Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Peran Ormas Dinilai Krusial Tekan Stunting, Edukasi Literasi Gizi Jadi Kunci Keberhasilan
Oleh : Redaksi
Senin | 29-06-2026 | 10:48 WIB
edukasi-gizi.jpg Honda-Batam
PP Aisyiyah dan Muslimat NU menjadi contoh gerakan masyarakat yang aktif mengampanyekan pentingnya literasi gizi. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Upaya menekan angka stunting di Indonesia dinilai tidak dapat hanya mengandalkan intervensi pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keterlibatan organisasi masyarakat (ormas), komunitas, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) berbasis akar rumput menjadi faktor penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang.

Sosiolog Universitas Indonesia, Nadia Yovanni, mengatakan organisasi masyarakat memiliki posisi strategis dalam meningkatkan literasi gizi karena kedekatannya dengan masyarakat serta kemampuannya menjangkau keluarga hingga lingkungan sosial secara luas.

"Peran organisasi masyarakat itu besar untuk mengedukasi tentang gizi pada masyarakat," ujar Nadia.

Meski demikian, Nadia menegaskan keberhasilan edukasi sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang menjalankannya. Menurutnya, kader maupun anggota organisasi harus memiliki pemahaman gizi yang benar sebelum memberikan pendampingan kepada masyarakat.

"Jadi besar sebenarnya peran organisasi masyarakat, tapi perlu diingat kader atau anggotanya sendiri harus punya literasi gizi yang benar," katanya.

Sejumlah organisasi perempuan berbasis keagamaan seperti PP Aisyiyah dan Muslimat NU menjadi contoh gerakan masyarakat yang aktif mengampanyekan pentingnya literasi gizi. Melalui jaringan kader yang tersebar di berbagai daerah, kedua organisasi tersebut turut mengedukasi masyarakat sekaligus meluruskan anggapan keliru mengenai konsumsi kental manis.

Edukasi tersebut dinilai penting mengingat masih banyak masyarakat yang menganggap kental manis sebagai susu atau menjadikannya sebagai pengganti susu pertumbuhan bagi anak. Padahal, berdasarkan hasil survei Universitas Islam Bandung, sebanyak 67,6 persen balita diketahui mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan.

Dari sisi kandungan gizi, kental manis mengandung sekitar 50 persen gula dengan protein hanya sekitar 1-3 gram per takaran saji. Komposisi tersebut dinilai tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dalam masa pertumbuhan sehingga penggunaannya sebagai pengganti susu berpotensi menghambat pemenuhan gizi yang optimal.

Ketua Majelis Kesehatan Pengurus Pusat Aisyiyah (Makes PPA), Warsiti, mengatakan organisasi yang dipimpinnya menaruh perhatian besar terhadap isu pemenuhan gizi bagi perempuan dan anak sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

"Aisyiyah merupakan organisasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan anak. Karena itu, pemenuhan gizi harus menjadi perhatian kita bersama," ujar Warsiti yang juga Rektor Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta.

Menurut Warsiti, Aisyiyah bersama para kader di seluruh Indonesia terus melakukan edukasi hingga ke tingkat akar rumput. Upaya tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan akademisi untuk melakukan penelitian maupun survei guna memahami penyebab masih tingginya penggunaan kental manis sebagai pengganti susu bagi anak.

"Aisyiyah bersama kader-kader di seluruh Indonesia bekerja sampai ke akar rumput, memperkuat peran keluarga, komunitas, dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci," ujarnya.

Nadia menilai organisasi masyarakat merupakan mitra strategis pemerintah dalam mengubah perilaku masyarakat terkait pemenuhan gizi keluarga. Menurutnya, persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga dipengaruhi oleh pendidikan dan proses sosialisasi yang dimulai dari lingkungan keluarga.

"Organisasi seperti Aisyiyah ini hadir membawa kepentingan masyarakat. Salah satu perannya adalah mengedukasi masyarakat," katanya.

Ia menjelaskan keluarga merupakan agen sosialisasi pertama yang membentuk pemahaman anak mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang. Karena itu, peningkatan literasi gizi dalam keluarga menjadi fondasi penting untuk mencegah stunting sejak dini.

"Agen sosialisasi pertama itu adalah keluarga. Jika keluarganya tidak memiliki literasi gizi yang baik, mereka hanya berpikir yang penting makan tanpa memperhatikan keseimbangan kandungan gizinya," ujar Nadia.

Selain organisasi keagamaan, sejumlah komunitas seperti Boss Mama, Rangkul Foundation, dan Komunitas Relawan Samadua juga aktif memberikan edukasi gizi bagi ibu dan balita, khususnya di wilayah terdampak bencana di Sumatera. Tidak hanya menyalurkan bantuan pangan, mereka juga melakukan pendampingan, advokasi, serta pelatihan kader lokal agar mampu mengenali dan menangani persoalan gizi di lingkungannya.

Pendekatan berbasis komunitas tersebut dinilai mampu melengkapi berbagai program pemerintah karena lebih efektif mendorong perubahan perilaku masyarakat. Dengan jaringan yang menjangkau hingga tingkat desa, organisasi masyarakat dinilai memiliki kemampuan menyampaikan pesan-pesan kesehatan secara lebih mudah dipahami dan diterima warga.

"Kalau masyarakat memiliki literasi gizi yang baik, mereka akan memahami bahwa kebutuhan tubuh tidak hanya dipenuhi oleh karbohidrat, tetapi juga berbagai zat gizi lainnya. Pemahaman itu akan memengaruhi perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga," tutup Nadia.

Editor: Gokli