Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Perumda Tirta Kepri Peduli Warga Kecil, Lansia Sakti Indrawan Bersyukur Tunggakan Air Rp 711 Ribu Dinyatakan Lunas
Oleh : Harjo
Kamis | 11-06-2026 | 14:28 WIB
Sakti-Indrawan.jpg Honda-Batam
Sakti Indrawan --Lansia yang tinggal di Kelurahan Tanjunguban Kota, Kecamatan Bintan Utara-- akhirnya bisa menghela napas lega setelah persoalan tagihan air yang membengkak hingga Rp 711 ribu dinyatakan selesai oleh Perumda Tirta Kepri Tanjunguban. (Foto: Harjo)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Wajah Sakti Indrawan tampak lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Lansia yang tinggal di Kelurahan Tanjunguban Kota, Kecamatan Bintan Utara, itu akhirnya bisa menghela napas lega setelah persoalan tagihan air yang membengkak hingga Rp 711 ribu dinyatakan selesai oleh Perumda Tirta Kepri Tanjunguban.

Bagi Sakti dan istrinya, angka ratusan ribu Rupiah bukan sekadar nominal dalam lembar tagihan. Di tengah usia yang tak lagi muda dan kondisi ekonomi yang serba terbatas, tagihan tersebut sempat menjadi beban pikiran yang menghantui hari-hari mereka.

Setiap malam, Sakti mengaku sulit memejamkan mata. Kekhawatiran soal bagaimana cara melunasi tunggakan air terus menghampiri. Terlebih, selama puluhan tahun menjadi pelanggan, tagihan air yang diterimanya tidak pernah mencapai angka sebesar itu.

"Saya sempat susah tidur memikirkan tagihan air Rp 711 ribu. Selama ini tagihan air di rumah kami tidak pernah sampai Rp 100 ribu," ujar Sakti saat ditemui di kediamannya, Rabu (10/6/2026).

Selama hampir 30 tahun menempati rumah tersebut, Sakti tidak pernah menghadapi persoalan serupa. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang hanya mengandalkan hasil penjualan pecel buatan sang istri dengan penghasilan sekitar Rp 40 ribu per hari membuat tagihan itu terasa begitu berat.

Kekhawatiran semakin bertambah ketika dirinya diminta mencicil tunggakan. Di benaknya muncul pertanyaan sederhana, namun sulit dijawab: sampai kapan harus membayar utang, sementara tagihan pemakaian air terus berjalan setiap bulan?

Yang paling ditakutkan Sakti adalah kemungkinan pasokan air ke rumahnya diputus apabila tunggakan tidak kunjung terselesaikan.

Namun harapan itu datang tanpa diduga. Pada Rabu pagi, petugas Perumda Tirta Kepri Tanjunguban mendatangi rumahnya dan menyampaikan kabar yang membuat dirinya terharu. Tunggakan yang selama ini membebaninya dinyatakan lunas setelah ditanggung oleh Direktur Perumda Tirta Tanjunguban.

Tidak hanya itu, uang cicilan sebesar Rp 100 ribu yang sebelumnya telah disetorkan juga dikembalikan. Dana tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Perumda Tirta Tanjunguban, Sugito.

Bagi Sakti, keputusan tersebut bukan hanya soal pelunasan tagihan. Lebih dari itu, ia melihat adanya kepedulian dari pemimpin yang memahami kondisi masyarakat kecil.

Ia mengaku bersyukur karena masih ada pengambil kebijakan yang tidak hanya melihat persoalan dari sisi administrasi dan angka-angka semata, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial dan kemampuan ekonomi masyarakat.

"Kami mengapresiasi pimpinan yang peka terhadap kondisi masyarakat kecil. Semoga kepedulian seperti ini tidak harus menunggu ramai dibicarakan atau viral terlebih dahulu," katanya.

Sakti berharap semangat kepedulian tersebut dapat terus tumbuh di lingkungan pelayanan publik. Menurutnya, setiap persoalan yang dihadapi masyarakat seharusnya disikapi dengan pendekatan yang manusiawi dan berorientasi pada solusi.

Di sisi lain, peristiwa yang dialami Sakti juga menjadi catatan penting bagi Perumda Tirta Tanjunguban untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.

Tokoh pemuda Seri Kuala Lobam, M Dragon, menilai kasus tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar pelayanan kepada pelanggan semakin baik. Menurutnya, perusahaan tidak hanya perlu memperhatikan administrasi penagihan, tetapi juga memastikan kondisi infrastruktur dan jaringan distribusi air tetap terpelihara dengan baik.

"Instalasi air harus dirawat secara berkala. Jangan hanya fokus pada pencatatan pemakaian dan penagihan. Pengawasan terhadap jaringan dan kinerja petugas juga perlu ditingkatkan," ujarnya.

Ia menambahkan, tidak semua pelanggan memahami persoalan teknis yang terjadi pada jaringan distribusi air. Karena itu, setiap keluhan perlu ditelusuri secara menyeluruh sebelum menyimpulkan penyebab masalah.

"Perlu dicari akar persoalannya terlebih dahulu. Jangan mudah menyalahkan pelanggan. Yang dibutuhkan adalah solusi yang adil dan memberikan manfaat bagi semua pihak," tegasnya.

Kisah Sakti Indrawan menjadi gambaran bahwa pelayanan publik tidak hanya berbicara tentang aturan dan administrasi. Di balik setiap kebijakan, ada sisi kemanusiaan yang terkadang lebih dibutuhkan masyarakat.

Bagi Sakti dan istrinya, lunasnya tunggakan air itu bukan sekadar berakhirnya sebuah tagihan. Lebih dari itu, keputusan tersebut menghadirkan kembali rasa tenang yang sempat hilang dari rumah sederhana mereka di Tanjunguban.

Editor: Gokli