untuk menjadi pejabat walaupun dengan cara rampok dan garong. Antara si kaya dan si miskin sudah pasti akan terus berhadap-hadapan karena hukum perkembangan sosialnya mengharuskan pertarungan antara keduanya. Dan si miskin dengan si miskin juga akan saling jegal walaupun hanya untuk memperebutkan secuil kehidupan. 

Tak pelak, dengan model kehidupan yang mengedepankan kompetisi dan itu dihalalkan dalam alam neoliberalisme seperti sekarang ini, maka salah satu yang menjadi imbas dari model hidup seperti itu adalah hilangnya hubungan sosial kolektif sesama manusia. Bukan tidak mungkin terjadinya penembakan yang ditujukan kepada anggota kepolisian adalah salah satu bentuk hilangnya hubungan sosial di atas.

Tentunya tidak hanya lingkungan sosial yang kemudian jadi bahan evalusi. Dalam internal kepolisian sebagai institusi yang diamanahkan oleh negara untuk menciptakan serta menjaga rasa aman masyarakat, maka evalusai internal penting dilakukan agar image polisi yang selama ini kurang bagus di mata masyarakat bisa kembali normal.

Pesimisme masyarakat terhadap kepolisian ini bukan tanpa alasan, sejak pisah dari TNI dan berdiri sendiri, hampir tiap hari kita melihat ulah oknum anggota kepolisian baik yang berpangkat tinggi, menengah maupun yang berpangkat rendahan melakukan aksi yang tidak simpatik.

Bahkan, dalam beberapa kesempatan, lembaga-lembaga survei anti korupsi terkadang menempatkan lembaga kepolisian sebagai lembaga terkorup di Indonesia seperti yang pernah dirilis oleh Transparency Internasional Indonesia (TII) pada Juli 2013 yang silam.
      
Citra kepolisian yang semakin terpuruk oleh ulah oknumnya sendiri, dendam dari beberapa kelompok yang mungkin pernah tersakiti oleh lembaga kepolisian, menjadi bahan ramuan rentannya rasa keamanan sosial bangsa ini dan bisa jadi cita-cita bangsa seperti yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945 untuk mewujudkan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (SISHANKAMRATA) tidak akan pernah tercapai.

Adalah penting bagi petinggi dan jajaran kepolisian untuk mengembalikan marwah TRIBATRA Kepolisian. Tribatra adalah nilai dasar yang merupakan pedoman moral dan penuntun nurani bagi setiap anggota Polri. Penjelasan dan makna Tribatra harusnya tidak hanya diatas kertas dan terpampang dalam halaman website Polri. Diperlukan transparasi publik dari seluruh jajaran lembaga kepolisian dan partisipasi publik yang luas dan kuat untuk terus melakukan pengawasan terhadap institusi ini.

Untuk soal ini Polri sudah punya pengalaman karena Jenderal Hoegeng pernah membawa lembaga ini menjadi lembaga terhormat walaupun jabatan beliau sebagai Kapolri pada saat itu menjadi taruhannya.

Hal yang pasti adalah kita masih terus berharap dan menginginkan kepolisian terus berbenah, terus memberikan perlindungan dan mengayomi masyarakat. Penciptaan rasa aman bagi masyarakat dan bagi aparat kepolisian sendiri bisa terwujud ketika Tribatra menjadi nafas dari setiap gerak dan langkah anggota kepolisian yang akhirnya tidak ada lagi korban penembakan seperti yang dialami oleh Bripka Sukardi dan lainnya. Semoga.....

Penulis adalah staf Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik