Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menag Harap Waisak Bukan Sekadar Perayaan Keagamaan, Tapi Momentum Refleksikan Nilai-nilai Kemanusiaan
Oleh : Redaksi
Minggu | 31-05-2026 | 14:32 WIB
Menag_Wasiak.jpg Honda-Batam
Menteri Agama Nasaruddin Umar (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Di tengah dunia yang terus bergolak, Menteri Agama Nasaruddin Umar memanggil kembali satu kata kuno yang ternyata menyimpan jawaban paling relevan hari raya Waisak, yakni dharma. Bukan sebagai dogma, melainkan sebagai cahaya hidup.

Pada saat ribuan umat Buddha memusatkan perhatian ke Candi Borobudur untuk merayakan tri suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE), sebuah pesan tentang perdamaian justru datang dari sosok yang selama ini identik dengan imam besar Masjid Istiqlal.

Nasaruddin Umar mengajak seluruh masyarakat Indonesia menjadikan Waisak bukan sekadar perayaan keagamaan belaka.
 
Melainkan momentum untuk merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui batas agama, suku, dan identitas.

Menurut Nasaruddin, inti ajaran Dharma yang diperingati dalam Waisak memiliki relevansi besar bagi kehidupan modern yang dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari konflik sosial, polarisasi, hingga ketegangan global.

"Dharma bukan sekadar ajaran, melainkan pelita kehidupan yang menuntun manusia untuk tetap teguh dalam nilai-nilai kebenaran, moralitas, dan kebijaksanaan di tengah dinamika zaman. Termasuk menjaga perdamaian dunia," ujar Nasaruddin dalam pesan Waisak 2570 BE  seperti dikutip dari Beritasatu, Minggu (31/5/2026).

Bagi Nasaruddin, pesan utama Waisak tidak berhenti pada ritual dan seremoni. Ia melihat ajaran Buddha tentang kebijaksanaan, pengendalian diri, dan cinta kasih sebagai nilai universal yang dapat menjadi fondasi kehidupan bersama di tengah masyarakat yang majemuk.

Karena itu, Menag mengajak umat Buddha untuk terus menebarkan kebajikan, memperkuat persaudaraan, serta berperan aktif menjaga perdamaian dunia.

Menurutnya, perdamaian global tidak akan pernah tercapai tanpa dimulai dari kedamaian dalam diri setiap individu.

"Perdamaian dunia berawal dari hati yang damai, keluarga yang harmonis, dan masyarakat yang saling menghormati," ujarnya.

Dalam pesannya, Nasaruddin juga menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab konstitusional untuk menjamin setiap warga negara dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinannya dengan aman dan nyaman.

Ia mengutip amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan komitmen Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

"Saya memiliki tanggung jawab konstitusional untuk memastikan setiap warga negara dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang dan penuh khidmat. Pada saat yang sama, merawat harmoni adalah tanggung jawab kita bersama sebagai sesama anak bangsa," kata Nasaruddin.

Pernyataan tersebut dinilai mencerminkan semangat moderasi beragama yang selama ini menjadi salah satu agenda utama Kementerian Agama.

Di tengah meningkatnya polarisasi dan konflik identitas di berbagai belahan dunia, Nasaruddin menilai keberagaman justru harus menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan.

Ia menegaskan agama pada hakikatnya hadir untuk memuliakan manusia dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

"Agama hadir untuk memanusiakan manusia. Kebijaksanaan yang diajarkan dalam Buddha selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan universal yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Cinta kasih harus terus menjadi pondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa," ujarnya.

Menutup pesannya, Nasaruddin berharap peringatan Waisak dapat menjadi ruang refleksi bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk memperkuat toleransi, mempererat persaudaraan, serta membangun kehidupan yang lebih damai dan harmonis.

"Keberagaman bukanlah penghalang. Justru keberagaman adalah kekuatan yang menyatukan kita sebagai satu keluarga besar umat manusia," katanya.

Editor: Surya