Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Konflik Timur Tengah Mereda, IMF Ingatkan Risiko Fiskal
Oleh : Redaksi
Minggu | 21-06-2026 | 19:08 WIB
IMF5.jpg Honda-Batam
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mengingatkan pemerintah di berbagai negara untuk tetap berhati-hati dalam mengelola kebijakan fiskal, meski ketegangan di Timur Tengah mulai menunjukkan tanda mereda.

IMF menilai sejumlah kebijakan subsidi dan pengendalian harga energi yang diterapkan selama periode konflik berpotensi membebani anggaran negara jika tidak segera disesuaikan ketika situasi kembali normal.

Dalam catatan terbarunya yang dikutip Minggu (21/6/2026), IMF menyebut banyak negara merespons lonjakan harga energi dan pangan akibat perang dengan kebijakan yang membutuhkan pembiayaan besar.

Konflik yang berlangsung lebih dari tiga bulan itu dinilai telah mempersempit ruang fiskal dan mengurangi fleksibilitas pemerintah dalam menghadapi guncangan ekonomi berikutnya.

Lembaga tersebut mencatat berbagai negara berupaya melindungi masyarakat dan dunia usaha dari dampak kenaikan harga.

Namun, evaluasi awal IMF menunjukkan banyak kebijakan yang diterapkan belum sepenuhnya tepat sasaran dan berisiko menimbulkan beban fiskal tinggi di tengah keterbatasan anggaran.

IMF juga menyoroti bahwa jika proses perdamaian menghasilkan normalisasi pasokan energi dan harga kembali ke tren historis, maka tantangan utama pemerintah adalah mengakhiri berbagai bentuk dukungan seperti subsidi secara bertahap.

Menurut IMF, hampir 900 kebijakan telah diterapkan di sekitar 170 negara sejak konflik dimulai, baik di negara maju maupun berkembang.

Sebagian besar kebijakan tersebut berbentuk intervensi fiskal untuk menahan lonjakan harga energi agar tidak langsung menekan rumah tangga dan pelaku usaha.

Di Indonesia, kebijakan serupa tercermin dari upaya menjaga harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar selama fase awal konflik.

Sementara itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax baru dilakukan sekitar 100 hari setelah perang berlangsung, dengan kenaikan mulai berlaku pada 10 Juni 2026.

IMF menilai pola kebijakan tersebut mirip dengan respons global saat krisis energi 2022. Namun, tingkat risiko dan karakter gangguan energi di setiap negara berbeda, sehingga pendekatan kebijakan tidak selalu bisa diseragamkan.

Dari sisi fiskal, IMF menekankan bahwa kebijakan pengendalian harga memang bertujuan melindungi masyarakat dan pelaku usaha dari lonjakan biaya.

Namun, jika terus dipertahankan, kebijakan tersebut dapat berubah menjadi beban jangka panjang bagi anggaran negara.

Subsidi yang awalnya bersifat sementara juga dinilai berisiko menjadi permanen apabila terus diperpanjang.

Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan fiskal jika harga energi bertahan tinggi dalam jangka waktu lama.

IMF menegaskan pemerintah pada akhirnya akan dihadapkan pada dua pilihan, yakni membiarkan harga mengikuti mekanisme pasar atau menanggung selisih biaya melalui anggaran negara.

Banyak negara saat ini masih memilih menahan harga untuk meredam dampak ke masyarakat.

Meski demikian, IMF menilai langkah tersebut memiliki konsekuensi berupa meningkatnya biaya fiskal serta distorsi insentif, terutama jika pada akhirnya harga kembali normal.

Karena itu, lembaga tersebut merekomendasikan agar penyesuaian harga dilakukan secara bertahap dengan perlindungan yang lebih tepat sasaran bagi kelompok rentan.

IMF juga menekankan pentingnya peralihan menuju kebijakan yang lebih berkelanjutan, meski secara politik tidak selalu mudah diterapkan.

Dalam kondisi ketidakpastian global, kesiapan fiskal dinilai sama pentingnya dengan respons cepat pemerintah.

“Prinsip utamanya adalah melindungi masyarakat, bukan mempertahankan harga,” demikian penegasan IMF dalam laporannya.

Editor: Surya