Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pada 2012. PDB Singapura Hanya Tumbuh 1,2 Persen
Oleh : si
Senin | 31-12-2012 | 18:53 WIB
SingaporePM.jpg Honda-Batam

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong

SINGAPURA, batamtoday - Pemerintah Singapura menyatakan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura hanya tumbuh 1,2 persen sepanjang 2012.



Hal itu disampaikan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dalam rilis hari ini. Lee mengatakan, pertumbuhan PDB itu di tengah pertumbuhan yang lemah di negara maju dan kendala pekerjaan. Demikian seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (31/12/2012).

Ekonom Credit Suisse AG Michael Wan menuturkan, pertumbuhan ekonomi kuartal keempat Singapura yang mengalami kontraksi mendorong Singapura ke resesi secara teknis. "Ini angka mengecewakan. Kami telah melihat kelemahan besar di sektor manufaktur. Hal itu dikarenakan dua hal antara lain nilai tukar yang tinggi sebagian karena kebijakan kami untuk menggunakan nilai tukar untuk mengendalikan inflasi, dan kedua adalah kebijakan domestik kita ketika datang ke pekerja asing," ujar Wan.

Dorongan pemerintah untuk membatasi asupan tenaga kerja asing telah menyebabkan kekurangan tumbuh pekerja dan biaya binis lebih tinggi sehingga memberikan inflasi lebih cepat yang mencegah bank sentral dari menyediakan stimulus.

Otoritas moneter Singapura memperketat kebijakan tahun ini dengan memungkinkan penguatan mata uang lebih cepat bahkan ketika tergantung ekspor. Padahal pemulihan ekonomi Amerika Serikat tidak merata dan krisis utang Eropa yang berlarut-larut.

Selain itu, Departemen Perdagangan akan merilis kuartal keempat angka GDP pada 2 Januari. Jika jumlahnya mengkonfirmasi perekonomian menyusut pada kuartal keempat maka itu menjadi resesi sejak 2009.

Sebelumnya pemerintah Singapura memperkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 1,5% pada 2012. Lee menegaskan pertumbuhan ekonomi dapat naik 1% menjadi 3% pada 2013.

"Amerika Serikat yang melemah, Eropa dan ekonomi Jepang mempengaruhi pertumbuhan Singapura tetapi beberapa industri juga mengalami kesulitan mempekerjakan para pekerja yang mereka butuhkan untuk tumbuh," tutur Lee.