Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

IKA Unpad Bentuk Forum Ekonomi Hijau, Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
Oleh : Redaksi
Selasa | 02-06-2026 | 18:08 WIB
Ekonomi-Hijau.jpg Honda-Batam
Ekonomi Hijau. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketidakpastian ekonomi global, gagasan ekonomi hijau semakin menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi wacana akademik. Indonesia kini berada di titik penting untuk menentukan arah
pembangunan masa depan, pilihannya tetap bertumpu pada pola ekonomi lama yang eksploitatif,
atau mulai bertransisi menuju model pembangunan yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan
resilien.

Kesadaran inilah yang mendorong Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad)
menginisiasi lahirnya Forum Ekonomi Hijau (FEH), sebuah forum kolaboratif lintas sektor untuk
memperkuat dialog, gagasan, dan sinergi menuju pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Forum ini akan diluncurkan pada 17 Juni 2026 di Jakarta dan menghadirkan sejumlah tokoh
nasional, akademisi, pengambil kebijakan, pelaku industri, serta komunitas masyarakat sipil.

Secara global, konsep ekonomi hijau telah menjadi perhatian utama banyak negara. United
Nations Environment Programme (UNEP) mendefinisikan ekonomi hijau sebagai "ekonomi yang
meningkatkan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial, sambil secara signifikan mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis."

Definisi tersebut menjadi fondasi berbagai kebijakan ekonomi hijau sejak awal dipublikasikan melalui laporan Towards a Green Economy pada 2011.

World Bank juga memperkenalkan pendekatan ekonomi yang dikenal dengan inclusive green
growth, yakni ekonomi yang efisien dalam penggunaan sumber daya alam, minim polusi, serta
tangguh menghadapi perubahan lingkungan dan risiko bencana. Meski memiliki pendekatan
berbeda, hampir seluruh konsep ekonomi hijau memiliki benang merah yang sama,
pertumbuhan ekonomi harus tetap berjalan, namun tanpa mengorbankan lingkungan dan masa
depan generasi mendatang.

Dalam konteks Indonesia, urgensi ekonomi hijau menjadi semakin nyata. Indonesia memiliki
kekayaan sumber daya alam, hutan tropis, potensi energi baru terbarukan, serta bonus demografi
yang dapat menjadi modal besar menuju ekonomi masa depan. Namun di sisi lain, Indonesia juga
menghadapi ancaman serius berupa banjir, krisis air, polusi udara, kerusakan hutan, cuaca
ekstrem, hingga ketergantungan ekonomi pada eksploitasi sumber daya alam mentah.

Ketua Dewan Pembina IKA Unpad Dr. (HC) Ir. Burhanuddin Abdullah, M.A., menilai bahwa
Indonesia tidak lagi memiliki banyak waktu untuk menunda transformasi menuju ekonomi
berkelanjutan. "Biaya mempertahankan model pembangunan lama hari ini sebenarnya sudah
jauh lebih mahal dibandingkan biaya untuk bertransisi menuju ekonomi hijau. Kita harus melihat
ekonomi hijau bukan sebagai beban, tetapi sebagai peluang besar menciptakan pertumbuhan
ekonomi baru, lapangan kerja baru, sekaligus menjaga keberlanjutan bangsa," ujarnya.

Menurut Burhanuddin, transisi menuju ekonomi hijau juga akan menentukan daya saing
Indonesia di tingkat global. Dunia internasional saat ini semakin menuntut praktik pembangunan
dan industri yang lebih rendah karbon, lebih efisien dalam penggunaan energi, dan lebih
bertanggung jawab terhadap lingkungan. "Ke depan, negara yang mampu beradaptasi dengan
ekonomi hijau justru akan menjadi pemenang ekonomi dunia. Indonesia punya modal besar
untuk itu, tetapi dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar transformasi ini tidak berjalan parsial,"
jelas Burhanuddin Abdullah.

Gagasan mengenai pentingnya kolaborasi lintas sektor inilah yang kemudian menjadi dasar
lahirnya Forum Ekonomi Hijau. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat IKA Unpad, Yhodhisman
Soratha, S.IP., M.H., menjelaskan bahwa forum ini diinisiasi sebagai ruang strategis untuk
mempertemukan berbagai perspektif dalam merumuskan masa depan pembangunan Indonesia.

