Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Tiga Inovasi Digital Indonesia Raih Pengakuan Dunia di WSIS Prizes 2026
Oleh : Redaksi
Kamis | 11-06-2026 | 11:48 WIB
wsis-2026.jpg Honda-Batam
Wamenkomdigi Nezar Patria, saat menerima audiensi nomine WSIS Prizes 2026 di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026). (Komdigi)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Tiga inovasi digital asal Indonesia berhasil meraih pengakuan internasional dalam ajang The World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2026 yang diselenggarakan oleh International Telecommunication Union (ITU) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ketiga inovasi tersebut dinilai mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat melalui perluasan akses pendidikan, penguatan keamanan siber, serta upaya melawan penyebaran hoaks di ruang digital.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa transformasi digital di Indonesia semakin berkembang dan mampu menghadirkan layanan yang berdampak langsung bagi masyarakat. "Saya melihat nomine dan pemenang WSIS tahun ini memiliki kualitas yang semakin kuat dibandingkan tiga tahun terakhir," ujar Nezar saat menerima audiensi nomine WSIS Prizes 2026 di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026).

Dalam ajang tersebut, Indonesia berhasil menempatkan tiga inovasi terbaik di antara 90 WSIS Champions 2026 yang terpilih dari berbagai negara di dunia.

Tiga inovasi yang berhasil masuk jajaran champion tersebut adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta Rumah Pendidikan dan Anugerah Bug Bounty yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen).

Nezar menilai keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan instansi pemerintah dalam memanfaatkan teknologi digital untuk menghadirkan layanan publik yang lebih efektif, mudah diakses, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. "Inovasi yang dihadirkan sangat baik, bermanfaat, dan memiliki dampak nyata dalam mendorong transformasi digital layanan publik," katanya.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian khusus adalah Jalahoaks. Platform ini dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya ancaman misinformasi dan disinformasi yang berkembang pesat seiring kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau generative artificial intelligence (AI).

Menurut Nezar, perkembangan teknologi AI membuat konten hoaks semakin sulit dibedakan dari informasi yang autentik sehingga masyarakat membutuhkan instrumen verifikasi yang kredibel. "Hoaks semakin canggih, terutama dengan hadirnya teknologi generative AI yang mampu menghasilkan informasi palsu yang sangat mirip dengan fakta sebenarnya," ujarnya.

Karena itu, keberadaan platform seperti Jalahoaks dinilai penting untuk meningkatkan literasi digital dan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap penyebaran informasi palsu.

Selain itu, Nezar juga mengapresiasi program Anugerah Bug Bounty yang dinilai berkontribusi dalam memperkuat ekosistem keamanan siber nasional. Program tersebut melibatkan para white hacker untuk mengidentifikasi celah keamanan pada sistem digital sekaligus mendorong pemanfaatan kemampuan teknologi secara positif.

"Program ini tidak hanya membantu mendeteksi kerentanan sistem, tetapi juga mengarahkan talenta digital muda agar memanfaatkan kemampuannya untuk hal-hal yang produktif," katanya.

Sementara itu, platform Rumah Pendidikan dinilai menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam membangun ekosistem pendidikan digital yang terintegrasi dan inklusif. Kehadiran platform tersebut diharapkan mampu memperluas akses layanan pendidikan bagi masyarakat di berbagai daerah.

Nezar berharap keberhasilan tiga inovasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah lainnya untuk terus menghadirkan terobosan digital yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. "Keberhasilan ini membuktikan bahwa transformasi digital dan adopsi teknologi maju telah berjalan di berbagai sektor di Indonesia," ujarnya.

Ia juga berharap para perwakilan inovasi Indonesia dapat hadir secara langsung dalam seremoni penghargaan WSIS Prizes 2026 yang akan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada pekan pertama Juli 2026.

Pada WSIS Prizes 2026, sebanyak 1.596 inovasi digital dari 122 negara berpartisipasi. Proses seleksi melibatkan lebih dari 2,2 juta suara publik yang kemudian diverifikasi oleh para pakar WSIS hingga menghasilkan 90 champion terbaik, termasuk tiga inovasi dari Indonesia.

Pemerintah optimistis salah satu inovasi Indonesia mampu meraih predikat Winner WSIS Prizes 2026, yang akan diumumkan dalam rangkaian WSIS Forum di Jenewa bulan depan.

Editor: Gokli