Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kisah Petugas Haji Asal Batam

Saibansah Dardani dan Seteguk Air di Tanah Suci
Oleh : Saibansah
Jumat | 19-06-2026 | 16:28 WIB
Saibansah.jpg Honda-Batam
Saibansah saat bertugas melayani jemaah haji di Mina, bersama dengan asykar Arab Saudi. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Pukul sebelas siang di Mina, Makkah, Arab Saudi. Matahari menggantung tepat di atas kepala, ketika dua lelaki lanjut usia duduk kelelahan di halaman sebuah bangunan ke arah Jamarat. Yang satu duduk di lantai, dan satunya lagi duduk di kursi lipatnya.

Wajah mereka tampak kelelahah. Rupanya, sejak malam sebelumnya, keduanya terpisah dari rombongan dan tidak tahu arah dan bagaimana cara kembali ke hotel tempat mereka menginap di kawasan Syisya, Makkah.

Malam itu mereka tidur di pinggir jalan. Beruntung, banyak jemaah lain yang berbagi makanan dan minuman, sehingga keduanya bisa bertahan hingga pagi. Namun ketika siang menjelang, kebingungan itu belum juga berakhir.

Di tengah situasi itulah Saibansah Dardani (Pemimpin Redaksi BATAMTODAY.COM & J5NEWSROOM.COM) dan Aditya Nugroho (Jurnalis TVOne) bertemu dengan mereka.

"Pak, ke mana arah Jamarat?" tanya salah seorang jemaah itu.

Pertanyaan sederhana. Namun bagi Junaidi dan Faizal, dua jemaah asal Sumatera Selatan dari Kloter 13 Embarkasi Palembang, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah jalan pulang.

Saibansah dan Oho (sapaan akrab Aditya Nugroho) kemudian mengantar keduanya menuju Jamarat. Dari titik itulah kedua jemaah tersebut mengaku kembali mengenali arah menuju hotel mereka.

Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi Saibansah, di situlah ia memahami bahwa tugas petugas haji seringkali sesederhana membantu seseorang menemukan jalan pulang. Mengantarkan mereka ke titik awal yang dapat mengarahkan mereka ke hotel atau tendanya menginap.

Padahal jauh sebelum mengenakan atribut PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji), kehidupan Saibansah lebih akrab dengan ruang redaksi, rapat liputan, dan tenggat berita. Pria yang akrab disapa Cak Iban itu telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia jurnalistik.

Kariernya dimulai sejak menjadi wartawan Harian Pagi Riau Pos (Jawa Pos Group) pada awal 1992-an. Sejak saat itu, puluhan tahun hidupnya dihabiskan untuk mengejar peristiwa, mencari narasumber, dan menuliskan cerita orang lain.

Namun musim haji tahun ini menghadirkan pengalaman yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia datang ke Tanah Suci bukan untuk memburu berita. Ia datang untuk melayani.

Jalan Panjang Menuju Tanah Suci

Kesempatan itu tidak datang begitu saja. Sebagai wartawan dari media lokal di Sumatera, Saibansah harus bersaing dengan lebih dari sebelas ribu pendaftar petugas haji dari seluruh Indonesia.

Mereka berasal dari berbagai profesi dan latar belakang. Ada aparatur sipil negara, tenaga kesehatan, anggota TNI dan Polri, akademisi, aktivis organisasi kemasyarakatan Islam, hingga para profesional dari berbagai bidang.

"Menjadi petugas haji bukan pekerjaan mudah. Harus bersaing dengan ribuan orang dari seluruh Indonesia dan harus melewati berbagai tahapan seleksi,” tutur ayah dua putra dan satu putri ini.
 
Berbekal pengalaman panjang di dunia jurnalistik, lulus sertifikasi kompetensi wartawan utama, sebagai asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW), serta Ahli Pers Dewan Pers, Saibansah mengikuti seluruh proses seleksi yang diselenggarakan Kementerian Haji dan Umrah RI. Ia juga mendapat rekomendasi resmi yang ditandatangani Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir dan mantan Sekjen PWI Pusat, almarhum Zulmansyah Sekedang.

Namun semua itu tidak membuat jalan menuju Tanah Suci menjadi lebih mudah. Ia tetap harus melewati seluruh tahapan seleksi yang sama seperti ribuan peserta lainnya. Mulai dari seleksi administrasi, tes CAT (Computer Assisted Test), wawancara di Asrama Haji Pondok Gede, hingga pendidikan dan pelatihan yang berlangsung selama hampir satu bulan.

Di Pondok Gede, para calon petugas tidak hanya belajar soal teknis pelayanan jemaah. Mereka juga ditempa melalui pelatihan semi militer yang melibatkan instruktur dari TNI dan Polri. Disiplin, kerja sama tim, komunikasi, hingga simulasi penanganan kondisi darurat menjadi bagian dari keseharian mereka.

“Tujuannya agar para petugas siap melayani jemaah dan mampu bekerja dalam situasi yang serba cepat serta penuh tekanan,” kata alumnus Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur ini.

Namun dari seluruh materi yang diterimanya, ada satu kalimat yang paling membekas. Kalimat itu disampaikan langsung oleh Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf. Pesannya sederhana tetapi menghentak.

Tugas utama petugas haji bukanlah berhaji. Tugas utama petugas haji adalah melayani.
Jika suatu saat seorang petugas harus memilih antara menyelesaikan ibadah pribadinya atau membantu jemaah yang membutuhkan pertolongan, maka yang harus didahulukan adalah jemaah.

Pesan itulah yang terus dibawa Saibansah hingga ke Arab Saudi. “Kalimat itu mengubah cara pandang saya tentang ibadah,” ujar Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepri (Kepulauan Riau) ini.

Menulis, Mendokumentasikan dan Melayani

Pada 17 April 2026, Saibansah berangkat ke Arab Saudi bersama tim Media Center Haji (MCH) Daker (Daerah Kerja) Madinah. Secara formal, tugasnya adalah melakukan peliputan, dokumentasi, publikasi, dan menyebarluaskan informasi terkait penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.

Ia menulis berita, membuat laporan lapangan, mendokumentasikan aktivitas jemaah, dan menjembatani informasi antara Tanah Suci dan masyarakat Indonesia. Namun kenyataan di lapangan jauh lebih luas daripada uraian tugas di atas kertas.

Dalam operasional haji, seluruh petugas pada akhirnya adalah pelayan jemaah. Ketika ada jemaah yang kebingungan, mereka membantu. Ketika ada yang tersesat, mereka mengarahkan. Ketika ada yang membutuhkan informasi, mereka menjelaskan.

"Yang terpenting adalah memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia," tegasnya.

Peran itu semakin terasa ketika fase puncak haji dimulai. Di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), hampir seluruh petugas dikerahkan untuk mendukung pelayanan jemaah. Aktivitas jurnalistik praktis berhenti. Yang tersisa hanyalah tugas kemanusiaan.

Saibansah masih mengingat bagaimana dirinya dan Oho baru beberapa langkah keluar dari tenda di Mina selalu dihentikan oleh jemaah yang meminta petunjuk arah menuju Jamarat.

Lalu ada lagi yang menanyakan arah kembali ke hotel. Ada yang terpisah dari rombongan. Ada yang kebingungan mencari tenda. Ada yang hanya membutuhkan teman bicara karena panik.

Dalam satu hari, langkah mereka bisa mencapai lebih dari 31 ribu langkah atau lebih dari 20 kilometer. Namun tak satu pun langkah itu terasa sia-sia. Karena setiap langkah membawa mereka kepada satu hal yang sama: membantu jemaah.

Pelajaran dari Sebotol Air Minum

Di antara begitu banyak pengalaman selama 77 hari bertugas, ada satu hal yang terus dikenang Saibansah hingga hari ini. Bukan rapat, bukan liputan, bukan pula dinamika operasional haji, melainkan sebotol air minum.

Malam itu, selepas shalat Isya di Masjid Nabawi, suasana pelataran masjid masih ramai oleh jemaah dari berbagai negara. Sebagian berjalan menuju hotel, sebagian lagi memilih duduk menikmati malam Madinah yang mulai terasa sejuk setelah seharian diselimuti panas matahari.

Saibansah saat itu berjalan bersama Brata Manggala, sesama petugas MCH Daker Madinah. Di tangannya tergenggam sebuah botol plastik berisi air minum yang tinggal tersisa sebagian.

Tiba-tiba seorang perempuan tua menghampirinya. Perempuan itu datang seorang diri. Wajahnya terlihat lelah. Tidak banyak bicara. Tatapannya justru tertuju pada botol yang sedang dipegang Saibansah.

Awalnya Saibansah mengira perempuan itu ingin menanyakan sesuatu. Namun ternyata tidak. Perempuan itu hanya menunjuk botol air minum di tangannya.

"Saya ambilkan air di Masjid Nabawi ya, Bu?" tawar Saibansah.

Di sekitar mereka, gentong air zamzam tersedia di banyak titik. Mengambilkan air baru tentu bukan perkara sulit. Tetapi perempuan itu menggeleng pelan.

"Tidak usah. Itu saja, Pak," jawabnya sambil tetap menunjuk sisa air minum di tangan Saibansah.
Saibansah sempat terdiam. Permintaan itu terasa ganjil. Mengapa perempuan itu memilih meminta sisa air minum miliknya, bukan mengambil air yang tersedia begitu banyak di sekitar Masjid Nabawi?

Namun ia tidak banyak bertanya. Perlahan ia menuangkan sisa air tersebut ke dalam botol plastik yang dibawa perempuan itu. Belum sempat percakapan lain terjadi, perempuan tersebut langsung meminum air itu hingga habis. Selesai. Sesederhana itu. Bahkan Saibansah tidak sempat menanyakan nama perempuan tersebut. Namun entah mengapa, peristiwa singkat itu terus tinggal di dalam ingatannya.

Pengalaman serupa kembali terjadi. Kali ini di Masjidil Haram. Saat menjalani Tawaf Wada, di antara putaran-putaran yang kini bahkan sudah tidak lagi ia ingat jumlahnya, seorang pria berwajah khas India tiba-tiba memerhatikan botol air zamzam yang berada di tangannya.

Botol itu tidak penuh. Isinya tinggal sekitar setengah. Pria tersebut tidak berbicara banyak. Ia hanya menunjuk botol itu dengan pandangan yang seolah meminta izin.

"Saya berikan saja sisa air minum saya itu," kenang Saibansah.

Lelaki itu menerimanya dengan wajah yang sulit dilupakan. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada perkenalan. Tidak ada foto bersama. Hanya perjumpaan singkat antara dua orang asing yang dipertemukan oleh setengah botol air zamzam.

Anehnya, peristiwa serupa terjadi lagi saat ia menjalani sa'i. Di tengah arus jemaah yang bergerak antara Shafa dan Marwah, seorang perempuan berwajah khas India yang duduk di kursi roda mengangkat tumblr plastik ke arah Saibansah. Ia tidak banyak bicara. Hanya memberi isyarat sederhana yang segera dipahami. Ia kehausan dan meminta dibawakan air zamzam.

Sekali lagi, pertemuan itu berlangsung singkat. Namun ketika ketiga peristiwa itu diingat kembali, Saibansah merasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika biasa. Mengapa berulang kali ia dipertemukan dengan orang-orang yang membutuhkan air? Mengapa bukan orang lain? Mengapa selalu air minum? Sampai hari ini ia tidak memiliki jawabannya.

Mungkin itu hanya kebetulan. Mungkin juga sebuah pelajaran yang sedang diajarkan Allah dengan cara yang sangat sederhana. Bahwa di Tanah Suci, berbagi tidak selalu berarti memberi sesuatu yang besar. Kadang hanya seteguk air. Kadang hanya sisa air di dalam botol plastik. Namun bagi orang yang membutuhkan, seteguk air itu bisa menjadi bentuk pertolongan yang tidak ternilai.

