Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Hugo Chavez dan Saya
Oleh : Redaksi
Selasa | 12-03-2013 | 11:34 WIB
hugo_chavez.jpg Honda-Batam
Hugo Chavez. (Foto: BBC)

Oleh Tariq Ali - The Guardian

MENDIANG PRESIDEN VENEZUELA, saya pernah bertemu dengannya beberapa kali, akan diingat oleh para pendukungnya sebagai pencinta karya sastra, seorang ahli pidato yang berapi-api, yang berjuang untuk rakyatnya, dan menang.


Pernah saya bertanya kepadanya apakah ia lebih suka musuh yang membencinya karena mereka tahu apa yang dilakukannya atau mereka yang berbusa-busa menentangnya lebih karena tidak paham. Ia tertawa. Jenis pertama yang lebih menyenangkan karena, jelasnya, mereka membuatnya merasa bahwa ia ada di jalur yang benar. Kematian Hugo Chaves tidak mengagetkan, tetapi tetap saja tidak membuat kita bisa menerimanya dengan mudah. Kita telah kehilangan salah satu raksasa politik di era pasca-komunis.

Venezuela, yang para elitnya berkubang dalam korupsi berskala raksasa, telah selalu dianggap sebagai koloni yang aman oleh Washington dan, di ekstrim yang lain, oleh Sosialis Internasional. Sedikit orang yang membicarakan negara ini sebelum kemenangan Chaves. Setelah 1999, setiap media utama yang merupakan corong barat merasa wajib mempunyai koresponden di sana. Karena suara mereka semua sama (bahwa negara itu berada di bibir jurang kediktatoran gaya komunis) sebetulnya lebih baik kalau mereka menggunakan koresponedn yang sama supaya hemat.

Pertama kali saya bertemu dengannya tahun 2002, tidak lama setelah gagalnya kudeta militer yang didukung oleh Washington dan Madrid, dan setelah itu, dalam berbagai acara. Ia meminta untuk bertemu saya pada saat World Social Forum di Porto Alegre, Brazil. Ia bertanya: "Mengapa anda belum berkunjung ke Venezuela? Datanglah secepatnya." Saya datang. Yang menarik darinya adalah keterusterangan dan keberaniannya. Apa yang terlihat sebagai langkah yang sama sekali impulsif sesungguhnya sudah dipikirkannya dengan hati-hati dan setelah itu, tergantung tanggapan yang muncul, meluas karena ledakan spontan yang dilakukannya. Ketika dunia tergugu dalam bisu, ketika kiri-tengah dan kanan-tengah harus berjuang keras untuk menemukan perbedaan antara mereka dan para politisi mereka mengeriput menjadi manusia mesin yang terobsesi oleh uang, Chavez menerangi bentang ranah politik.

Ia muncul sebagai banteng tangguh, berpidato berjam-jam kepada rakyatnya dengan suara yang dalam dan hangat, dengan kefasihan yang berapi-api yang membuat orang tidak bisa tidak peduli. Kata-katanya memancarkan resonansi yang mempesona. Pidato-pidatonya diwarnai dengan ayat-ayat kitab suci, sejarah nasional dan kontinental, kutipan-kutipan dari para pemimpin revolusioner abad 19 dan presiden Venezuela, Simon Bolivar, pendapat tentang peristiwa-peristiwa dunia yang sedang terjadi dan nyanyian-nyanyian. "Para borjuis kita malu karena saya bernyanyi di depan publik. Anda keberatankah?" Jawaban yang diteriakkan dengan keras oleh para pendengarnya adalah "Tidak". Ia kemudian akan meminta mereka untuk ikut bernyanyi dan menyeru, "Lebih keras, supaya mereka yang berada di bagian timur kota bisa mendengar kita." Pernah sekali, sebelum reli semacam itu ia menoleh ke saya dan berkata: "Anda kelihatan cape hari ini. Apakah anda akan bisa bertahan sampai malam?" Jawab saya: "Tergantung berapa lama pidato anda." Ia berjanji pidatonya akan pendek. Hampir tiga jam.

