Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Sejak Perjanjian Paris, Bank Global Kucurkan USD 8,7 Triliun untuk Bahan Bakar Fosil
Oleh : Redaksi
Selasa | 23-06-2026 | 14:48 WIB
BOCC-2026.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pembiayaan industri bahan bakar fosil oleh sektor perbankan global masih menunjukkan tren peningkatan meski dunia terus mendorong transisi menuju energi bersih. Laporan terbaru Banking on Climate Chaos (BOCC) 2026 mengungkapkan bahwa 65 bank terbesar di dunia telah menyalurkan dana sebesar USD 8,7 triliun kepada sektor minyak, gas, dan batu bara sejak Perjanjian Paris ditandatangani pada 2015.

Dalam laporan yang dirilis pada 8 Juni 2026 tersebut, nilai pembiayaan bahan bakar fosil sepanjang 2025 mencapai USD 906 miliar atau meningkat 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu mendekati USD 1 triliun dalam satu tahun dan menjadi salah satu yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

JPMorgan Chase kembali tercatat sebagai bank dengan pembiayaan bahan bakar fosil terbesar di dunia. Sepanjang 2025, bank asal Amerika Serikat itu menyalurkan dana sebesar USD 58 miliar kepada perusahaan-perusahaan energi fosil, naik 12,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di posisi berikutnya terdapat Bank of America dan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) dari Jepang yang masing-masing membiayai sektor tersebut sebesar USD 47 miliar. MUFG bahkan mencatat kenaikan pembiayaan hingga 21 persen dalam satu tahun.

Laporan BOCC juga menyoroti dominasi kelompok "Dirty Dozen", yakni 12 bank terbesar yang saat ini menyumbang hampir 40 persen dari seluruh pembiayaan bahan bakar fosil global. Padahal, secara keseluruhan terdapat sekitar 2.000 bank yang terlibat dalam aktivitas pembiayaan sektor energi di dunia.

Tidak hanya itu, pembiayaan kepada perusahaan yang melakukan ekspansi bisnis bahan bakar fosil meningkat 27 persen menjadi USD 508 miliar pada 2025. Tren tersebut dinilai bertolak belakang dengan target global untuk membatasi kenaikan suhu bumi hingga 1,5 derajat Celsius.

Direktur Riset Rainforest Action Network sekaligus salah satu penulis laporan, Niko Lusiani, menilai dominasi segelintir bank dalam pembiayaan energi fosil menunjukkan bahwa masalah tersebut tidak lagi sekadar persoalan mekanisme pasar.

"Sepuluh tahun setelah Perjanjian Paris, kini hanya dua belas bank yang menggerakkan lebih dari sepertiga pembiayaan bahan bakar fosil di dunia. Ini menunjukkan bahwa persoalan ini bukan lagi masalah pasar, melainkan pilihan yang dibuat oleh sekelompok kecil pengambil keputusan," ujar Lusiani.

Menurut laporan tersebut, pangsa pembiayaan bank-bank Amerika Serikat terhadap sektor bahan bakar fosil meningkat menjadi 32 persen dari total pembiayaan global, naik dibandingkan 28 persen pada 2021. Sementara itu, sejumlah bank Eropa mulai menunjukkan tren penurunan pembiayaan, meski tidak merata di seluruh kawasan.

BNP Paribas tercatat mengurangi pembiayaan bahan bakar fosil sebesar 28 persen, UBS turun 36 persen, dan La Caixa berkurang 34 persen. Sebaliknya, Standard Chartered meningkatkan pembiayaannya sebesar 28 persen, Deutsche Bank 20 persen, dan HSBC 16 persen.

Laporan tersebut juga mengaitkan tingginya ketergantungan terhadap energi fosil dengan meningkatnya tekanan biaya hidup global. Konflik geopolitik, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah, disebut memperlihatkan bagaimana pasokan energi fosil dapat memicu gejolak ekonomi dan kenaikan harga energi di berbagai negara.

Direktur Eksekutif Center for Energy, Ecology and Development, Gerry Arances, menegaskan bahwa ketergantungan pada energi fosil justru memperbesar risiko ekonomi dan lingkungan. "Krisis energi fosil pada dekade ini membuktikan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil bukanlah keamanan energi, melainkan kerentanan struktural. Setiap dolar yang masih mengalir ke ekspansi bahan bakar fosil merupakan ancaman bagi masyarakat yang paling rentan terhadap perubahan iklim," kata Arances.

Dari sisi sektor usaha, pembiayaan terbesar mengalir ke ekspansi infrastruktur midstream dan gas metana yang melonjak 84 persen menjadi USD 116 miliar pada 2025. Sementara itu, pembiayaan ekspansi pertambangan batu bara meningkat 77 persen menjadi USD 84 miliar, dan pembiayaan ekspansi pembangkit listrik batu bara naik 40 persen hingga mencapai USD 81 miliar.

Para penyusun laporan menilai berbagai komitmen sukarela yang selama ini diumumkan industri perbankan belum mampu menekan aliran dana ke sektor bahan bakar fosil. Mereka mendesak pemerintah dan regulator untuk menerapkan kebijakan yang lebih tegas guna mempercepat transisi energi dan mengurangi risiko krisis iklim di masa depan.

Editor: Gokli