Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kesadaran Sejarah untuk Fondasi Pembangunan Berkelanjutan
Oleh : Redaksi
Minggu | 28-06-2026 | 09:32 WIB

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA)*

KONFLIK geopolitik yang berkepanjangan, perubahan iklim, disrupsi teknologi kecerdasan buatan, gejolak pasar keuangan global, hingga perubahan pola hubungan internasional telah menciptakan situasi yang sulit diprediksi.

Dalam kondisi seperti ini, banyak pihak berusaha mencari jawaban melalui proyeksi ekonomi, model statistik, maupun perkembangan teknologi mutakhir.

Namun, sering kali kita lupa bahwa salah satu sumber pembelajaran paling penting untuk menghadapi masa depan justru berasal dari masa lalu: sejarah.

Sejarah bukan hanya sekadar catatan tentang apa yang telah terjadi. Sejarah adalah laboratorium pengalaman manusia yang menyediakan berbagai pelajaran tentang bagaimana masyarakat, negara, dan peradaban menghadapi krisis, perubahan, dan ketidakpastian.

Dalam pandangan sejarawan Inggris E.H. Carr, sejarah merupakan dialog tanpa akhir antara masa lalu dan masa kini (Carr, 1961). Oleh karena itu, memahami sejarah bukan berarti hidup dalam romantisme masa lampau, melainkan memanfaatkan pengalaman terdahulu untuk membangun kemampuan menghadapi tantangan masa depan.

Dalam konteks Indonesia maupun dunia, berbagai peristiwa sejarah menunjukkan bahwa ketidakpastian bukanlah fenomena baru. Yang membedakan hanyalah bentuk dan skalanya. Karena itu, pelajaran dari sejarah tetap relevan sebagai fondasi dalam menyusun kebijakan dan strategi menghadapi masa depan.

Kemampuan Adaptasi

Salah satu pelajaran penting dari sejarah adalah bahwa perubahan besar sering kali datang tanpa peringatan yang memadai. Sejarawan ekonomi Niall Ferguson menjelaskan bahwa berbagai krisis besar dalam sejarah dunia kerap muncul melalui rangkaian kejadian yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi oleh para pengambil kebijakan (Ferguson, 2010).

Krisis ekonomi global tahun 1929 misalnya, terjadi ketika banyak pihak masih meyakini bahwa kemajuan industri dan pasar keuangan telah menciptakan era kemakmuran permanen. Namun, dalam waktu singkat, pasar saham Amerika Serikat runtuh dan memicu depresi ekonomi global yang berlangsung selama satu dekade (Kindleberger, 1973).

Peristiwa serupa terjadi pada Krisis Asia 1997–1998. Sebelum krisis, banyak negara Asia Tenggara dipuji sebagai "keajaiban ekonomi Asia". Indonesia bahkan mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi selama beberapa tahun.

Akan tetapi, pelemahan nilai tukar, utang luar negeri yang besar, dan lemahnya tata kelola ekonomi menyebabkan krisis berkembang menjadi guncangan multidimensional yang berdampak pada ekonomi, politik, dan sosial (Booth, 1998).

Dari berbagai peristiwa tersebut, sejarah menunjukkan bahwa keyakinan berlebihan terhadap stabilitas sering kali menjadi sumber kerentanan. Ketidakpastian tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dikelola melalui kesiapan institusi dan kemampuan beradaptasi.

Banyak kebijakan modern berfokus pada kemampuan memprediksi masa depan. Namun, sejarah justru menunjukkan bahwa kemampuan bertahan menghadapi perubahan sering kali lebih penting daripada kemampuan meramalkan peristiwa.

Dalam karya klasik The Black Swan, Nassim Nicholas Taleb menjelaskan bahwa berbagai peristiwa besar yang mengubah arah sejarah sering kali berasal dari kejadian yang sebelumnya dianggap tidak mungkin terjadi (Taleb, 2007). Oleh karena itu, membangun ketahanan menjadi lebih relevan dibandingkan mengejar prediksi yang sempurna.

Indonesia memiliki banyak contoh mengenai pentingnya ketahanan. Setelah krisis 1998, berbagai reformasi dilakukan dalam sektor keuangan dan kelembagaan ekonomi. Reformasi tersebut mencakup penguatan independensi Bank Indonesia, pembentukan sistem pengawasan perbankan yang lebih baik, serta perbaikan tata kelola fiskal negara.

Hasilnya terlihat ketika Indonesia menghadapi Krisis Keuangan Global 2008. Meskipun terkena dampak perlambatan ekonomi dunia, Indonesia mampu mempertahankan stabilitas yang relatif lebih baik dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa institusi yang kuat menjadi faktor utama dalam menghadapi ketidakpastian (Hill, 2018).

Pelajaran sejarah ini penting karena dunia saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Ketidakpastian geopolitik, perang dagang, perubahan iklim, dan transformasi digital tidak selalu dapat diprediksi secara akurat. Namun, negara yang memiliki fondasi ekonomi kuat, tata kelola yang baik, dan kapasitas adaptasi tinggi akan lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan.