Kaum Bolívarian, sebutan untuk pendukung Chávez, menawarkan program politik yang menentang konsensus Washington yang berprinsip neo-liberalisme di dalam negeri dan perang di luar negeri. Tentangan ini yang menjadi alasan utama serangan yang menjelek-jelekkan Chávez yang pasti akan terus berlangsung lama setelah kematiannya.

Politisi seperti dia sekarang ini tidak bisa diterima. Hal yang paling membuatnya muak adalah sikap acuh yang congkak dari para politisi arus besar (mainstream) Amerika Selatan terhadap rakyatnya sendiri. Para elit Venezuela sangat rasis. Mereka menganggap presiden terpilih negaranya tak tahu adat dan tidak beradab, seorang zambo, keturunan berdarah campuran lokal dan Afrika yang suka bohong. Para pendukungnya di saluran TV lokal digambarkan sebagai monyet. Colin Powell harus menegur secara publik kedutaan Amerika Serikat yang mengadakan pesta di mana Chávez digambarkan sebagai seekor gorila.

Apakah dia kaget? "Tidak," ucapnya ke saya dengan wajah suram. "Saya hidup di sini. Saya mengenal baik mereka. Satu alasan mengapa begitu banyak orang menjadi tentara adalah karena pintu untuk profesi yang lain ditutup." Sekarang tidak lagi. Ia tidak banyak berilusi. Ia tahu bahwa musuh-musuh lokalnya tidak ribut dan bersekongkol dalam vakum. Di belakang mereka adalah negara paling digdaya di dunia. Untuk beberapa saat ia berpikir Obama mungkin berbeda. Kudeta militer di Honduras mengikis pikiran itu.

Ia mempunyai rasa tanggungjawab yang besar kepada rakyatnya. Berbeda dari para sosial demokrat Eropa, ia tidak pernah percaya bahwa perubahan yang baik bagi kemanusiaan adalah berkat kebaikan korporasi dan pejabat bank, dan ia menyatakan pandangan itu jauh sebelum ambruknya Wall Street pada 2008. Kalau saya harus memberinya label, saya akan menyebutnya seorang sosialis demokrat, yang terbebas dari impuls-impuls sektarian dan perilaku sok penting dan sibuk dengan diri sendiri dari sekte-sekte ekstrim kiri dan rutinitas buta mereka. Itu yang dia katakan pada pertemuan pertama kami.

Setahun setelah itu saya bertanya lebih jauh kepadanya tentang proyek Bolivaria. Apa yang akan dicapai? Ia sangat jernih; jauh lebih jernih dibanding sebagian pendukungnya yang terlalu antusias: "Saya tidak percaya pada postulat dogmatik revolusi Marxis. Saya tidak setuju bahwa kita sedang berada dalam periode revolusi proletariat. Semua pandangan itu harus direvisi. Realitas kita mengatakan itu setiap hari. Apakah kita di Venezuela masa kini mencitakan penghapusan pemilikan pribadi dan masyarakat tanpa kelas? saya rasa tidak. Tetapi jika saya diberitahu bahwa karena realitas itu kita tidak bisa melakukan apapun untuk membantu rakyat miskin, orang-orang yang telah membuat negeri ini kaya karena kerja dan karya mereka -- dan jangan lupa termasuk di dalamnya para budak -- saya akan menjawab: 'Kita berpisah jalan.' Saya tidak akan pernah bisa menerima bahwa redistribusi kekayaan tidak mungkin bisa terjadi di masyarakat. Kelas atas kami tidak suka membayar pajak. Itu salah satu alasan mereka membenci saya. Kami bilang: 'Anda harus membayar pajak anda.' Saya berkeyakinan lebih baik mati dalam pertempuran, daripada mengagung-agungkan bendera yang sangat revolusioner dan murni, lalu tidak melakukan apapun... Posisi semacam itu menurut saya sangat berarti, satu alasan yang baik ... Coba dan ciptakan revolusimu, terjunlah ke pertempuran, beranjaklah sedikit, walaupun hanya satu milimeter, ke arah yang benar, dari pada hanya bermimpi tentang utopia."