"Forum Ekonomi Hijau diharapkan menjadi ruang dialog yang terbuka dan produktif antara
pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga generasi muda. Tantangan keberlanjutan
tidak mungkin diselesaikan oleh satu sektor saja," kata Yhodhisman.

Ia menambahkan, pada tahap awal Forum Ekonomi Hijau akan diluncurkan sebagai bagian dari
ekosistem IKA Unpad. Namun dalam jangka panjang, forum ini diharapkan dapat berkembang
menjadi platform independen yang membuka ruang diskusi publik lebih luas mengenai kebijakan
hijau, inovasi berkelanjutan, serta transformasi ekonomi Indonesia. "IKA Unpad ingin mengambil
peran strategis sebagai katalisator kolaborasi. Kampus memiliki kekuatan pengetahuan, alumni
memiliki jejaring lintas sektor, dan masyarakat membutuhkan ruang diskusi yang sehat mengenai
masa depan pembangunan kita," lanjutnya.

Peluncuran Forum Ekonomi Hijau nantinya juga akan menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan
pakar untuk berdiskusi mengenai formula terbaik penerapan ekonomi hijau di Indonesia. Di
antaranya Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si., Menteri Koperasi RI sekaligus Ketua Umum IKA
Unpad; Purbaya Yudhi Sadewa, S.T., M.Sc., Ph.D., Menteri Keuangan RI; Drs. Moh. Jumhur
Hidayat, M.Si., Menteri Lingkungan Hidup RI; Dr. Tasdiyanto Rohadi, Dewan Pakar Bidang
Lingkungan Hidup IKA Unpad; Prof. Dr. Ir. Laode Masihu Kamaluddin, M.Sc., M.Eng., Alumni
MIPA Unpad/Mantan Rektor UICI; dan Masyita Crystalin, Ph.D, Head of Economics, Portfolio
Alignment & Sustainability. Danantara Indonesia, serta sejumlah pakar lainnya.

Ketua Pelaksana Forum Ekonomi Hijau sekaligus Corporate Transformation Group Head PT
Angkasa Pura Indonesia, Dr. Ferdian Agustiana, menilai bahwa pembicaraan mengenai
ekonomi hijau harus mulai diterjemahkan menjadi langkah nyata dan terukur. "Selama ini kita
sering berbicara tentang keberlanjutan dalam level konsep. Padahal tantangan yang kita hadapi
sudah sangat konkret. Karena itu Forum Ekonomi Hijau ingin mendorong lahirnya diskusi yang
lebih aplikatif, kolaboratif, dan menghasilkan rekomendasi nyata," ujarnya.

Ferdian juga menekankan bahwa ekonomi hijau tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi
juga tentang kualitas hidup masyarakat dan masa depan ekonomi nasional. "Ekonomi hijau
bukan berarti menghentikan pertumbuhan ekonomi. Justru sebaliknya, ini tentang bagaimana
pertumbuhan ekonomi dapat berjalan lebih cerdas, lebih efisien, lebih inklusif, dan tidak
menciptakan biaya lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya," katanya.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam
ekonomi hijau global apabila mampu memanfaatkan momentum transisi energi, pengembangan
industri hijau, hilirisasi berkelanjutan, hingga inovasi berbasis teknologi ramah lingkungan.
Melalui Forum Ekonomi Hijau, IKA Unpad berharap lahir lebih banyak diskusi, kolaborasi, dan
gerakan bersama untuk mendorong pembangunan Indonesia yang tidak hanya bertumbuh
secara ekonomi, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial dan
tata kelola Environmental, Social, and Governance/ESG untuk keberlanjutan jangka panjang.

"Peluncuran forum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan pembangunan tidak
dapat diukur hanya dari angka pertumbuhan ekonomi semata. Di tengah tantangan perubahan
iklim dan ketidakpastian global, keberhasilan sebuah bangsa juga ditentukan oleh kemampuan
menjaga bumi tetap layak dihuni bagi generasi mendatang," pungkas Yhodisman.

Editor: Yudha