Sejarah mengajarkan masyarakat yang melupakan pengalaman masa lalu cenderung mengulangi kesalahan yang sama. Filsuf George Santayana pernah menyatakan bahwa mereka yang tidak mampu mengingat masa lalu akan dikutuk untuk mengulanginya (Santayana, 1905).

Dalam konteks pembangunan nasional, memori kolektif menjadi aset yang sangat penting. Pengalaman Indonesia menghadapi inflasi tinggi pada dekade 1960-an, krisis moneter 1998, maupun pandemi Covid-19 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya stabilitas ekonomi, kapasitas negara, dan solidaritas sosi

Pandemi Covid-19 misalnya, memperlihatkan bagaimana negara-negara yang memiliki sistem kesehatan lebih kuat dan koordinasi kebijakan yang baik mampu merespons krisis dengan lebih efektif.

Di Indonesia, pandemi juga memperlihatkan pentingnya digitalisasi layanan publik, penguatan sistem kesehatan, dan perlunya diversifikasi ekonomi. Jika pelajaran tersebut diabaikan, maka berbagai kebijakan yang diambil di masa depan berisiko kehilangan pijakan historis yang penting.

Sejarah membantu kita memahami bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola risiko jangka panjang.

Pelajaran berikutnya adalah bahwa peradaban yang mampu bertahan bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling adaptif terhadap perubahan. Sejarawan Arnold Toynbee berpendapat bahwa kemajuan maupun kemunduran suatu peradaban sangat dipengaruhi oleh kemampuan merespons tantangan yang dihadapi (Toynbee, 1946).

Dalam teori challenge and response, keberhasilan suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas respons terhadap tekanan eksternal maupun internal.

Contoh nyata dapat dilihat pada transformasi ekonomi beberapa negara Asia Timur. Jepang pasca-Perang Dunia II, Korea Selatan pada dekade 1960-an, dan China sejak reformasi ekonomi tahun 1978 menunjukkan bagaimana kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global dapat menghasilkan kemajuan ekonomi yang luar biasa. Indonesia juga menghadapi tantangan serupa.

Transisi energi, digitalisasi ekonomi, kecerdasan buatan, dan perubahan struktur demografi menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi.

Jika Indonesia mampu belajar dari pengalaman sejarahnya sendiri, maka berbagai tantangan tersebut dapat menjadi peluang pembangunan. Sebaliknya, kegagalan beradaptasi dapat menimbulkan stagnasi. Sejarah banyak mencatat contoh negara yang kehilangan daya saing karena terlalu lama mempertahankan pola lama di tengah perubahan dunia yang cepat.

Perspektif Jangka Panjang

Salah satu kelemahan yang sering muncul dalam pengambilan kebijakan adalah dominasi orientasi jangka pendek. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa keputusan strategis yang berhasil umumnya dibangun melalui visi jangka panjang.

Ekonom kelembagaan Douglas North menjelaskan pembangunan berkelanjutan sangat bergantung pada kualitas institusi yang dibangun secara bertahap dalam rentang waktu panjang (North, 1990). Institusi yang kuat tidak lahir dalam semalam, melainkan melalui proses pembelajaran historis yang panjang.

Karena itu, menghadapi ketidakpastian masa depan memerlukan keberanian untuk berpikir melampaui siklus politik dan ekonomi jangka pendek. Investasi pada pendidikan, riset, inovasi, kesehatan, serta pembangunan sumber daya manusia merupakan bentuk kebijakan yang manfaatnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi sangat menentukan daya tahan bangsa di masa depan.

Dalam konteks global yang semakin kompetitif, negara yang mampu menjaga kesinambungan pembangunan akan memiliki posisi yang lebih kuat dibandingkan negara yang hanya berorientasi pada pencapaian sesaat.

Pada akhirnya, sejarah tidak memberikan ramalan pasti tentang apa yang akan terjadi. Sejarah juga tidak menyediakan resep tunggal untuk menyelesaikan seluruh persoalan. Namun, sejarah memberikan sesuatu yang jauh lebih penting: perspektif.Melalui sejarah, kita memahami bahwa krisis selalu datang dan pergi, bahwa perubahan merupakan bagian alami dari kehidupan manusia, serta bahwa kemampuan beradaptasi merupakan kunci keberlangsungan suatu bangsa.

Sejarah mengajarkan bahwa ketidakpastian bukan alasan untuk takut, melainkan alasan untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan sulit diprediksi, Indonesia memerlukan kemampuan untuk membaca masa depan tanpa melupakan masa lalu. Pengalaman sejarah bangsa menunjukkan bahwa tantangan sebesar apa pun dapat dihadapi ketika terdapat institusi yang kuat, kepemimpinan yang visioner, dan masyarakat yang mampu belajar dari pengalaman.

Karena itu, belajar dari sejarah bukanlah aktivitas akademik semata. Ia merupakan investasi intelektual yang membantu bangsa memahami arah perubahan dan membangun ketahanan menghadapi masa depan. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, sejarah sesungguhnya adalah kompas yang memungkinkan kita melangkah lebih bijaksana menuju hari esok.

Penulis adalah  Analis, Peneliti dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia