Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Perbanyak Senyum dan Sabar

Pelajaran Berharga Namira Jadi Petugas Jemaah Haji Lansia di Madinah
Oleh : Saibansah
Selasa | 23-06-2026 | 16:48 WIB
2306_pelajaran-berharga-namira.jpg Honda-Batam
Petugas haji lansia Namira menuturkan pengalamannya kepada Tim MCH PPIA Arab Saudi 2026. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Senyum itu tak pernah lepas dari wajah Namira Stasya. Di tengah lalu-lalang jamaah haji Indonesia yang bersiap pulang ke Tanah Air melalui Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, perempuan 30 tahun itu terus menyapa dengan ramah.

"Selamat datang, Pak Haji. Selamat datang, Bu Haji."

Sapaan tersebut berulang kali terdengar dari bibirnya pada malam pertengahan Juni 2026 lalu. Tak hanya menyambut, Namira juga sigap menawarkan bantuan kepada jamaah lanjut usia yang tampak kelelahan. Ketika seorang lansia mengangguk menerima tawarannya, ia segera mencarikan kursi roda, membantu duduk, lalu mengantar hingga ke ruang tunggu keberangkatan.

Bagi Namira, tugas sebagai petugas Lansia dan Disabilitas (Landis) dalam penyelenggaraan ibadah haji ini bukan sekadar pekerjaan. Ada ruang pengabdian yang membuatnya merasa dekat dengan para jamaah.

"Rasanya seperti melayani orang tua sendiri, melayani kakek dan nenek sendiri," tuturnya.

Latar belakangnya yang berkecimpung di bidang pelayanan membuat proses adaptasi sebagai petugas haji berjalan relatif mudah. Senyum yang terus mengembang bukan sesuatu yang dipaksakan. Sebaliknya, itu menjadi bagian dari dirinya.

Selama hampir dua bulan bertugas di Madinah, Namira justru menemukan banyak pengalaman yang memperkaya batinnya. Kedekatannya dengan jamaah lansia terasa semakin personal karena kedua orang tuanya juga telah memasuki usia lanjut.

Tak jarang, interaksi dengan para jamaah membangkitkan kenangan masa kecil. Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika ia bertemu seorang jamaah perempuan yang wajahnya mengingatkannya pada almarhumah sang nenek.

"Saat melihat beliau, saya langsung teringat nenek," ujarnya.

Kenangan itu membawanya kembali pada masa ketika ia sering tidur sekamar dengan nenek yang sabar membimbingnya membaca Al-Quran. Sosok yang menanamkan nilai-nilai agama sejak kecil dan pernah berharap cucunya tumbuh menjadi penghafal Al-Quran.

Di sela tugas yang padat, kenangan tersebut menjadi pengingat tentang arti pelayanan yang tulus.

Bagi Namira, tidak ada cerita duka selama menjalankan tugas. Yang ia rasakan justru rasa syukur karena mendapat kesempatan berinteraksi dengan para jamaah yang penuh pengalaman hidup.

"Kalau mereka lelah atau kepanasan, tugas kami memberi semangat. Dengan senyum, salam, dan sapa," katanya.

Pengalaman sebagai petugas haji juga meninggalkan tekad baru dalam dirinya. Ia berharap kebiasaan melayani dengan ramah, sabar, dan penuh perhatian tidak berhenti ketika musim haji usai.

"Sepulang dari sini saya ingin tetap ramah kepada siapa pun, tetap sabar membantu orang, dan bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar," ujarnya.

Editor: Dardani