Saya masih ingat satu saat saya duduk di samping seorang perempuan tua berpakaian sederhana pada salah satu acara publik Chaves. ia bertanya kepad saya tentangnya. Bagaimana pendapat saya tentang dia? Apakah dia sudah bekerja dengan baik? Dia terlalu banyak pidato, bukan? Ia sering kali terlalu terburu-buru, bukan? Saya membelanya. Perempuan itu terlihat lega. Dia adalah ibu Chaves, yang khawatir kalau-kalau ia telah kurang baik mengasuhnya: "Ketika kecil, kami selalu memastikan bahwa ia membaca buku." Kegemaran membaca ini tidak pernah menghilang darinya. Sejarah, fiksi dan puisi adalah kecintaan dalam hidupnya: "Seperti saya juga, Fidel itu penderita insomnia. Kadang kami membaca novel yang sama. Jam tiga pagi ia menelepon dan bertanya: "Sudah tamat kamu membaca? Bagaimana pendapatmu tentang buku itu?" Lalu kami berdebat selama satu jam lagi.'"

Karena pesona karya sastra, pada 2005 ia merayakan ulang tahun ke 400 tahun novel akbar Cervantes dengan cara yang unik. Kementerian Kebudayaan mencetak satu juta buku Don Quixote dan membagikannya secara gratis kepada sejuta keluarga miskin, yang sekarang telah tidak lagi buta huruf. Gestur yang romantis dan tidak praktis? Tidak. keajaiban susastra tidak bisa mentransformasi dunia, tetapi dapat membuka pikiran orang. Chávez percaya bahwa buku itu cepat atau lambat akan dibaca.

Kedekatannya dengan Castro telah selalu digambarkan sebagai hubungan bapak-anak. Tetapi sesungguhnya itu hanya satu sisi saja. Tahun lalu sejumlah besar massa berkumpul di luar rumah sakit di Caracas, tempat Chávez seharusnya beristirahat untuk pemulihan setelah perawatan kankernya, dan suara nyanyian mereka semakin lama semakin keras. Chávez meminta pengeras suara dipasang di atap. Ia lalu perpidato menyambut mereka. Menyaksikan peristiwa ini di Telesur di Havana, Castro terperanjat. Ia menelepon direktur rumah sakit itu: "Ini Fidel Castro. Kamu seharusnya dipecat. Kembalikan dia ke tempat tidur, dan bilang saya yang memerintahkan."

Di atas persahabatan mereka, Chávez memandang Castro dan Che Guevara dalam kerangka sejarah. Mereka adalah pewaris Bolivar di abad 20 dan sahabatnya, Antonio Jose de Sucre. Mereka mencoba mempersatukan benua itu, tetapi mereka seolah meluku laut. Chávez lebih mendekati impian itu dibanding empat serangkai yang sangat dihormatinya itu. Keberhasilannya di Venezuela membangkitkan reaksi di seluruh benua: Bolivia dan Ecuador melihat kemenangan. Brazil di bawah Lula dan Dilma tidak mengikuti model sosial itu tetapi tidak membiarkan barat mengadu domba mereka. Sudah merupakan ungkapan klise jurnalis barat bahwa: Lula lebih baik dari Chávez. Tetapi tahun lalu secara publik Lula menyatakan bahwa ia mendukung Chavez, yang sumbangan pentingnya bagi "benua kita" tidak pernah boleh diremehkan.

Gambaran paling populer tentang Chávez di barat adalah ia seorang caudillo (pemimpin politik dengan latar belakang militer yang otoriter, wh) penindas. Andai saja itu betul. Konstitusi Bolivaria yang ditentang oleh kelompok oposisi, koran dan saluran TV mereka, dan CNN lokal, plus pendukung barat mereka, disetujui oleh mayoritas rakyat. Ia adalah satu-satunya konstitusi di dunia yang memungkinkan pemakzulan presiden yang sedang menjabat berdasar referandum lewat pengumpulan sejumlah tertentu tanda tangan. Begitu bencinya mereka kepada Chávez, sehingga oposisi mencoba menggunakan mekanisme ini untuk memakzulkannya. Walaupun banyak dari yang dikumpulkan adalah tanda tangan orang-orang yang sudah mati, pemerintah Venezuela menerima tantangan itu.

