Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Perayaan Waisak 2026 di Borobudur, Menag Ajak Dunia Tinggalkan Kebencian dan Wujudkan Perdamaian
Oleh : Redaksi
Selasa | 02-06-2026 | 11:28 WIB
waisak-2026.jpg Honda-Batam
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, saat menghadiri puncak Perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) Tahun 2026 di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026). (Kemenag)

BATAMTODAY.COM, Mangelang - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyerukan pesan perdamaian dan cinta kasih kepada masyarakat dunia saat menghadiri puncak Perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) Tahun 2026 di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Menag mengajak seluruh umat manusia untuk bersama-sama menghentikan berbagai konflik, peperangan, dan tindakan kekerasan yang hingga kini masih terjadi di berbagai belahan dunia akibat egoisme, keserakahan, dan kebencian.

"Dalam memaknai perayaan Waisak ini, dari pelataran Candi Borobudur, mari kita serukan perdamaian kepada dunia," ujar Nasaruddin di hadapan ribuan umat Buddha yang mengikuti rangkaian perayaan Waisak Nasional.

Menurutnya, salah satu langkah penting dalam mewujudkan perdamaian adalah menghilangkan kebencian yang kerap menjadi pemicu konflik berkepanjangan. Menag mengutip ajaran Sang Buddha dalam Kitab Suci Dhammapada yang menegaskan bahwa kebencian tidak akan pernah berakhir jika dibalas dengan kebencian.

Ia menekankan bahwa cinta kasih merupakan jalan untuk mengakhiri permusuhan dan menciptakan kehidupan yang harmonis. "Kebencian hanya dapat diakhiri dengan cinta kasih. Itulah hukum abadi yang diajarkan Sang Buddha," katanya.

Dalam pidatonya, Nasaruddin juga menyoroti kondisi kerukunan umat beragama di Indonesia yang dinilai terus menunjukkan perkembangan positif. Hal itu tercermin dari Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang hingga saat ini berada pada angka di atas 76, menunjukkan tingkat toleransi dan kohesi sosial yang kuat di tengah masyarakat yang majemuk.

Menurut Menag, tingginya indeks tersebut menjadi indikator bahwa masyarakat Indonesia semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan serta mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman agama, budaya, dan suku bangsa. "Perayaan Waisak di Borobudur hari ini menjadi bukti nyata bahwa tingginya indeks kerukunan tersebut mencerminkan kesadaran kolektif bangsa Indonesia yang semakin inklusif, bijaksana, dan menghargai keberagaman," ujarnya.

Perayaan Waisak Nasional 2570 BE yang dipusatkan di Candi Borobudur kembali memperlihatkan wajah Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah mengikuti seluruh rangkaian ibadah dan prosesi Waisak dengan khidmat.

Momentum tersebut sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu contoh harmoni keberagaman di tingkat global, di mana perbedaan keyakinan dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang damai, rukun, dan sejahtera.

Melalui semangat Waisak, Menag berharap nilai-nilai cinta kasih, toleransi, dan persaudaraan terus tumbuh di tengah masyarakat serta menjadi inspirasi dalam menciptakan perdamaian, baik di tingkat nasional maupun dunia.

Editor: Gokli