Seorang perempuan tua di pelataran Masjid Nabawi yang meminta sisa air minumnya. Seorang lelaki berwajah India yang meminta setengah botol air zamzam saat Tawaf Wada. Dan seorang perempuan di kursi roda yang meminta dibawakan air zamzam ketika sa'i. Tiga orang yang berbeda. Tiga tempat yang berbeda. Tiga peristiwa yang tidak saling berkaitan. Tetapi semuanya memiliki satu benang merah yang sama: air.

Saibansah tidak pernah benar-benar tahu apa makna dari rangkaian peristiwa tersebut. Apakah itu sekadar kebetulan? Ataukah ada pesan yang sedang Allah titipkan melalui cara-cara yang sangat sederhana? Ia tidak berani menyimpulkannya.

Kadang-kadang, pikirnya, Allah tidak selalu mengajarkan sesuatu melalui peristiwa besar. Tidak selalu melalui ceramah panjang atau nasihat yang menggetarkan hati. Ada kalanya pelajaran datang melalui hal-hal kecil yang nyaris luput dari perhatian. Melalui seteguk air. Melalui sebotol zamzam. Melalui seseorang yang membutuhkan pertolongan sederhana.

"Entah apa arti dari pengalaman-pengalaman tersebut," ujarnya.

"Apakah itu isyarat dari Allah SWT bahwa saya harus lebih banyak lagi berbagi sumber kehidupan? Entahlah. Wallahu A'lam bishawab."

Kalimat itu tidak lahir sebagai kesimpulan, melainkan sebagai perenungan. Selama bertugas di Tanah Suci, Saibansah belajar bahwa tidak semua hal harus dijawab. Ada pengalaman yang memang dibiarkan tinggal di dalam hati, menjadi pengingat bahwa kebaikan terkadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Sesederhana memberikan air kepada orang yang sedang membutuhkan.

Ibadah yang Bernama Pelayanan

Musim haji akan berakhir. Pada 2 Juli 2026, Saibansah akan kembali ke Indonesia setelah hampir tiga bulan menjalankan tugas di Tanah Suci. Ia akan pulang dengan ribuan foto, ratusan catatan, dan puluhan cerita yang mungkin tidak akan pernah selesai diceritakan.

Namun lebih dari itu, ia akan pulang dengan pemahaman baru tentang makna pelayanan. Bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji bukan hanya ditentukan oleh sistem yang baik, melainkan oleh ketulusan orang-orang yang bekerja di balik layar. Bahwa melayani jemaah bukan sekadar tugas administratif. Bahwa membantu orang lain beribadah juga merupakan ibadah itu sendiri.

Di antara jutaan manusia yang datang memenuhi panggilan Allah, ada sebagian kecil orang yang dipilih untuk menjadi pelayan bagi para tamu-Nya. Dan bagi Cak Iban, kesempatan menjadi bagian dari kelompok kecil itu adalah anugerah yang sulit diukur dengan apa pun.

"Alhamdulillah, saya bisa menjalankan tugas melayani jemaah haji selama dua bulan lebih dan menerima bonus menunaikan ibadah haji," tuturnya.

"Sungguh ini nikmat yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Ini adalah pencapaian tertinggi saya sebagai wartawan."

Pria yang puluhan tahun menghabiskan hidupnya menuliskan kisah orang lain itu akhirnya membawa pulang satu cerita yang sangat personal. Sebagai wartawan, Saibansah Dardani terbiasa menuliskan kisah orang lain. Namun musim haji tahun ini memberinya satu cerita yang sangat personal.

Bahwa di antara jutaan manusia yang datang memenuhi panggilan Allah, ada sebagian kecil orang yang dipilih untuk melayani mereka. Dan sering kali, pengabdian itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: menunjukkan arah kepada yang tersesat, menemani yang kebingungan, atau sekadar berbagi seteguk air kepada orang yang membutuhkan.*

Sumber: https://totalpolitik.com/2026/06/16/kisah-petugas-haji-saibansah-dardani-dan-seteguk-air/

Editor: Gokli