Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Paus Leo XIV Soroti Bahaya Teknokrasi dan AI dalam Ensiklik Magnifica Humanitas
Oleh : Redaksi
Jumat | 29-05-2026 | 10:08 WIB
Magnifica-Humanitas.jpg Honda-Batam
Paus Leo XIV resmi menerbitkan ensiklik Magnifica Humanitas pada 25 Mei 2026 yang menyoroti tantangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap masa depan manusia dan peradaban modern. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Vatikan - Paus Leo XIV resmi menerbitkan ensiklik Magnifica Humanitas pada 25 Mei 2026 yang menyoroti tantangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap masa depan manusia dan peradaban modern.

Dokumen gereja tersebut tidak sekadar membahas perkembangan teknologi AI, tetapi lebih jauh mengangkat persoalan kemanusiaan, kekuasaan, ekonomi digital, hingga arah politik global di tengah dominasi teknologi modern.

Dalam ensiklik itu, Paus Leo XIV menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya dapat membawa manfaat besar bagi kehidupan manusia, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, komunikasi, hingga perlindungan sosial. Namun, ia mengingatkan bahaya muncul ketika teknologi berubah menjadi cara pandang utama dalam menilai manusia.

Menurut Paus, manusia tidak boleh dipandang hanya sebagai objek yang diukur berdasarkan efisiensi, produktivitas, atau performa semata. Ia menilai paradigma teknokrasi berpotensi menghilangkan nilai dasar manusia sebagai pribadi yang memiliki kebebasan, tanggung jawab, martabat, dan relasi sosial.

"Teknologi bukan sekadar alat, tetapi juga membawa cara tertentu dalam memahami manusia dan masyarakat," tulis Paus Leo XIV dalam ensiklik tersebut.

Dokumen itu juga menyoroti bahwa setiap algoritma, platform digital, hingga sistem otomatisasi sesungguhnya mengandung nilai moral dan politik tertentu. AI dinilai tidak pernah benar-benar netral karena memengaruhi cara manusia berpikir, bekerja, berkomunikasi, dan memahami kebenaran.

Paus Leo XIV turut mengkritik anggapan bahwa kehidupan sosial dapat sepenuhnya diatur melalui data dan perhitungan teknologi. Ia menilai masyarakat bukan mesin yang bisa dikendalikan secara total melalui algoritma atau sistem terpusat.

Dalam ensiklik tersebut, Paus menggunakan simbol "Babel" dan "Yerusalem" untuk menggambarkan dua arah peradaban manusia. Babel disebut melambangkan keseragaman, kontrol, dan dominasi tunggal teknologi, sedangkan Yerusalem merepresentasikan partisipasi bersama, tanggung jawab kolektif, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Paus menekankan pentingnya prinsip subsidiaritas, yakni keputusan publik harus diambil sedekat mungkin dengan masyarakat terdampak. Menurutnya, keluarga, komunitas lokal, organisasi sosial, dan lembaga perantara tidak boleh digantikan sepenuhnya oleh kekuasaan negara maupun korporasi teknologi besar.

Ensiklik itu juga menyoroti meningkatnya kekuatan perusahaan teknologi global yang dinilai mampu mengendalikan akses informasi, partisipasi sosial, hingga peluang ekonomi masyarakat dunia. "Di era digital, konsentrasi kekuasaan tidak hanya berada di tangan negara, tetapi juga korporasi teknologi transnasional," tulis dokumen tersebut.

Selain itu, Paus Leo XIV membahas isu keadilan sosial di tengah transformasi digital. Ia menilai ketimpangan akses teknologi, algoritma yang tidak transparan, pengawasan digital berlebihan, dan diskriminasi berbasis data dapat memperbesar kesenjangan sosial.

Meski demikian, ensiklik tersebut tidak secara langsung menawarkan program kebijakan teknis mengenai regulasi AI atau sistem ekonomi tertentu. Sebaliknya, dokumen itu lebih menekankan prinsip moral dalam menilai perkembangan teknologi.

Paus menilai transformasi digital harus diukur berdasarkan dampaknya terhadap manusia. Ia mempertanyakan apakah AI mampu memperkuat kebebasan dan tanggung jawab manusia, atau justru melemahkan peran manusia melalui otomatisasi berlebihan.

Ensiklik Magnifica Humanitas juga memberi perhatian besar terhadap dunia kerja. Paus Leo XIV menyebut pekerjaan bukan sekadar sumber pendapatan, melainkan bagian penting dari identitas, partisipasi sosial, dan panggilan hidup manusia.

Ia mengingatkan bahwa otomatisasi yang meningkatkan produktivitas tetapi membuat banyak orang kehilangan makna sosial tidak dapat dianggap sebagai kemajuan sejati.

Selain dunia kerja, Paus juga menyoroti dampak disrupsi teknologi terhadap keluarga dan generasi muda. Ketidakpastian kerja serta perubahan sosial akibat teknologi dinilai berpotensi melemahkan harapan sosial dan solidaritas antar-generasi.

Dalam bagian penutup, Paus Leo XIV mengingatkan dua bentuk kesombongan modern yang harus diwaspadai, yakni keyakinan bahwa teknologi mampu menyelesaikan seluruh persoalan manusia dan anggapan bahwa negara atau elite tertentu mampu sepenuhnya mengendalikan perubahan sosial melalui kebijakan terpusat.

Melalui Magnifica Humanitas, Paus mengajak dunia menjaga martabat manusia di tengah percepatan teknologi digital. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, kebebasan, solidaritas, serta tanggung jawab moral.

Editor: Gokli