Saya di Caracas seminggu sebelum referandum dilakukan. Ketika saya bertemu Chávez di istana Miraflores ia membaca semua poll opini dengan teliti. Kemungkinannya bisa ketat. "Andaikan anda kalah?" saya bertanya. "Saya akan mundur," jawabnya tanpa ragu. Ia menang.

Tidakkah ia pernah merasa lelah? Depres? Kehilangan kepercayaan diri? "Ya," jawabnya. Tetapi itu bukan karena upaya kudeta atau referandum itu. Lebih karena serangan dari serikat buruh perminyakan yang korup dan didukung oleh kelas menengah yang mengkhawatirkannya karena akan berimbas ke seluruh penduduk, terutama rakyat miskin: "Dua hal yang menjaga semangat saya. Pertama adalah dukungan yang kami dapat dari seluruh negeri. Saya bosan dan cape duduk di kantor. Jadi, bersama seorang pengawal dan dua kamerad saya pergi bermobil ke lapangan untuk mendengarkan suara rakyat dan menghirup udara segar. Respons mereka menggetarkan saya. Seorang perempuan menghampiri saya dan berkata: 'Chávez, ikuti saya, saya ingin menunjukkan sesuatu kepada anda." Saya mengikutinya ke rumahnya yang sangat kecil. Di dalam, suami dan anak-anaknya sedang menunggu sup yang akan dimasak. "Lihat apa yang saya gunakan untuk bahan bakar... bagian belakang tempat tidur kami. Besok saya akan menggunakan kaki-kakinya, lusa meja, kemudian kursi dan pintu. Kami bisa bertahan hidup, jadi jangan anda menyerah.'Saat saya berjalan keluar, pemuda-pemuda dari geng setempat datang menyalami saya. 'Kami tidak akan mati tanpa bir. tapi anda harus menghajar para bangsat (Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dan sistem pendukungnya. wh) itu.'"

Bagaimana realitas dalam dari hidupnya? Bagi siapapun dengan tingkat inteligensia, karakter dan budaya, serta tingkat emosional dan intelektual yang memadai, kepribadiannya utuh walaupun tidak selalu nampak jelas. Ia seorang duda cerai, tetapi sayangnya kepada anak-anak dan cucu-cucunya sangat kuat. Kebanyakan perempuan yang dicintainya, dan itu tidak banyak, menggambarkan Chavez sebagai pecinta yang pemurah, dan itu diungkapkan mereka lama setelah percerian.

Bagaimana dengan negeri yang ditinggalkannya? Sebuah sorga? Pasti bukan. Bagaimana mungkin, melihat skala permasalahan yang membelitnya. Tetapi ia meninggalkan sebuah masyarakat yang berubah hebat di mana mereka yang miskin merasa mereka mempunyai peran penting dalam pemerintahan. Popularitasnya tidak bisa dipertanyakan. Venezuela terbagi antara para pendukungnya dan pencelanya. Ia mati tak terkalahkan, tetapi ujian besarnya masih akan datang. Sistem yang diciptakannya, demokrasi sosial berbasis pengorganisasian rakyat, masih harus tumbuh. Akankah penerusnya mampu mengemban tugas itu? Inilah ujian terberat dari eksperimen Bolivaria.

Satu hal kita pasti. Musuh-musuhnya tidak akan membiarkannya beristirahat dalam damai. Dan para pendukungnya? Para pendukungnya, rakyat miskin di seluruh benua dan di manapun, akan mengingatnya sebagai seorang pemimpin politik yang menjanjikan dan memenuhi hak-hak sosial walaupun harus mengarungi perlawanan yang berat; sebagai orang yang berjuang untuk mereka dan telah menang. Rabu, 6 Maret 2013

Tariq Ali adalah tokoh kiri internasional yang berpengaruh sejak tahun 60an. Ia telah menjadi penulis untuk the Guardian sejak tahu 70an. Ia juga sejak lama redaksi the New Left Review dan pengamat pilitik yang tulisannya diterbitkan di semua benua. Bukunya termasuk The Duel: Pakistan on the Flightpath of American Power, and The Obama Syndrome.